
Hari ini Armell dan Seno memutuskan untuk pulang ke rumah mereka. Sebelum pulang ketika mereka sedang berpamitan , seperti biasa ada sebuah drama.
" Sayang, kenapa kamu harus pulang sih? Sini juga rumah kamu. " ujar nyonya Ruth ke Armell.
" Ma, kita juga butuh hidup mandiri. " jawab Seno.
" Mama nggak bicara sama kamu. Mama bicara sama anak perempuan mama. Kamu kalau mau pulang ke rumah kamu, pulang aja sana. Anak perempuan mama biar di sini sama mama. " bentak sang mama.
" Ya nggak bisa gitu dong ma. Armell kan istri El. Jadi kemanapun El pergi, dia harus ikut lah. " sahut Seno. Sesekali ia melirik istrinya. Karena sang istri sebenarnya juga masih enggan pulang. Ia betah di sana dengan papa dan mama mertuanya.
" Sayang, kamu sayang kan sama mama? " tanya Nyonya Ruth ke Armell dengan pandangan sedih.
Armell mengangguk, " Sayang banget lah ma. "
" Ya udah kalau gitu, kamu tinggal di sini saja sama mama. Biar mama nggak kesepian. Lagian kamu kalau pulang sama dia, kamu juga pasti bakalan kesepian. Mama yakin, dia bakalan kerja lembur terus. Yang ada kamu nanti di cuekin. Suruh sama pembantu doang di rumah. " rayu sang mama.
" Mama apa-apaan sih? Nggak mama...nggak papa ..Sama aja.. Bukannya mendukung biar rumah tangga anaknya bahagia. Hidup anaknya bahagia...Ini malah bikin sengsara. " protes Seno.
" Kok kamu bilangnya gitu sih. Mama sama papa jelaslah pengen anak-anak mama bahagia. Kalau kamu sampai pisah sama Lusi kan mama juga yang rugi. Ada-ada aja pikiran kamu ini. " protes sang mama.
" Baby, please bilang sama mama kalau kamu juga mau pulang sama aku ke rumah kita. " rengek Seno.
Tak tega suaminya merengek seperti itu, akhirnya Armell angkat bicara, " Ma, ijinkan kami pulang ya ma. Kasihan mas Seno kalau mau ke kantor jauh. Apalagi kalau harus mengantar Mell ke kampus dulu. Emm..., Mell janji deh sama mama, setiap akhir pekan, Mell bakalan nginep disini. "
" Beneran? Janji kamu sayang? " tanya Nyonya Ruth.
" Iya, ma. Janji. Kalaupun mas Seno nggak mau di ajak kesini, Mell akan tetap kesini. " janji Armell.
" Oke lah kalau gitu. Kamu boleh pulang sama anak nakal mama itu. " ucap sang mama.
Akhirnya Seno bisa bernafas dengan lega. Istrinya penyelamatnya. Kini Seno bisa tersenyum.
Lalu Armell segera berkemas dan lalu berpamitan dengan papa juga mama mertuanya.
Di dalam mobil, senyuman selalu terukir di bibir Seno.
" Kamu kenapa sih mas, dari tadi senyam-senyum nggak jelas gitu? " tanya Armell sambil memandang ke arah suaminya.
" Hem? " Seno menoleh sekilas ke arah Armell, lalu kembali fokus ke jalanan. " Karena aku bahagia. Aku bisa sama-sama lagi sama kamu. " lanjutnya sambil mengelus pipi Armell. Membuat Armell tersenyum simpul.
💫💫💫
Dan di sinilah mereka malam ini. Di sebuah kamar dengan lampu temaram. Setelah membereskan pakaiannya, Armell dan Seno naik ke atas ranjang dan duduk dengan posisi Armell menyandar di dada Seno, sedangkan Seno memeluk Armell dengan sebelah tangannya.
" Baby..." panggil Seno.
" Hem? " sahut Armell sambil mendongak melihat ke Seno.
" Aku penasaran sama satu hal. " ujar Seno.
" Apa itu mas? " tanya Armell.
" Waktu kemarin di kampus, pas besoknya aku datang ke rumah papa dan akhirnya menemukanmu. Aku menunggumu di depan kampusmu dari pagi sampai sore. Karena aku tidak ketemu kamu, akhirnya aku tanya sama pihak kampus, dan mereka bilang kamu baru saja keluar dari sana. Tapi anehnya beb, aku kok nggak lihat kamu. Padahal aku dan anak buahku, selalu memasang mata ke arah pintu. " ujar Seno.
" Ha...ha ..ha... Berarti penyamaranku benar-benar berhasil. " Armell tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan.
" Maksud kamu? " tanya Seno tidak mengerti.
" Waktu itu aku memang ke kampus. Tapi aku menyamar. Mama merubah penampilanku 270 derajat. Mama memang hebat. " Armell memuji mertuanya. " Sebentar, aku ambil ponselku dulu. " Armell meraih ponselnya yang ada di atas nakas sebelah tempatnya tidur.
Kemudian Armell membuka kunci ponselnya. Seno mengamatinya. " Passcode ponsel kamu tanggal kita menikah? " tanyanya.
" Heem. " Armell mengangguk dengan pandangan masih ke ponsel, menscroll file manager nya. " Kemarin aku sempat berselfi ria. Eh, mama juga ambil gambar aku. " Armell terus mencari. " Nah, ini dia. Lihat mas. Ini aku. " ujar Armell sambil memperlihatkan fotonya ke Seno.
Seno mengambil ponsel Armell dari tangan Armell. " Ini kamu, baby? "
" Heem. Mama yang dandani. Cantik ya? " tanya Armell.
" Banget. Mama emang jago dandan. " puji Seno untuk mamanya. " Kamu beneran beda banget. Pantesan aku nggak ngenalin kamu. Eh, bentar-bentar.... Sepertinya aku lihat kamu waktu itu. Iya, kamu pakai baju ini, terus bawahannya rok di atas lutut warna dusty. Bener nggak? " tebak Seno karena foto yang Armell perlihatkan tidak kelihatan bawahnya.
" Iya. Berarti kamu lihat aku? "
Seno mengangguk, " Lain kali, jangan pernah pakai baju seperti itu. Aku nggak suka. " ucap Seno mulai posesif.
" Kenapa emang? " tanya Armell.
" Roknya terlalu pendek, baby. Pahamu kelihatan. Aku nggak suka. Cuma aku aja yang boleh lihat. Orang lain nggak boleh. " larang Seno.
" Oke, my Handsome Police...Tapi sekarang jadi my Handsome...... apaan ya? Kamu jadi apa mas di kantor papa? " tanya Armell.
" Direktur " jawab Seno sambil meletakkan ponsel Armell di nakas sebelahnya.
Seno tersenyum dan melingkarkan tangannya kembali ke belakang leher Armell.
" Baby...."
" Apa? "
" Apa....baju seperti yang di belikan mama dulu masih ada? " tanya Seno sambil membelai rambut Armell.
" Hem? Baju? Baju yang di belikan mama? Yang mana mas? Soalnya mama membelikan baju aku banyak. " jawab Armell.
" Baju yang kemarin kamu pakai malam-malam itu." jawab Seno.
" Emmm....baju yaaaaanggg...." Armell nampak masih berpikir dan mengingat. " Baju yang tipis itu?" tanya Armell sambil menengadahkan kepalanya.
Seno mengangguk sambil tersenyum.
" Masih ada beberapa biji ..." jawab Armell. " Kenapa emangnya? "
" Kenapa tidak kamu pakai lagi? " tanya Seno.
" Nggak ah. Ntar mas kira aku mau godain mas lagi." jawab Armell sambil cemberut.
Seno terkekeh, " Nggak, baby. Aku malah pengen lihat kamu pakai baju seperti yang waktu itu lagi. "
Armell menggeleng keras, " Nggak ah. Mell nggak mau. Mell takut. Trauma. Mas jadi mengerikan setelah melihat Mell pakai baju itu. Mas jadi ganas bukan main. " ujar Armell.
Seno kembali terkekeh, " Ganas, tapi kamu suka. Kamu menikmatinya, baby. " sahut Seno sambil memencet hidung Armell.
Tangan Seno mulai menjelajah. Memegang dan meremas.
" Baby, dada kamu sekarang sepertinya lebih berisi." ujar Seno sambil memegang dada Armell.
" Masak sih? " tanya Armell ragu. Lalu ia ikut-ikutan menangkup kedua dadanya dan sedikit meremasnya. " Iya ya. Kok lebih keras juga ya. Pantesan br@ku pada susah di cantolin perekatnya."
" Tapi kamu jadi lebih seksi, baby. Aku menyukainya. Makin mantap untuk di r3mas. " bisik Seno di telinga Armell sambil tangannya kembali mer3mas dada Armell.
" Berarti tanganku cukup terampil. Aku akan makin mengasahnya biar dada kamu jadi lebih besar lagi. Besok, kita beli br@ baru yang ukurannya lebih besar. " goda Seno sambil tangannya menelusup ke dalam baju tidur Armell.
" Emang pisau harus pakai di asah? Ahhh...Ssshhh..." jawab Armell sambil mendesis dan mendesah karena tangan terampil suaminya.
" Ketrampilan juga perlu di asah baby. Biar makin terampil. " jawab Seno sambil mengecup pelipis Armell. Kini tangannya mulai membuka kancing baju tidur Armell satu persatu.
" Mau di asah pakai apa? Emang ada asahan tangan? " tanya Armell sambil menggeliat keenakan.
" Asahannya langsung praktek seperti sekarang. Kerja nyata namanya, baby. " Bibir Seno kini sudah bergelut di leher jenjang Armell.
Membuat Armell semakin mendesah dan menggeliat. Malam panjang yang kemarin sempat batal karena perut Armell yang tiba-tiba sakit, sepertinya akan berlanjut malam ini.
" Baby, Martinez mau masuk. " ucap Seno meminta ijin saat keduanya sudah sama-sama panas. Bahkan Armell telah berada di ujung hingga dua kali.
Armell mengangguk, " Tapi jangan kenceng-kenceng ya. Seperti biasanya aja. Aku takut kalau perutku sakit lagi. " pinta Armell sambil mendesah.
Seno mengangguk, kemudian memasukkan Martinez ke sarangnya dengan lancar tanpa ada halangan. Daaaannn....malam panjangpun terus berlanjut hingga beberapa waktu ke depan.
💫💫💫
" Mas, laper... " rengek Armell saat mereka telah menyelesaikan malam panjang mereka.
" Tadi kan udah makan malam, baby. " jawab Seno sambil mengelus pipi Armell. Mereka masih dalam keadaan polos, jadi Seno menutupi separo tubuh mereka menggunakan selimut.
" Tapi udah laper lagi. Kan habis olahraga malam. Olahraganya lama lho ini tadi. " rengek manja Armell.
Seno terkekeh dan mengusap rambut Armell. " Ya udah, ayo kita turun. Kita lihat masih ada apa di dapur. Soalnya ini udah malem. Lilik sama Siti pasti sudah pada tidur. "
" Tapi aku pengen makan pecel lele di warung Lamongan mas. " ujar Armell sambil tersenyum membayangkan makan pecel lele.
" Ha? Kamu ini ada-ada aja beb. Ini udah malem. Mana ada warung buka. Udah tengah malam lho ini." ujar Seno.
Armell memasang wajah cemberutnya. " Ada mas. Warung Lamongan ada yang buka semalaman suntuk. " ujar Armell ketus.
" Tapi makan di tempat terbuka gitu nggak higienis, baby. " cegah Seno.
" Ck! Tapi Mell pengen pokoknya. Kalau mas nggak mau nganterin, Mell mau pergi nyari sendiri. " ujar Armell kembali sambil membuka selimut dan memakai pakaian dalamnya satu persatu.
" Baby...." kalau sudah begini, mau tidak mau, Seno harus menurutinya. Daripada sang ibu negara ngambek lagi.
***
bersambung