My Handsome Police

My Handsome Police
Kembali ke rumah



Setelah beberapa hari menginap di rumah sakit, akhirnya Armell di perbolehkan pulang ke rumah.


" Nona hari ini sudah boleh pulang. So far, seperti yang sudah kami observe, semuanya bagus, normal. Tapi biarpun di rumah, tetap bedrest ya. Jangan melakukan kegiatan yang berlebihan, jangan sampai ada goncangan atau benturan di area rahim ya. Dan itu berarti, tuan Seno, harus berhati-hati jika kalian sedang berhubungan. Tapi alangkah baiknya, jika untuk sementara di tahan dulu. Sampai usia kandungan nona Armell 15 atau 16 minggu. " ujar dokter Ratna menjelaskan sembari senyum.


" Untuk makanan, tetap di jaga. Jangan makan makanan yang mentah atau fast food ya. Perbanyak sayur hijau, dan buah-buahan. Jangan lupa check kandungan maksimal satu bulan sekali sampai si kecil lahir. " lanjutnya.


" Iya dokter. " jawab Armell.


" Saya pasti akan ekstra menjaganya dok. " tambah Seno


" Baik, kalau begitu. Silahkan bersiap-siap untuk pulang. Saya mohon pamit dulu. " ujar dokter Ratna lalu meninggalkan ruangan Armell.


" Aku urus administrasi dulu sebentar ya. Nggak pa-pa kan aku tinggal? Baru setelah itu, kita beres-beres di sini. " ujar Seno.


" He em. " jawab Armell sambil mengangguk.


Kemudian Seno keluar dari ruangan dan menuju bagian administrasi. Ketika melewati tempat suster berjaga, Seno mendengar mereka sedang berkasak kusuk membicarakannya.


" Eh, kalian tahu nggak sih penghuni VVIP no 14? Bueh....suaminya ganteng banget. " ujar salah satu suster.


" Iya...iya...gue tahu. Beruntung banget ya jadi istrinya. Udah dapet suami yang ganteng, baik, perhatian banget sama istri, dari keluarga kaya raya pula. " sahut teman yang lain.


" Iya lah kaya raya. Dia kan pewaris tunggal tahta Adiguna group. Siapa yang nggak tahu Adiguna group coba. Bahkan mereka juga punya saham di rumah sakit ini. " timpal yang lain lagi.


" Jadi baper tahu nggak sih kalau lihat pasangan suami istri itu. Istrinya lagi hamil muda, dan suaminya perhatian gitu. So sweet banget. Jadi kesel kalau inget laki gue di rumah. Mana pernah dia gituin gue. "


" Kalau gue sih, pengen punya laki kayak tuh cowok. Coba aja dia belum punya bini. Udah gue pepet deh. " seru suster yang masih jomblo.


" Emang dianya bakal mau sama Lo? Iddihh, ngarep. " ledek temannya.


Dok...dok..dok....bunyi meja di getok pakai jari.


" Pagi-pagi udah pada gosip aja. " seru suara bariton seseorang.


Semua suster itu langsung menoleh ke sumber suara. Dan mereka menjadi sangat terkejut.


" Eh, dokter Bryan. " sapa semua suster itu bersamaan.


" Mau kemana lo bro? " tanya Bryan ke Seno yang sedang akan lewat di situ tanpa menjawab sapaan dari para suster.


" Ini, bini gue udah di bolehin pulang. Gue mau urus administrasi. " sahut Seno sambil mendekat ke desk para suster.


" Tuh, dengerin. Yang kalian pada gosipin, mau urus administrasi. Cepetan kalian bantu. " ujar Bryan ke para suster. Membuat suster-suster itu kelabakan. Mereka yakin jika sedari tadi Seno mendengarkan percakapan mereka.


Salah satu suster langsung menghadap ke layar laptop dan mengetik di sana.


" Gimana keadaan bini Lo? " tanya Bryan.


" Dokter bilang sih udah nggak pa-pa. Makanya di bolehin pulang. " jawab Seno.


" Lo harus lebih ekstra hati-hati. Bini Lo tetep masih rentan. " saran Bryan.


" Iya. Gue berencana mau mindahin kantor gue ke rumah aja selama bini gue hamil. Gue nggak mau ambil resiko kalau dia gue tinggalin di rumah tanpa penjagaan dari gue. Lo tahu sendiri gimana keras kepalanya bini gue. " ujar Seno.


" Banget gue. Ha...ha...ha..." sahut Bryan.


Setelah Seno selesai mengurus segala administrasi, ia kembali ke kamar istrinya.


💫💫💫


" Welcome home honey..." sapa Nyonya Ruth saat Armell tiba di rumah. Sejak mendapatkan kabar dari putranya kalau Armell sudah boleh pulang, nyonya Ruth langsung bergegas ke rumah Seno. Ia langsung memerintahkan Lilik, Siti, juga satpam rumah itu untuk segera membersihkan kamar tamu yang ada di lantai satu. Karena mulai hari ini, Armell dan Seno akan pindah ke kamar di lantai satu. Biar Armell tidak naik turun tangga.


" Mama..." sapa Armell balik. Ia masih dalam gendongan suaminya. Karena Seno sama sekali tidak memperbolehkannya berjalan sendiri. Di belakang mereka, ada Damar yang membawakan koper milik bosnya.


" No, baby. Aku tidak akan membiarkan kamu kecapekan. Ingat kata dokter. " ujar Seno. " Kita langsung ke kamar. " tambahnya.


" Mama udah mindahin semua barang-barang penting kalian di kamar itu. " ucap Nyonya Ruth memberitahu dan menunjuk ke kamar yang akan di pakai Armell juga Seno mulai hari ini.


" Boleh nggak mas, Mell duduk di sofa itu? Capek kalau harus tiduran terus. " rengek Armell kembali.


" Baby...."


" Biarkan istrimu di luar dulu. Mungkin dia butuh suasana baru yang lebih segar. Satu minggu dia sudah terkurung di dalam kamar terus. " Potong sang mama.


" Tuh kan..." sahut Armell.


" Iya deh iya. " jawab Seno mengalah pada akhirnya. Lalu ia membawa Armell ke sofa yang ada di depan televisi. Dan mendudukkan tubuhnya di sana.


" Oke. Mama akan menemanimu. Aku menyelesaikan beberapa pekerjaan dulu sebentar. " pamit Seno.


" Mas akan ke kantor? " tanya Armell.


" No, baby. " jawab Seno sambil menaruh bantal kursi di punggung Armell supaya istrinya itu lebih nyaman duduknya.


" Tapi mas udah berhari-hari nggak ke kantor loh. " Armell mengingatkan.


" Baby , mulai hari ini, sampai beberapa bulan ke depan, aku akan memindahkan ruang kerjaku di rumah. Aku akan bekerja dari rumah. Karena aku tidak ingin sedetikpun meninggalkanmu di rumah sendirian. " jawab Seno.


" Mas yakin? Kalau papa marah gimana? Terus mas di pecat. " timpal Armell.


" Don't worry baby. Suamimu ini tidak akan pernah di pecat. " jawab Seno sambil tersenyum tipis.


" Kamu tenang saja nak. Papa juga yang menyuruhnya bekerja dari rumah. Biar bisa selalu mengawasimu. Mama juga rencananya akan kemari tiap hari. Supaya kamu tidak kesepian. " sahut sang mama mertua.


" Makasih, mama. " jawab Armell lalu memeluk tubuh mamanya .


" Ya sudah, aku tinggal dulu. Kalau butuh apa-apa, panggil saja. " ujar Seno.


Armell mengangguk sambil tersenyum. Lalu Seno meninggalkannya setelah meninggalkan sebuah kecupan di kening Armell.


" Bagaimana keadaanmu sekarang, nak? " tanya Nyonya Ruth setelah Seno berlalu.


" Alhamdulillah, ma. Sepertinya Mell sehat sekarang. " jawab Armell.


" Kamu apa merasa mual di pagi hari? " tanya Nyonya Ruth kembali.


" Nggak sih ma. "


" Kalau enek sama suatu makanan? Mama dulu waktu hamil El, mama tidak bisa mencium ataupun makan masakan yang berbau rempah. Apalagi kalau masakan Padang. Mama pasti langsung muntah. " cerita sang mertua.


" Sejauh ini nggak sih ma. Selera makan Mell masih sama. Cuma bedanya, kalau menginginkan sesuatu, bawaannya harus segera di penuhi. Nggak bisa kalau di tolak gitu. " sahut Armell.


" Iya itu yang namanya ngidam. Belum kalau pengennya yang aneh-aneh. Kalau mama dulu nih, waktu baru-baru hamil, bawaannya pengen di manja terus sama papa. Pokoknya nggak bisa jauh-jauh dari papa deh. " cerita nyonya Ruth kembali.


" Sama ma itu. Mell juga kayak gitu. " Armell nampak semakin bersemangat untuk bercerita dengan sang mama mertua. " Yang aneh nih ma. Masak Mell sekarang jadi pengen minta begituan melulu sama mas Seno. Bawaannya pengen terus. " lanjutnya.


" Pengen begituan maksudnya? " tanya mama Ruth. Tapi sebelum Armell menjawab, beliau berkata kembali, " Oh mama ngerti. Mama dulu juga gitu. Kalau udah pengen nggak bisa di tolak. Sampai papa geleng-geleng kepala. " lanjut Nyonya Ruth sambil menahan tawanya.


" Pantesan mas Seno mesum orangnya. Ha...ha...ha..." Armell menimpali lalu tertawa terbahak-bahak. " Masak nih ya ma, pernah kita pas lagi makan siang di restoran, tiba-tiba Armell pengen banget. Mas Seno nolak soalnya dia mau meeting penting katanya. Ya udah dengan nggak tahu malunya, Mell goda dia terus. Dan alhasil kita ngelakuinnya di dalam mobil. Nggak tahan kalau harus ke hotel dulu. " cerita Armell dengan tidak ada malunya.


Nyonya Ruth tertawa terbahak-bahak. Lalu sesi saling bercerita unfaedah pun terus berlangsung hingga sore menjelang.


***


bersambung