
Sudah hampir satu Minggu Armell berada di kampungnya. Ia kini mulai resah. Entah kenapa beberapa hari belakangan ini ia begitu merindukan suaminya.
Armell membuka galeri ponselnya. Mencari foto sang suami. Di tatapnya nanar foto itu. Di elusnya gambar yang ada di dalam ponselnya.
Tok...tok...tok...
" Mell, boleh ibu masuk? " tanya ibu yang tadi mengetuk pintu kamarnya.
" Masuk aja Bu. " jawab Armell dari dalam. Ia segera mematikan layar ponselnya.
Ceklek
" Lagi ngapain? "
" Nggak lagi ngapa-ngapain Bu. "
" Jangan terlalu sering mengurung diri di kamar. Keluar, jalan-jalan. " ibu menyuruh Armell.
Armell mengangguk.
" Nak, sudah enam hari kamu di sini. Apa kamu tidak mau pulang ke rumah suamimu? "
Armell terdiam dan menunduk.
" Nak..." ibu mengelus pundak Armell. " Ibu mau tanya sama kamu. Sebenarnya, kamu itu cinta nggak sama suamimu? "
" Mell....Mell cinta Bu sama mas Seno. "
Ibu Armell tersenyum, " Kalau memang cinta, kenapa kamu menjauhi dia? Apa kamu tidak kasihan? "
Armell kembali menunduk. " Mell nggak tahu Bu. Mell merasa bersalah. Karena Mell yang seenaknya sendiri, Mell jadi menyebabkan janin kami meninggal. "
" Nak, suamimu tidak pernah menyalahkan kamu. Mertua kamu juga. Mereka sangat menyayangimu, nak. Kamu seharusnya bersyukur mendapatkan suami dan mertua seperti mereka. Mereka dari keluarga terpandang, tapi mau menerima kamu apa adanya. Seno itu sangat mencintai kamu. Jika dia menyalahkan kamu atas kejadian kemarin, ia tidak akan sengaja kemari. Di bela-belain tengah malam dia berangkat dari rumah, nyopir sendiri, hanya untuk menemuimu. Ia sangat berharap kamu mau pulang bersamanya. " ucap ibu panjang lebar.
Armell terdiam.
" Nak, di saat-saat seperti ini, seharusnya kalian itu saling mendukung. Saling menyemangati. Bukan malah kamu lari seperti ini. Ini artinya kamu tidak membiarkan kalian berdua saling mendukung. Kamu berjuang sendiri, dan kamu juga memaksa suami kamu untuk berjuang sendiri. Ini namanya egois. Ini namanya kamu lari dari kenyataan. Kamu tidak hanya menghukum diri kamu. Tapi kamu juga menghukum suami kamu. "
Armell menitikkan air mata mendengar semua ucapan ibunya. Apa yang ibunya ucapkan semuanya benar. Dia memang salah. Dia yang sudah keterlaluan. Dialah yang membuat kehidupan pernikahannya menjadi tidak sehat.
" Ibu ..." Armell memeluk ibunya sambil menangis. " Maafin Mell Bu. Mell nyesel. Mell nggak mau pisah dengan mas Seno. "
Ibunya mengelus punggungnya. " Jangan meminta maaf ke ibu. Minta maaflah ke suamimu. " saran ibu
Armell segera melepas pelukannya. Ia turun dari ranjang, dan secepat kilat berlari keluar dari kamar menuju luar rumah.
" Mbak Mell....." panggil Fitria saat melihat Armell berlari keluar rumah. Karena Armell tidak mendengarkan panggilannya, Fitria berlari mengikutinya.
" Mbak Mell mau kemana? " tanya Fitria ngos-ngosan saat ia berhasil meraih lengan kakaknya.
" Mbak mau menemui suami mbak. " jawab Armell.
" Terlambat mbak. Bang Seno balik ke ibukota tadi habis subuh. " jawab Fitria.
Armell terdiam. Dia menitikkan air matanya. Entah kenapa sekarang dia menjadi sangat cengeng.
" Tadi Bang Seno kirim pesan ke Pipit, katanya harus segera balik ke ibukota. Ada meeting penting yang harus dia sendiri yang datang. Tapi tadi bang Seno bilang, setelah urusannya selesai, dia mau balik lagi kesini. " Fitria memberitahu.
Armell langsung putar balik kembali ke rumah. Ia segera masuk ke dalam kamarnya. Tak lama kemudian, ia keluar dengan membawa tas ransel yang berisi pakaian yang ia bawa dari Jakarta dulu.
" Mau kemana kamu Mell? " tanya sang ibu.
" Mell mau balik ke rumah Mell Bu. Mell harus meminta maaf sama mas Seno. "
" Lho, bukannya Seno ada di sini? "
" Pipit bilang, dia kembali ke ibukota tadi habis subuh Bu. Ada meeting mendadak. "
" Ya udah, nggak usah buru-buru seperti itu. Seno pasti nanti juga kembali kesini. "
" Nggak bisa Bu. Mell mau ketemu mas Seno secepatnya. Hari ini juga. "
" Terus kamu mau naik bis? "
" Iya Bu. Dulu Mell juga sering naik bis. " jawab Armell.
" Piiit ...Pipit....." panggil Armell.
" Iya mbak. "
" Anterin mbak ke terminal yuk. " pinta Armell.
" Okelah. Bentar, Mell ganti baju sama ambil kunci motor dulu. " jawab Fitria. Iapun segera berlalu ke kamarnya.
💫💫💫
Jam 2 siang, Armell turun dari bis yang membawanya dari kampung halamannya. Armell menghirup udara ibukota kembali seperti pertama kalinya ia datang di kota ini.
Sebelum naik bis kota, Armell mengambil ponselnya.
Tut ...Tut. .Tut ..
" Halo, bang...."
" Halo, nona. "
" Maaf, bang. Abang sedang sama mas Seno nggak? "
" Iya non. Apa nona mau bicara sama tuan muda? Biar ponsel saya, saya kasihkan ke beliau. " ujar Rezky.
" Oh, tidak usah bang. Sekarang mas Seno lagi ada di mana? "
" Bang, ini Mell mau ke kantor, tolong kalau Mell belum sampai sana, jangan biarin mas Seno keluar dari kantor ya. Dan satu lagi, bang Rezky jangan kasih tahu mas Seno kalau Mell mau kesana. " ujar Armell dengan nada suara bahagia.
" Oh, iya non. Sepertinya nona mau buat kejutan ya. "
" Begitulah bang. "
" Oh, nona sekarang di mana? Biar saya suruh Damar jemput. " ucap Rezky.
" Nggak usah bang. Mell kesana sendiri aja. " tolak Armell.
" Oh, baiklah kalau begitu. Nona hati-hati di jalan. " ujar Rezky.
Dan panggilanpun terputus. Armell segera menghentikan sebuah taksi. Ia tidak jadi naik bis kota. Karena akan memakan waktu yang lama kalau harus naik bis.
Empat puluh menit kemudian, Armell sampai di lobi kantor Adiguna. Beruntung ia sudah mengenal dengan resepsionis depan. Jadi ia bisa langsung naik ke lantai di mana ruangan direktur berada.
Sampai di depan ruang ruang direktur, ia bertemu dengan sekretaris tuan Adiguna.
" Loh, Armell kan? " ujar sekretaris tuan Adiguna.
" Iya, kak. " sahut Armell sambil tersenyum.
Sekretaris tuan Adiguna tentu sudah hafal dengan Armell karena saat Armell masih magang di sana, Armell sering di minta tuan Adiguna untuk membantunya.
" Kamu mau ketemu tuan Adiguna? Tapi sayangnya, tuan Adiguna tidak di kantor sekarang. Beliau sekarang jarang datang ke kantor. Karena putra tunggalnya sudah bekerja sebagai direktur di sini. " ucap sang sekretaris memberitahu.
" Oh, Mell mau ketemu putranya kok kak. Bukan tuan Adiguna. "
" Oooo, mau ketemu tuan Seno? Sudah buat janji? "
" Tadi sudah menghubungi bang eh...pak Rezky asistennya. " ujar Armell. Ia memang tidak mengatakan kalau dia sekarang sudah menjadi menantu di keluarga Adiguna.
" Oh, oke. Yuk, aku antar ke ruangannya. Soalnya sekretarisnya tuan Seno agak rese orangnya. " ujar sekretaris tuan Adiguna sambil menarik tangan Armell.
Armell tersenyum manis dan mengikuti langkah sekretaris tuan Adiguna membawanya.
" Eh, kok main masuk aja ke ruangan direktur sih. " proted sekretaris Seno.
Armell melihat sekretaris suaminya itu dari ujung kaki sampai ujung rambutnya. Widdihhh....so seksi pikir Armell.
" Maaf ya neng Desi. Ini itu tamu tuan Seno. " jawab sekretaris tuan Adiguna.
" Bentar, aku lihat dulu. Udah ada janji apa belum. " ujar neng Desi sekretaris Seno. Ia lalu membuka buku diary nya.
" Maaf, tapi hari ini, tuan direktur tidak punya janji bertemu siapa-siapa. Setelah meeting, dia akan langsung pulang. Begitu tadi beliau bilang ke saya. " ucap Desi dengan logat sok berkuasa.
" Neng Desi, emang situ bininya? Heh ..boleh kali tuan direktur kamu itu membuat janji yang tidak kamu ketahui. "
" Tapi semua jadwal tuan Seno, saya yang buat. Mau bertemu siapa, ada tamu siapa, harus dengan sepengetahuan saya. Karena, saya akan menjawab pertanyaan anda tadi. Doakan saja, saya sebentar lagi menjadi nyonya Seno Adiguna. " ujar Desi dengan PDnya.
Armell menghela nafas panjang. Ia tidak suka dengan sekretaris suaminya ini. Enak saja bercita-cita mau jadi Nyonya Seno Adiguna.
" Maaf, kak. Tapi saya sudah menghubungi asistennya langsung. Sebentar, kalau anda tidak percaya. Saya hubungkan dengan asistennya. " ucap Armell sambil mengambil ponselnya.
Tut ..Tut ..Tut ..
" Halo, non..."
" Halo, bang. Mell udah sampai di depan ruang direktur. Tapi mell tidak di ijinkan masuk. Sekretarisnya bilang, Mell nggak buat janji lewat dia." ucap Armell. Ia sengaja me-laudspeaker panggilannya.
" Oh, sebentar, nona. Saya akan segera kesana. " sahut Rezky.
Panggilan pun terputus. Tak lama kemudian, Armell melihat Rezky berlari kecil menuju ke arahnya.
" Desi, kamu mau di pecat? " bentak Rezky.
" Maaf pak. Tapi orang ini tidak ada janji dengan tuan Seno. Jadi dia tidak saya ijinkan masuk. " jawab Desi sambil melirik tajam ke arah Armell.
" Kamu jangan main-main kalau masih mau bekerja di sini. Kamu tahu siapa dia? " Rezky kembali membentaknya.
" Paling juga cewek yang mau minta kerjaan. Kalau nggak, ya merayu tuan Seno. " ejek Desi.
" Jaga bicara kamu, Des. Dia ini..."
Rezky belum sempat menyelesaikan kata-katanya, karena Armell melarangnya. Armell menggeleng sambil memegang lengan Rezky.
" Mell boleh masuk dan nungguin mas Seno di dalam nggak bang? " tanya Armell dengan suara kecil.
" Tentu saja boleh, nona. Mari, saya antarkan. " ucap Rezky sambil mengantar Armell masuk ke dalam ruangan Seno.
" Maaf, kalau sekretaris itu membuat anda kesal, nona. Saya juga tidak suka dengan dia. Tuan muda bilang, kalau sudah dapat gantinya, akan segera memindahkan dia. " Rezky berujar.
" Iya bang. " Armell tersenyum sambil duduk di sofa.
" Bang, mas Seno nggak tahu kan kalau Mell di sini?"
" Tidak, nona. "
" Oh, tidak nona. Mmm, nona, saya tinggal dulu tidak apa-apa kan? Kalau saya tidak segera kembali, tuan muda akan curiga. " ujar Rezky.
" Iya bang. Mell tunggu di sini. "
Lalu Rezky segera keluar dari ruangan meninggalkan Armell sendiri. Armell melihat ke seluruh ruangan. Menghirup dalam-dalam aroma yang di ruangan itu. Aroma sang suami. Membuat Armell semakin merindukan suaminya.
***
bersambung