
Haripun berganti. Seno semakin tambah kacau saja. Sudah berhari-hari dia tidak tidur dan makan dengan baik. Mengurus perusahaan, mencari sang istri, sangat menyita waktu, tenaganya, juga pikirannya.
Kemarin saat ia ke kampus untuk mencari Armell, ia di buat terkejut. Ketika dirinya menanyakan ke pihak kampus apakah Armell pernah datang ke kampus, pihak kampus mengatakan kalau Armell baru saja dari sana dan mengumpulkan skripsinya.
Bagaimana bisa dia tidak melihat Armell kalau dia saja kemarin sejak pagi ada di depan kampus beserta anak buahnya dan matanya tidak pernah lepas dari pintu masuk dan keluar gedung itu. Fix, Seno kecolongan. Karena menurut Seno, Armell sengaja menghindarinya.
Seno mengusap rambut dan wajahnya kasar. Pekerjaannya di perusahaan juga jadi kacau balau.
" Aaarrrrgggghhhhh....." teriak Seno.
Ceklek
Pintu ruangan Seno di buka seseorang dari luar tanpa mengetuk pintu dulu.
" Ketuk pintu dulu kalau mau masuk ruangan. " teriaknya ke seseorang yang baru masuk tanpa ia lihat siapa yang memasuki ruangannya.
" Kamu mau menyuruh pemilik perusahaan mengetuk pintu dulu? Sedangkan kamu itu cuma pegawai saja di sini. " jawab seseorang yang baru masuk itu. Beliau langsung duduk di sofa.
" Papa..." Seno terkejut mendapati ternyata papanya yang masuk ke ruangannya. Segera ia membereskan meja kerjanya yang kacau balau karena habis di berantakinnya. Bahkan beberapa kertas berserakan di lantai.
" Kamu ini bisa kerja apa tidak? Ruangan direktur sudah seperti kapal pecah begini. " ujar tuan Adiguna berang melihat kelakuan anak laki-lakinya.
" Maaf, pa." hanya itu yang bisa Seno ucapkan.
" Duduk! " titah tuan Adiguna tak terbantahkan sambil menunjuk sofa single yang ada di sampingnya.
Seno segera berjalan menuju sofa. Karena terburu-buru di campur gugup, tak sengaja pinggulnya menendang pojok meja kerjanya. Sehingga membuatnya meringis, " Aww....sshhh...."
Ingin rasanya tuan Adiguna tertawa terbahak-bahak. Tapi beliau menahannya. Beliau hanya tertawa dalam hati.
Seno buru-buru duduk. " Ada apa pa? " tanyanya.
" Ada apa...Ada apa..." ujar tuan Adiguna. " Kenapa pekerjaanmu akhir-akhir ini tidak ada yang beres? " tanya tuan Adiguna.
" Maaf, pa. " jawab Seno sambil menunduk. Dia tidak berani menatap papanya karena ia sadar kalau ia memang salah.
" Kemana saja kamu akhir-akhir ini sering tidak datang ke kantor? Bahkan semua meeting, Rezky yang menghandle. Papa meminta kamu mengurus perusahaan dengan benar. Bukan untuk membuatnya bankrut. Apa urusanmu dengan kepolisian belum selesai? Sehingga kamu masih harus meninggalkan perusahaan? " tanya tuan Adiguna.
" Sudah selesai pa. Pengunduran diriku sudah di terima. " jawab Seno.
" Lalu apa yang membuatmu sering meninggalkan perusahaan? " tanya tuan Adiguna. Tuan Adiguna berharap, Seno akan jujur kali ini.
" Itu pa...." Seno bingung harus menjawab apa. Karena ia sering meninggalkan perusahaan karena sibuk mencari istrinya. Sedangkan papanya tidak tahu kalau ia sudah menikah.
" Ita itu ..Ita itu...bicara yang jelas! " bentak tuan Adiguna.
Seno semakin menunduk. Tubuhnya terasa lemas. Papanya sangat jarang sekali marah seperti ini. Beliau akan marah besar seperti ini kepadanya saat ia melakukan kesalahan yang besar.
" Apa susahnya sih tinggal jawab aja kamu kemana saja. Sibuk apa kamu sampai perusahaan kamu tinggalkan? Apa perlu papa tarik kembali keputusan papa untuk mengangkatmu menjadi direktur di perusahaan ini? Hah?" teriak tuan Adiguna.
God joob tuan....Aktingmu begitu sempurna. Ingin rasanya tuan Adiguna tertawa melihat putranya menjadi penakut seperti ini. Padahal putra semata wayangnya itu biasanya selalu tegas dan garang.
" Pa..." Seno mendongakkan kepalanya mendengar papanya akan menarik kembali jabatannya.
' Mampus gue kalau papa mecat gue. Bakal jadi gelandangan. Mana jabatan gue di kepolisian udah gue lepas. Mau gue kasih makan apa bini gue. ' teriak Seno dalam hati.
" Makanya kalau masih mau kerja di sini, bilang kamu ngapain aja beberapa hari ini sampai pekerjaanmu berantakan semuanya. " ujar tuan Adiguna masih dengan nada tinggi.
" El....El sedang mencari istri El. Dia hilang. " jawab Seno dengan suara lirih.
" Apa? Ulangi lagi. Yang keras. Masak mantan polisi kok ngomong aja klemar-klemer gitu. " ejek tuan Adiguna.
Seno mendongakkan kepalanya, " El sedang mencari istri El beberapa hari ini. " ucapnya agak keras.
" Iya pa. " jawab Seno sambil memalingkan wajahnya.
" Ya Tuhan Ellll....Kamu bisa membuat papamu ini mati muda. Bisa papa kena serangan jantung. " keluh tuan Adiguna.
" Maaf, pa. " hanya itu yang bisa Seno ucapkan.
" Kapan kamu menikah? " tanya tuan Adiguna.
" Sembilan bulan yang lalu pa. " jawab Seno.
" Apa? Sembilan bulan yang lalu? Sudah hampir satu tahun dan kamu tidak menceritakan kepada kami? Kamu anggap apa papa sama Mama kamu ini El? " pekik tuan Adiguna. " Apa kamu menganggap kami ini bukan orang tuamu? Atau apa kamu sudah menganggap kami ini almarhum sama almarhumah? "
" Pa...Bukan begitu...El terpaksa berbohong sama papa sama Mama. El terpaksa menyembunyikan semuanya ini. " jawab Seno
" Kenapa kamu menyembunyikannya? Apa kamu malu dengan pernikahanmu? " tanya tuan Adiguna.
" Bukan pa. " jawab Seno kembali menunduk. " Karena kami menikah karena terpaksa. Bukan karena kami saling mencintai. " lanjutnya.
" Terpaksa menikah? Kenapa? Kalian di grebek saat melakukan sesuatu? " tanya tuan Adiguna.
" Bukan pa. Papa pikir anak papa ini laki-laki murahan? " protes Seno agak kesal. " El itu tidak akan begitu mudah jatuh ke dalam rayuan wanita. " tambahnya.
" Lalu apa kalau bukan karena di grebek warga? " tanya tuan Adiguna memancing.
" Karena kepepet pa. Karena El kasihan dengan seorang gadis dan seorang bayi pa. " jawab Seno.
" Kamu menghamili perempuan? Sampai sudah lahir bayinya? " tuduh tuan Adiguna kembali.
" Astaghfirullah papaaa......" pekik Seno. " El bukan laki-laki seperti itu. " teriaknya bertambah kesal.
Tuan Adiguna mengulum senyumnya melihat Seno seperti itu. Suka sekali bapak satu ini mengerjai anaknya.
" Lalu apa? Bicara yang jelas. " ujar tuan Adiguna.
" El menikahi gadis itu karena bayi yang di temukannya harus di taruh di panti asuhan. Dan dia tidak mau sampai bayi malang itu tinggal di panti. Sedangkan bayi itu bisa keluar dari panti jika ia di adopsi. Papa tahu kan , syarat utama adopsi itu apa? Harus orang yang sudah menikah. Jadi El terpaksa menikahi gadis itu biar bisa mengadopsi bayi yang di panti itu. " jelas Seno.
" Lalu sekarang gadis dan bayi itu hilang? " tanya tuan Adiguna.
" Bayi itu sudah di ambil kembali sama ibu kandungnya. Istri El yang hilang. " jawab Seno.
" Di culik ? " tanya tuan Adiguna.
" Bukan. Dia pergi karena keinginannya sendiri. " jawab Seno.
" Lalu sekarang, kalau dia sudah pergi karena kemauannya sendiri, kenapa kamu harus bingung nyari? Toh kan kalian menikah karena bayi. Dan bayi itupun sekarang sudah tidak bersama kalian. Bukan karena cinta. " ujar tuan Adiguna.
" Ya dulu El menikah karena terpaksa. Tapi sekarang.... sekarang udah nggak terpaksa lagi pa. El...sudah jatuh cinta sama dia. El nggak mau kehilangan dia. " ucap Seno lesu.
" Lalu sekarang bagaimana? Sudah menemukan istrimu? " tanya tuan Adiguna.
Seno menggeleng. " Belum pa. Bahkan jejaknya saja nggak ada. El udah nyari sampai kampung halamannya juga nggak ada." jawab Seno frustasi.
Tuan Adiguna kembali mengulum senyumnya.
" Papa kenapa senyam-senyum gitu? Seneng ya kalau anaknya menderita kayak gini? " gerutu Seno kesal.
" Papa ketawa ya karena ada yang lucu. " ujar tuan Adiguna. Lalu beliau berdiri. " Datang ke rumah nanti malam sepulang kerja. Papa pastikan, setelah dari rumah besar, kamu nggak akan kayak gini lagi. " ujar tuan Adiguna lalu keluar dari ruangan Seno.
***
bersambung