
Nyonya Ruth sudah menunggu putranya dengan kepanikan. Kira-kira apa yang terjadi dengan menantunya.
Akhirnya yang di tunggu-tunggu terlihat batang hidungnya. Tanpa menunggu Seno sampai di dekatnya, Nyonya Ruth berlarian kecil menghampiri putranya.
Seno tersenyum melihat sang mama. Tanpa berkata apapun, Seno langsung memeluk tubuh perempuan yang telah melahirkannya itu sambil dengan mata berkaca-kaca. Dan semakin bingunglah sang mama. Kepanikannya menjadi berlipat ganda.
" El, what's wrong? " tanyanya. " What happen with you? What happen with my daughter? " tanyanya kembali. Tapi Seno masih enggan menjawab. Ia masih memeluk tubuh sang mama.
Nyonya Ruth semakin di rundung kepanikan. " El, please. Tell me, what happen? Why you do this? " tanyanya kembali. Tapi Seno malah semakin erat memeluknya.
Nyonya Ruth menghela nafas panjang. " Jangan memelukku seperti ini. " ucapnya sambil menepis pelukan Seno dan dengan muka garang.
" Mom....El hanya ingin memeluk mama. Kenapa di lepas? " protes Seno.
" Jawab dulu pertanyaan mama El. Ada apa kamu tiba-tiba memeluk mama seperti itu? " tanya Nyonya Ruth.
" Karena El sangat bahagia. " jawab Seno dengan wajah bahagianya.
Pug
Nyonya Ruth memukul lengan Seno dengan tas jinjingnya.
" Aw...Ma..." pekik Seno sambil mengelus lengannya karena terasa kebas.
" Dasar kamu! Suami macam apa kamu? Hah? Istri lagi sakit malah kamu sangat bahagia. " omel Nyonya Ruth menggebu-gebu. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran anaknya. " Kamu kalau udah nggak cinta sama istri kamu, nggak gini caranya. " teriak Nyonya Ruth. " Bicara baik-baik. Oh, satu hal yang perlu kamu ketahui. Kalau kamu mau meninggalkan istrimu, jangan harap kamu bisa masuk ke rumah mama. Jangan harap kamu bisa masuk ke perusahaan lagi. " ancam Nyonya Ruth.
" Mama " teriak Seno balik. " Mama kok mikirnya kayak gitu sih? Siapa yang bilang kalau El udah nggak cinta sama Armell lagi? " tanyanya.
" Terus, kalau kamu memang masih mencintai istrimu, kenapa kamu bisa bahagia saat istrimu sedang sakit kayak gini? Bahkan dia sampai pingsan. " ujar sang mama dengan nada tinggi.
" Ma, gimana El nggak bahagia? Kalau sebentar lagi El akan punya baby. Mama akan segera punya cucu. " sahut Seno.
" Apa? " pekik Nyonya Ruth. Bahkan ia semakin emosi. Ia memukul Seno dengan tasnya berkali-kali.
" Perempuan mana yang kamu hamili, hah? Kamu pikir mama sama papa kamu ini bakal nerima bayi itu jadi cucu kami? " teriaknya.
" Mama..." panggil Seno dengan mengeratkan giginya. " Bisa nggak dengerin El ngomong dulu?" pekik Seno.
" Bagus Tante... pukul aja terus...Emang dia itu pantas di pukul. Kalau perlu, Bryan ambilin tongkat stik. " ujar Bryan yang sedari tadi melihat drama anak dan ibu dengan menahan tawanya.
" Brengsek! Diem nggak Lo? " ujar Seno dengan tatapan tajamnya. Ia kesal sekarang. Benar-benar kesal. Suasana hatinya yang tadi begitu bahagia, kini seolah lenyap begitu saja.
" Dasar kamu anak durhaka. Mama sama papa nggak pernah ngajarin kamu buat selingkuh ya. " ujar Nyonya Ruth masih dengan kemarahannya.
" Mama, please.. Listen to me. Let me tell you what make me happy. " pinta Seno dengan nada rendah. Ia sungguh-sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran mamanya. Menurut El, semakin tua, mamanya itu semakin aneh.
" Apa lagi yang mau kamu bilang, hah? " bentak sang mama.
" Ma, dengerin El. El tidak pernah selingkuh dengan siapapun. Dan memang benar El akan punya baby. El bahagia karenanya. Bukan perempuan lain yang El hamili, mom. Tapi Armell. Armell pingsan karena dia sedang hamil. " jelas Seno.
Nyonya Ruth melongo mendengar jawaban Seno. Lalu ia menutup mulutnya. Bahagia, tentu saja. Lalu tanpa berkata apa-apa, nyonya Ruth langsung memeluk putranya sambil menitikkan air mata.
" Selamat nak.... Selamat...Kamu memang putraku. Hebat kamu nak. Kecebong kamu memang tokcer. " ucap Nyonya Ruth.
Doenggggg.... Nyonya Ruth memang hobi bercanda dan berbicara asal. Sedang serius saja seperti ini...🤦🤦
Tapi tak masalah. Seno kembali bahagia. Ia membalas pelukan sang mama.
" Maafin mama. Mama pikir kamu menghamili perempuan lain. " ujar sang mama ketika ia sudah melepas pelukannya.
" Makanya ma, jangan suka negatif thinking sama anak sendiri. Bagaimana mungkin El bisa selingkuh jika di hati sama pikiran El hanya ada Armell ma. " jawab Seno dan nyonya Ruth mengangguk sambil tersenyum.
" Ini anak juga. Malah ngompor-ngomporin. " bentak nyonya Ruth ke Bryan sambil memukul Bryan dengan tasnya.
" He...he..he...Maaf Tante. " sahut Bryan.
" Terus sekarang, bagaimana keadaan menantuku? " tanya Nyonya Ruth.
" Apa ada masalah dengan kehamilannya? " tanya Nyonya Ruth kembali panik.
" Bukan Tante. Melihat riwayat kegugurannya kemarin, kita harus ekstra hati-hati. Dia harus benar-benar bedrest. Takutnya jika kejadian seperti tempo hari terulang kembali. " jelas Bryan.
" Oh. " nyonya Ruth manggut-manggut. " Kau harus memperhatikan istri kamu. " titah sang mama ke Seno.
" Pasti ma. " jawab Seno mantap.
💫💫💫
Selesai drama, Armell kini telah berada di ruang rawat inap. Matanya masih terpejam. Sebenarnya Armell sudah sadar dari pingsan. Tapi karena kondisinya masih sangat lemah, ia tertidur lelap.
Seno duduk di kursi di sebelah bed Armell. Ia menggenggam tangan Armell dan sebelah tangannya lagi mengelus perut Armell yang masih rata sambil mengajaknya berbicara.
" Sayang, kamu harus terus sehat di perut mommy ya. Ijinkan Daddy dan mommy melihatmu. Mom dan Dad sangat menyayangimu. " ucap Seno sambil mengelus perut rata Armell.
' Ya Tuhan, hamba mohon, kali ini ijinkan kami melihat anak kami lahir ke dunia ini dengan selamat dan sehat dan penuh. Ijinkan kami merawatnya hingga kami tua kelak. ' doa Seno dalam hati masih dengan terus mengelus perut rata Armell.
Armell mulai mengerjab-ngerjabkan matanya perlahan.
" Baby, kamu sudah bangun? " tanya Seno sambil berdiri dan mendekat ke Armell, mengecup kening Armell.
Armell memijat pelipisnya karena masih terasa berat. " Mas, kita di mana ini? " tanyanya.
" Kita di rumah sakit, baby. Apa kamu tidak ingat tadi kamu pingsan? " jawab Seno.
Armell mengangguk perlahan.
" Apa kepalamu masih pusing? " tanya Seno melihat sang istri memijat pelipisnya.
" Sedikit. " jawab Armell lemah. " Mas, haus. Mau minum. " pintanya.
" Oke. Bentar. " Seno beranjak menuju ke meja dan mengambil air minum yang sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit. Seno lalu membantu Armell untuk minum.
Setelah beberapa sedotan, Armell menyudahi minumnya. " Udah mas. "
" Kamu mau makan? Biar aku suapi kamu. Kamu belum makan siang. " ujar Seno sambil mengembalikan minuman itu ke atas meja.
" Mell belum lapar mas. " jawab Armell perlahan.
Seno kembali menghampiri Armell dan duduk di tempat tadi dia duduk. Ia kembali menggenggam tangan Armell.
" Mas, aku kenapa? Aku sakit apa? " tanya Armell sambil menoleh ke arah suaminya.
" Kamu nggak sakit apa-apa baby. " jawab Seno sambil tersenyum.
" Lalu kenapa aku pingsan? " tanya Armell kembali.
" Kamu pingsan....," Seno mengelus perut Armell dengan sebelah tangannya. " Karena di sini, ada kehidupan lagi. " lanjutnya.
Armell ikut memandang perutnya yang di elus suaminya. " Maksudnya mas? " tanyanya masih belum mengerti.
" Di sini, ada anak kita. Kamu pingsan karena kamu sedang mengandung, sayang. " ujar Seno sambil memandang Armell tapi tangannya masih mengelus perut sang istri.
Mendengar ucapan suaminya, Armell kembali memandang ke perutnya, lalu melepas genggaman tangan suaminya, dan menggunakan tangan itu untuk mengelus perutnya yang masih rata. Matanya berkaca-kaca.
" Aku hamil mas? Ada anak kita di sini? " tanyanya dengan mata berbinar, tapi air matanya juga menetes.
" Iya sayang. " sahut Seno dengan mata yang mulai berkaca-kaca juga.
***
bersambung