
Hari berganti. Saat ini Armell sedang sibuk-sibuknya bertemu dosen. Ia harus segera menyelesaikan skripsinya karena ia harus ikut wisuda yang akan di laksanakan 4 bulan lagi. Padahal ia belum menyelesaikan bab empatnya. Gara-gara kegalauannya saat di tinggal baby Arvin, dan juga kegalauannya memikirkan masa depan pernikahannya dengan seno, ia jadi malas membuka laptop untuk mengerjakan skripsinya.
Sekarang, saat hubungannya dengan sang suami sudah mulai jelas, dan juga baby Arvin tetap menjadi miliknya meskipun juga milik Leora, ia baru bersemangat mengerjakan kembali skripsinya.
Seno juga sama. Karena hubungannya dengan sang istri sudah mengalami kemajuan dan sudah terlihat masa depannya, ia memutuskan untuk meninggalkan kepolisian dan masuk ke perusahaan. Akan tetapi ia terkadang masih harus membagi waktunya antara perusahaan dan kepolisian, karena pengajuan pengunduran dirinya masih belum di setujui yang membuatnya harus masih tetap datang ke kantor polisi setiap harinya.
Mariana juga akhir-akhir ini sering uring-uringan karena ia tidak bisa setiap saat bertemu dengan Seno untuk merayunya. Ia yang sudah bersusah payah membujuk ayahnya untuk memindahkan dirinya agar satu devisi dengan Seno, kini percuma saja. Yang ada sekarang, ia sering bolos bekerja.
Untuk masalah masuknya Seno ke perusahaan, Seno sama sekali belum menceritakannya kepada Armell. Ia masih belum siap menerima kekecewaan dari sang istri. Karena saat-saat ini, mereka sedang bahagia bak pengantin baru.
Setahu Armell, Seno masih tetap seorang polisi seperti biasanya. Karena kesibukan keduanya, Armell sering menolak diantar ataupun di jemput oleh Seno saat di kampus. Ia yang setahunya Seno sedang sangat sibuk, tidak mau terlalu membebaninya.
Armell pergi ke kampus dengan naik bus kota. Yang kebetulan ada jalur bus kota yang lewat di depan perumahannya dan menuju ke kampusnya. Awalnya Seno keberatan tapi jangan lupa siapa Armell. Setelah Armell menyerahkan dirinya sepenuhnya ke Seno, sekarang Seno selalu mengiyakan apapun yang di minta istrinya.
" Kamu hati-hati. Jangan keluyuran. Jaga mata juga. " pesan Seno saat mereka akan Armell akan berangkat ke kampus, dan Seno berangkat ke kantor.
" E lah....Kapan sih Mell pernah keluyuran. Mell kan anak baik-baik. " protes Armell ke Seno saat Seno memperingatinya.
" Ya siapa tahu aja baby... Tiba-tiba jiwa keluyuran kamu keluar. " sahut Seno asal.
" Sorry ya....Aku tuh jiwanya suci. Nggak ada tuh jiwa keluyuran. " elak Armell sambil cemberut.
" Iya...iya..." sahut Seno yang lalu mengecup bibir Armell sekilas. " Gitu aja cemberut. " lanjutnya sambil mengusap rambut Armell.
" Maksudnya jaga mata apa? " tanya Armell.
" Jaga mata kamu...Jangan melirik laki-laki lain. Awas aja kalau sampai lirak lirik. " ancam Seno.
" Bukan aku yang harusnya jaga mata mas. Laki-laki di luar sana yang harus jaga mata dan hati mereka jangan sampai tertarik sama aku. Secara kan aku ini cantik, mempesona. Iya kan? " jawab Armell dengan pedenya.
" Sok kamu! " ejek Seno sambil menjitak kepala Armell perlahan.
" Ih, bener ya. Sekarang aku tanya sama mas, aku ini cantik nggak? Mempesona nggak? " tanya Armell.
" Nggak tuh. " jawab Seno sambil tersenyum tipis.
" Beneran aku nggak cantik? Nggak mempesona? Ya udah ntar malam aku mau pulang ke kost aja. Mau nginep di sana. " sahut Armell enteng.
" Ngambek nih ceritanya. " ledek Seno.
" Siapa, yang ngambek? Males aja satu kamar sama orang yang muna. " ledek Armell ganti.
" Siapa yang muna? " tanya Seno tidak terima.
" Ya mas lah. Siapa lagi yang sekamar sama aku. Mas mau mengelak? Mau bilang nggak muna? Terus sekarang aku tanya, kalau aku nggak cantik, nggak menarik, kenapa mas ngebet banget pengen unboxing melulu sama aku? " tanya Armell nggak mau kalah.
" Terus siapa yang bilang kamu nggak cantik? Siapa yang bilang kamu nggak menarik? Emang tadi aku bilang gitu? " cecar Seno .
" Lah tadi? " ujar Armell.
" Aku tadi bilang apa? Aku bilang, kamu jangan lirak-lirik cowok lain. Soalnya aku takut kalau kamu lirik mereka, mereka langsung jatuh cinta sama kamu. Karena aku takut kehilangan kamu. " rayu Seno sambil menarik Armell ke dalam di dekapannya.
" Gombal. " sahut Armell.
Armell mengalungkan kedua tangannya ke leher Seno dan berkata, " Aku tidak mungkin lirak-lirik cowok lain. Kan mas udah unboxing aku. Jadi, mana ada cowok yang mau sama cewek yang udah nggak ting-ting. " goda Armell.
" Pinter gombal ya sekarang. " ujar Seno sambil menarik hidung Armell. Armell menanggapinya dengan senyuman.
Kemudian Seno mendekatkan bibirnya ke bibir Armell. Mereka berciuman dengan mesra di halaman rumah. Membuat sang satpam segera mengambil ponselnya dan mengabadikan momen itu dan di kirim ke seseorang.
Di rumah utama keluarga Adiguna.
" Tuan, saya mendapatkan kabar baru. " ucap Dion.
" Apa itu Yon? " tanya tuan Adiguna.
" Lihat ini tuan. " ucap Dion sambil menunjukkan ponselnya ke tuan Adiguna.
" Dasar anak nakal. " ucap tuan Adiguna sambil menyunggingkan sebelah bibirnya. " Belum di kenalin ke orang tua udah main sosor aja. " lanjutnya.
" Ada apa sih pa? Sepertinya seru banget. " tanya Nyonya Ruth.
" Lihat nih ma, kelakuan anak kamu. " tuan Adiguna memperlihatkan foto yang ada di ponsel Dion. " Main sosor anak orang. " lanjutnya.
" Siapa dulu papanya. " sahut sang istri sambil tersenyum tipis. " Anak kita ternyata normal pa. Dia masih suka sosor perempuan. Untung yang di sosor mama suka. " ucap nyonya Ruth sambil tersenyum simpul.
" Tapi memang sepertinya tuan muda banyak perkembangan. Juga perubahan nyonya. Sekarang tuan muda terlihat lebih bersemangat. Dia juga lebih banyak tersenyum. Bahkan orang di kantor pada bertanya-tanya kenapa tuan muda berubah sekarang. Dan satu lagi tuan, nyonya, tuan muda mempunyai banyak fans di kantor. " jelas Dion.
" Fans? " tanya nyonya Ruth sambil mengernyitkan alisnya.
" Iya nyonya. Banyak pegawai perempuan yang mengidolakan tuan muda. Bahkan ada beberapa dari mereka sangat ingin menjadi istri tuan muda. " tambah Dion.
" Ha...ha ..ha... Mereka biar gigit jari. Karena aku sudah punya menantu yang cantik. " ujar nyonya Ruth.
" Sepertinya nona Lusi banyak membawa perubahan pada tuan muda. Dan sepertinya tuan muda terkena virus bucin. Ha...ha ..ha..." lanjut Dion.
" Biarkan saja dia terkena virus bucin. Biar dia tahu rasanya di bawah pesona seorang istri. " ujar tuan Adiguna sambil melirik istrinya.
" Makanya Yon...kamu juga buruan menikah. Jangan cuma kamu bawa ke ranjang tapi tidak kamu nikahi." ujar tuan Adiguna.
" Tapi saya tidak mungkin menikahi perempuan yang mau saya ajak ke ranjang dengan begitu mudahnya. Saya juga ingin punya istri yang masih tersegel. " jawab Dion.
" Mana ada perempuan yang masih tersegel mau sama playboy cap kapak kayak kamu ini. " ejek tuan Adiguna.
" Tolong kalau berdoa untuk saya itu yang bagus-bagus tuan. Saya ini bukan playboy cap kapak. Saya ini seorang Casanova tuan. " elak Dion.
" Casanova dari Betawi. Nggak pantes banget nyebutnya. " kini nyonya Ruth ikut meledek Dion. Dion memang asli orang Betawi.
" Nyonya....Jangan ikut-ikut tuan nyonya. " pinta dion dengan tampang memelasnya.
Dion memang sudah dianggap anak oleh tuan dan nyonya Adiguna. Bahkan Seno pun menganggapnya seperti seorang kakak baginya.
***
bersambung