
Haripun berganti. Seperti biasa setiap kejadian yang terjadi antara Armell dan Seno, selalu dalam pantauan tuan Adiguna melalui Dion.
" Ada berita apa kamu hari ini? " tanya tuan Adiguna ke Dion.
" Ada tuan. " jawab Dion.
" Cepetan Yon Ceritakan ada berita baru apa. " ujar Nyonya Ruth. Yang saat itu , beliau ikut suaminya ke kantor. Karena merasa bosan di rumah.
" Iya nyonya. Hari Sabtu kemarin, tuan muda kan mengajak nona Lusi kencan. Terakhir anak buah saya melaporkan kalau mereka berada di pantai. Tapi mereka tidak pulang ke rumah setelah dari pantai. Mereka menginap di hotel. " jelas Dion.
" Apa? Mereka menginap di hotel? " tanya nyonya Ruth dengan wajah yang bahagia.
" Iya nyonya. " jawab Dion sambil mengangguk. " Baru tadi pagi mereka kembali ke rumah. " jawab Dion.
" Pa....Apa kita akan segera punya cucu? Mama udah nggak sabar pengen nimang cucu. " ujar Nyonya Ruth penuh semangat.
" Jangan terlalu berharap dulu ma. Jangan ketinggian kalau berkhayal. Ntar jatuh, sakit. " sahut tuan Adiguna.
" Iihhh, papa. Emang papa nggak pengen punya cucu? " tanya nyonya Ruth.
" Ya pengen ma. Tapi kamu lihat anak nakal kamu itu. Bahkan dia menikah saja kita sebagai orang tuanya tidak di kasih tahu. Bagaimana mungkin dia punya anak. " ujar tuan Adiguna.
" Iya pa, bener. Memang anak nakal dia itu. Pengen mama jadikan sambal korek kalau dia pulang. Apa kita ke rumahnya aja pa? Kita pergoki langsung. Biar dia nggak bisa berkelit lagi. " ucap nyonya Ruth.
" Jangan ma. Ya kalau akhirnya jadi baik di kedua pihak. Lah kalau malah si Lusi malah pergi gimana? Kehilangan mantu tersolid kita ma. Secara papa yakin, anak kamu itu juga belum bilang ke Lusi kalau kita itu orang tuanya. jawab tuan Adiguna.
" Papa bener juga sih. " sahut nyonya Ruth manggut-manggut.
" Besok pasti kesempatan buat kita mengerjai anak nakal kamu itu. " ucap tuan Adiguna.
" Anak papa juga kali. " gerutu nyonya Ruth.
💫💫💫
Di sebuah apartemen mewah.
" Malam bos. " sapa seorang laki-laki.
" Hem. Ada berita apa? " tanya bos.
" Saya sudah mendapatkan informasi mengenai bayi yang anda maksud kemarin bos. " ucap si anak buah.
" Cepat katakan. " perintah Robert.
" Bayi itu namanya Arvin. Seno yang memberinya nama. Bayi itu di temukan oleh Armell di depan rumah kostnya. " jawab si anak buah.
Robert nampak berpikir. " Berapa usia bayi itu? " tanyanya.
" Menurut informasi yang saya dapatkan, bayi itu lahir di bulan April tahun lalu tuan. " jawab si anak buah.
" Siapa bapaknya. " tanya Robert.
" Setelah saya menyelidiki, bayi itu ternyata tidak mempunyai ayah. Kemungkinan ia lahir dari hubungan di luar nikah. " jawab si anak buah.
" Kamu ambil rambut anak itu. Dan serahkan padaku. Secepatnya. " ucap Robert sambil menyeringai.
" Baik bos. Kalau begitu, saya permisi. " pamit si anak buah.
Robert menggosok-gosok dagunya. Ia tersenyum tipis. " Honey, apa malam itu kamu? Aku tidak akan melepaskanmu jika memang benar yang malam itu adalah kamu. Tapi jika memang kamu menyayangi anak itu, menginginkan anak itu, kenapa kamu harus pura-pura membuangnya lalu mengadopsinya? " gumam Robert.
" Aku harus bertemu dan bicara denganmu setelah aku mendapatkan hasil tes DNA anak itu. " ujar Robert.
Tap ..tap ..tap ..bunyi langkah kaki seseorang yang memakai high heels.
Cup
Seorang perempuan datang, menghampiri Robert kemudian mengecup pipi Robert.
" Halo, sayang apa kabar? " tanya perempuan itu.
" Hmm. " sahut Robert. " Mau apa kamu kesini? Kamu sedang butuh kehangatan? " tanyanya menyeringai.
Tanpa berpikir panjang lagi, Robert segera meraih tubuh perempuan itu dan memagutnya. Ritual malam yang panjang terjadi antara Robert dan perempuan itu.
Tidak sempat masuk ke kamar, maka mereka melakukannya di ruang tengah. Sofapun jadi. Apalah arti sebuah tempat jika dahaga sudah tidak tertahankan.
Seperti biasa, Robert selalu memberikan kenikmatan yang di cari perempuan asalkan ia juga mendapatkan keuntungan. Perempuan itu juga memberikannya kenikmatan.
Tapi kali ini beda buat Robert. Hasratnya tidak seperti biasa. Ia yang seorang Casanova, sering bergonta-ganti pasangan one night nya, selalu hot di ranjang. Tapi malam ini, ia tidak begitu bergelora. Ia lebih pasif dari biasanya.
Setelah ritual itu selesai dalam beberapa waktu saja, Robert segera bangkit dari atas tubuh perempuan itu dan segera memakai pakaiannya kembali.
" Kamu kenapa berbeda sekali malam ini, sayang? " tanya perempuan itu.
" Bukankah yang penting kamu senang, Mariana? Kamu mendapatkan kebutuhanmu. " jawab Robert sambil menyalakan rokoknya.
( Mariana guys ternyata... Pastilah Mariana yang sama dengan yang mendekati Seno kan ya? )
Mariana bangkit, kemudian mengenakan kembali semua pakaiannya satu persatu.
" Sepertinya kamu sedang ada masalah. Belum pernah kamu seperti ini saat berhubungan denganku sayang. " ujar Mariana.
Robert sendiri juga bingung kenapa dia tidak begitu bernafsu dengan ikan asinnya. Dia kan ibarat seekor kucing. Yang apabila di suguhi ikan asin, langsung tancap gas dan memakannya.
" Apa ada barang kamu yang di sita polisi lagi? " tanya Mariana.
Robert tersenyum tipis. " Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. " jawabnya sambil menghisap rokok.
" Lalu ada apa? " tanya Mariana.
" Sudahlah. Tidak usah mengurusi urusanku. Katakan saja mau kamu apa. Tidak mungkin kamu datang kesini dan menyodorkan tubuhmu jika kamu tidak menginginkan sesuatu. " ucap Robert.
" Kamu memang yang paling tahu apa mauku, sayang. " sahut Mariana sambil tersenyum nakal.
Ia bangkit dari duduknya di sofa, kemudian menghampiri Robert yang ada di dekat meja. Ia meraih gelas dan menuang wisky dari botol itu, kemudian menyesapnya.
" Tidak ada seorang polisi wanita yang seperti dirimu, Mariana. Kau tidak layak menjadi seorang aparat pemerintah. Kebiasaanmu minum-minum, bermain laki-laki. Lebih baik kau bekerja di night club saja. " ledek Robert.
" Kau tahu sendiri sayang. Aku juga tidak menginginkan tempatku saat ini. Kau tahu kan, aku lebih suka menjadi seorang model. Tapi papaku yang sengaja memasukkanku di kepolisian. " ujar Mariana kemudian ia kembali menyesap minumannya.
" Tapi aku juga sedikit berterimakasih, karena di sana aku bertemu dengan pangeranku. Ha...ha...ha..." ujar Mariana.
" Sekarang mau kamu apa? " tanya Robert.
" Sama seperti sebelumnya. Kau jauhkan Senoku dari perempuan itu. " ujar Mariana.
" Istrinya maksudmu? " Robert bertanya kembali.
Mariana mengangguk. " Sama dengan yang kau lakukan terhadap Stella. Bukankah kau sudah bertemu dengan istri pangeranku bukan? " tanya Mariana
" Iya. Perempuan yang menarik. " tukas Robert.
" Ambil dia, dan jauhkan dia secepatnya dari Seno. " pinta Mariana.
" Kau tenang saja. Itu bukan hal yang sulit. " jawab Robert sambil tersenyum menyeringai.
" Oh iya, bagaimana kabar Stella? Apa dia masih bersenang-senang? " tanya Mariana.
" Tentu saja. Apalagi yang bisa dia lakukan selain bersenang-senang. Dia hanya tahu cara berbelanja dan menghabiskan uang. " sahut Robert.
" Jangan-jangan kau berencana menikahinya. " ujar Mariana.
Robert tersenyum mengejek. " Menikahinya? Tidak pernah terpikirkan olehku. Buat apa menghabiskan hidup bersama perempuan yang hanya tahu soal uang. Dia bahkan rela menyerahkan tubuhnya hanya untuk uang. Aku masih mempertahankannya karena aku masih membutuhkan tubuhnya dan servis malamnya. Ia cukup kreatif dan inovatif. " jawab Robert.
" Dasar kau. Maniak! " umpat Mariana.
***
bersambung