
Armell segera menggeleng. " Not for now. Lampunya masih merah. "
" Kamu sedang datang bulan? "
Armell menggeleng, " Perempuan kalau habis keguguran, itu hampir sama dengan setelah melahirkan. Darah akan keluar selama beberapa hari. Dan saat ini, aku masih belum bisa melayani mas. Martinez harus bersabar. Tunggu sampai paling tidak satu bulan, atau setelah aku datang bulan lagi. " jelas Armell.
" Hah? Selama itu? Oh, baby, apa tidak bisa di perpendek? " tanya Seno berang.
" Mas mau protes sama siapa? Itu sudah aturan dari sananya. Jangan di protes apalagi di tawar. Kayak beli ikan asin di pasar aja. Pakai di tawar. "
" Sabar, Martinez... Tunggu sebulan lagi. Selama sebulan ini, kita akan berduet dengan si Citra. " ucap Seno sambil mengelus perkututnya yang bernama Martinez itu.
" Siapa itu si Citra? Sekretarismu yang lain lagi? " tanya Armell tajam.
" Ck! Citra itu merk sabun, baby. Kalau kamu nggak bisa di ajak main, ya terpaksa aku main sama sabun. " jelas Seno. " Oh, ngomong-ngomong soal sekretaris, tadi si ' Big pump '? "
" Iya sekretaris mas itu songong bener. Ia sok penting gitu buat mas. Dia bilang kalau semua orang yang ada janji apapun sama mas, dia tahu semua. Jadi, saat dia lihat di diary dia mas nggak ada janji sama aku, aku di suruh balik. Udah gitu, saat kak Siska tanya, dia itu siapanya mas kok segala hal tentang mas dia harus tahu dan harus lewat dia, ehhh dia dengan sombongnya bilang kalau dia itu calon nyonya Seno Adiguna. Uuhhhh, sebel nggak sih. Pengen aku pelintir itu mulut lemesnya. " ujar Armell berapi-api.
" Belum tahu ya dia kalau istriku ini jago beladiri. Bisa patah semua tulang dia kalau sampai istriku marah. "
" Nah, betul. "
Seno tersenyum, " Ternyata istriku ini kalau lagi cemburu, lucu juga. " ucapnya sambil mengusap rambut Armell.
" Siapa yang cemburu? Nggak!! Cemburu sama cewek model kayak begitu. " elak Armell.
" Emang dia cewek model kayak gimana? "
" Cewek yang cuman ngandalin pantat semok, ***** gede. Aku sih yakin, suamiku pasti nggak bakalan suka. " ucap Armell dengan kepedean tingkat dewa.
" Kok bisa seyakin itu? " tanya Seno kepo.
" Ya iyalah. Secara dia kalau sama si uler keket Mariana, masih kalah jauh. Cantiknya, bodinya, otaknya... Duitnya juga. Sama Mariana aja suamiku nggak mau, apalagi sama dia. Heh..." ujar Armell tiada henti.
" Lagian Martinez juga nggak mau punya sarang abal-abal. Dia lebih pintar milih sarang yang orisinil. Kualitas no 1. Bukan KW. Masih Gress. Bukan seken yang bekas orang. " tambahnya.
" Kok kamu bisa kepikiran kalau dia barang seken? "
" Ya pasti lah. Lihat aja body nya. Udah melebar kemana-mana. Pasti udah banyak di jamah dimana-mana. Pantatnya juga udah melorot. Pasti juga udah di reyen sama orang. " ujar Armell tanpa di rem.
" Berarti istriku juga udah melebar kemana-mana dong. Coba lihat. Toketnya udah tambah gede apa belum? " goda Seno sambil meraba dada Armell.
Plak
Tangannya di pukul oleh Armell. " Jangan macem-macem ya mas. Martinez puasa. Jadi tangan mas juga puasa. Kasihan Martinez ntar. " ucap Armell.
Seno malah tergelak dengan ucapan Armell. Seno bahagia melihat Armell yang seperti ini. Istrinya sudah kembali. Istrinya sudah riang lagi seperti dulu. Lalu ia mengecup kening dan puncak kepala Armell berkali-kali.
" Eh, mas, big pump artinya apa? Kok kamu manggil sekretarismu itu si big pump? "
" Itu si Rezky sama si Dion yang kasih julukan. Aku ngikut aja. "
" Artinya apaan? "
" Big apa artinya? "
" Besar "
" Pump? "
" Pompa. "
" Artinya itu ya kayak yang kamu bilang tadi baby. Toketnya melebar. ***** kan tempat mompa ASI kan. "
" Ha...ha...ha... Ada-ada aja kamu mas. " Armell tergelak.
" Bukan aku yang kasih nama, baby. "
" Iya ..iya ..ah. Mmm, mas ..aku kok tidak suka ya sama sekretaris mas itu. Aku lebih suka sekretaris yang kayak kak Inez, sekretarisnya papa. Baik, pinter, yang penting nggak suka menggoda bosnya." sahut Armell.
" Sebenarnya aku juga nggak suka punya sekretaris kayak Desi itu. Tapi dasar mertua kamu itu. Katanya, ingin menguji imanku. Juga kesetiaanku sama kamu. " ujar Seno agak kesal.
" Eh, ngomong-ngomong soal papa sama mama, aku jadi kepikiran. "
" Kepikiran gimana ? "
" Papa sama mama pasti kecewa banget sama aku." ujar Armell dengan suara sedihnya.
" Mereka nggak gimana-gimana sama kamu, baby. Kamu jangan suka berpikir yang nggak-nggak deh. Kejadian itu, murni karena kehendak yang di atas. " sahut Seno sambil membelai rambut Armell.
Seno merengkuh tubuh Armell dalam dekapannya. " Baby, mereka tidak kecewa sama sekali. Sama seperti diriku. Mereka sangat menyayangimu. Kamu tahu, setiap hari mama selalu menanyakanmu. Mama selalu bilang ke aku, ' Kamu harus segera membawa putriku kembali. Kalau tidak, papa sama mama yang akan membawanya kembali. Dan kami, jangan harap bisa menemuinya lagi.' Itulah yang selalu mama katakan jika dia menghubungiku. " ujar Seno sambil menirukan gaya mamanya saat berbicara.
Armell tersenyum. " Aku bodoh kan ya mas? Udah punya suami, dan mertua yang saaaaangat baik, tapi aku malah berbuat seenaknya sendiri. "
Seno mengecup puncak kepala Armell.
" Mas, kita ke rumah papa yuk. " ajak Armell penuh semangat.
" Ngapain? " tanya Seno malas.
" Ya ketemu mama sama papa lah. Mell kangen sama mereka. Tadi mas bilang, mereka juga kangen sama Mell. " bujuk Armell.
" Oke, besok kita kesana. "
" Nggak mau. Mell maunya sekarang. " ujar Armell.
" Tapi janji, ntar jangan mau kalau di minta mama nginep di sana. " pinta Seno.
" Emang kenapa kalau kita nginep ? "
" Baby, kita baru ketemu setelah satu minggu. Aku masih kangen sama kamu. Aku masih pengen berduaan sama kamu. " ujar Seno.
" Ya Allah mas, tadi Mell udah bilang kan, Mell masih merah lampunya. Nggak bisa ngapa-ngapain. Ngapain juga berduaan kalau nggak bisa ngapa-ngapain coba. " sahut Armell.
" Ya kan bisa ngapa-ngapain versi lain, beb. Yang lampunya masih nyala merah kan yang sarangnya Martinez. Tapi yang lain kan nggak. Ayolah, baby. Please. Kita pulang ke rumah kita entar. " rajuk Seno.
" Iya...iya. Ya udah, mas masih ada kerjaan nggak sekarang? Kalau masih ada, cepetan di selesaiin. Habis itu kita terus ke rumah mama. "
" Mmmm....Ada sih kerjaan. Tapi bisa lah di kerjain besok. Atau ntar biar di kerjain sama Rezky. " sahut Seno.
" Enak banget jadi bos ya. Udah berhari-hari nggak ngantor, sekalinya ngantor, males ngapa-ngapain. Kasihan bang Rezky mas. Dia pasti udah kamu bikin lembur saat kamu nggak ngantor. " ujar Armell sambil menjauhkan tubuhnya dari dekapan Seno.
" Siapa yang udah bikin aku nggak ngantor berhari-hari? Hem? " tanya Seno sambil memencet hidung istrinya.
" Iya deh iya. Mell yang salah. "
" Diiihhh, istriku kalau ngambek gini ngegemesin. Pengen nyosor tuh bibir. " goda Seno. Membuat Armell langsung menekuk bibirnya dan menarik menyembunyikannya ke dalam mulut.
Seno menjadi tergelak. Lalu ia berdiri dan menuju ke meja kerjanya.
" Ya udah kamu tunggu bentar, aku pelajari satu berkas lagi. Habis itu kita pulang. " ucap Seno.
Armell mengangguk. " Mas habis ini kira-kira ada tamu nggak? "
Seno mencoba mengingat, " Sepertinya nggak sih. Kenapa emang? "
" Mau rebahan aja. " ucap Armell.
" Ya udah rebahan aja. Kamu juga pasti capek habis perjalanan jauh. Oh, apa kamu mau istirahat dulu di kamar? " tanya Seno.
" Mell disini aja. Kalau disini, bisa sambil lihatin mas kerja. " ucap Armell sambil mengangkat kedua kakinya ke atas sofa, dan merebahkan tubuhnya di sana. Seno tersenyum mendengar jawaban dari Armell.
Seno lalu segera meneliti berkas yang akan di telitinya. Sepuluh menit berlalu. Seno masih sibuk dengan berkasnya. Ternyata banyak yang harus dia teliti. Ia melirik ke arah istrinya, lalu tersenyum.
" Katanya mau lihatin aku kerja. Kok malah tidur. " gumam Seno sambil menggelengkan kepalanya.
Tak lama kemudian, pintu ruangan itu di buka dari luar.
" Sudah berapa kali saya bilang, ketuk dulu pintunya sebelum masuk. " ujar Seno tegas tanpa melihat siapa yang datang. Karena dia sudah tahu siapa yang mempunyai kebiasaan seperti itu.
" Maaf, tuan. Lupa. Sudah berasa di ruangan sendiri soalnya. " jawab orang itu yang tak lain adalah Desi, si sekretaris.
Dia melenggak-lenggok menuju meja Seno, tapi di tengah perjalanan, dia berhenti. Melihat ke sofa. Ia melihat Armell sedang asyik tidur di sana.
" Siapa sih cewek ini? Enak banget dia tiduran di sofa calon suamiku. Awas aja kalau aku sudah menjadi nyonya Seno. " batin Desi. Lalu ia segera melanjutkan perjalanannya.
" Ngapain kamu di sini? Saya tidak menyuruhmu kesini. " ujar Seno masih tanpa melihat ke arah Desi.
" Tuan mau sesuatu? Mau saya buatkan kopi, atau teh? Untuk menemani tuan bekerja. " tawar Desi.
" Nggak usah. Makasih. Aku udah cukup di temani dia. " jawab Seno sambil menunjuk Armell dengan dagunya. " Sebaiknya kamu cepat keluar. Biar saya bisa cepat menyelesaikan pekerjaan saya dan segera pulang. "
" Ck. " Desi berdecak. Dan dengan wajah cemberutnya, ia berbalik badan dan meninggalkan ruangan Seno.
***
bersambung