My Handsome Police

My Handsome Police
Kenapa Tuhan mengambil dia??



" Anak kita mas ....Anak kita....Kenapa dia harus pergi meninggalkan kita...Huuu...huu..." ucap Armell sambil menangis.


Seno semakin mempererat pelukannya sambil mencium puncak kepala Armell lama.


" Aku ini ibu yang bodoh kan mas...Aku bahkan tidak tahu kalau anak kita sudah hadir dalam rahimku....Ibu macam apa aku ini????? " teriak Armell.


" Baby....." Seno bingung harus berkata apa. Ia juga sangat merasa bersalah. Karena ia juga tidak tahu tentang keberadaan anaknya. Ia bahkan sudah menambah pikiran istrinya dengan tuduhan dan kata-kata kasarnya.


" Mas, kenapa Tuhan mengambil dia? Tuhan tidak percaya sama kita untuk menjaga titipannya mas... Tuhan mengambilnya lagi. Itu karena aku ibu yang nggak becus...Aku ini ibu yang buruk...." teriaknya sambil memukul-mukul tubuhnya sendiri. Armell ingin menghukum dirinya sendiri karena telah menelantarkan calon bayinya.


" Baby.....Baby, jangan seperti ini. " ucap Seno sambil menghentikan tangan Armell yang memukuli tubuhnya.


" Aku bersalah mas. Aku yang tidak bisa menjaga anak kita...Huuu....Huuu....Aku membiarkan laki-laki itu memukul dan menendang perutku...Aku tahu, ini pasti karena kejadian waktu itu. Laki-laki itu telah membuatku kehilangan anakku....Anak yang bahkan belum sempat aku ketahui keberadaannya. " pekik Armell. Ia marah. Bahkan ia semakin membenci Robert.


" Baby, tenanglah....Aku mohon baby, kamu tenang...Jangan seperti ini. Jangan melukai diri kamu seperti ini. " ujar Seno masih menenangkan istrinya.


" Maafkan aku ya mas. Aku yang udah membuat anak kita tidak bertahan. Aku nggak becus jadi istri. Aku nggak pantas jadi istri kamu mas. " ujar Armell.


" Jangan bicara seperti itu, baby. Please, aku mencintaimu. Sampai kapanpun aku akan tetap mencintaimu. " ucap Seno.


" Tapi aku udah bunuh anak kita mas...Aku yang udah menyebabkan dia meninggal. Bahkan jantungnya saja belum sempat berdetak. Papa sama mama kamu juga pasti sangat kecewa sama aku. Aku tidak bisa menjaga cucu mereka. " pekik Armell kembali masih dengan deraian air mata.


Seno berpindah tempat. Kini ia duduk di depan Armell. Ia menangkup wajah Armell.


" Look at me baby. Kita tidak ada yang kecewa sama kamu. Papa sama mama juga. Semua sudah kehendak Tuhan. Bagi Tuhan, mungkin kita belum mampu untuk menjaga titipannya. Aku yakin baby, suatu saat Tuhan pasti akan kembali memberi kita kepercayaan. Kamu pasti akan hamil lagi. " ujar Seno panjang lebar sambil menatap mata Armell dalam-dalam.


" Aku nggak pantas jadi istri kamu mas. Aku bukan perempuan yang sempurna. " Armell masih kekeh dengan pendapatnya.


" Aku mau pergi. Aku nggak pantas ada di sini. " tambah Armell. Kini ia berusaha melepas selang infusnya.


" Armell! Apa yang kamu lakukan? " teriak Seno sambil kembali memegang kedua tangan Armell.


" Aku mau pergi, mas. Aku mau pergi....Aku ini ibu yang jahat..." teriak Armell. Tangan Armell yang di pasang infus sampai mengeluarkan darah.


" Baby, kamu tenanglah. Please. " pinta Seno lirih.


" Pergi kamu mas. PERGI!!!!" pekik Armell sambil berontak berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Seno. Tapi Seno tidak membiarkannya.


" Aku mau menyusul anakku mas. Kamu biarkan aku pergi. Lepaskan aku!!!!" teriaknya.


" Pa....Papa....." teriak Seno memanggil papanya.


Tuan Adiguna langsung masuk ke dalam ruangan itu buru-buru. Belum sempat tuan Adiguna bertanya, Seno sudah meminta tolong kepadanya.


Tuan Adiguna melihat menantu kesayangannya hatinya juga ikut sakit. Beliau langsung kembali keluar dan memanggil suster. Nyonya Ruth dan ibu Armell segera masuk ke ruangan.


Sampai di dalam ruangan, mereka langsung membekap mulutnya melihat kondisi Armell yang begitu berantakan dan darah yang mengalir di tangannya. Seno sedang memegang kedua tangan Armell.


Tak lama kemudian, tuan Adiguna datang kembali bersama dokter Ratna dan seorang suster.


" Dokter, tolong istri saya. " pinta Seno.


Dokter Ratna dan suster segera menghampiri Seno dan Armell. Dokter Ratna juga terkejut melihat kondisi pasiennya ini. Tadi pagi saat ia menyampaikan kabar, Armell terlihat tenang. Ia tidak menyangka jika Armell akan menjadi seperti ini.


Dokter Ratna segera menyuntikkan obat penenang di selang infus Armell. Selang beberapa saat, Armell nampak semakin lemas. Dan akhirnya ia tertidur. Ketika Armell sudah menutup matanya, Seno baru melepas tangan Armell. Kini ia membantu merebahkan tubuh Armell.


Dokter Ratna segera membenarkan selang infus yang ada di tangan Armell. Setelah selang itu kembali terpasang dengan benar dan darah tak lagi keluar dari tangan Armell, dokter Ratna dan suster segera pamit.


Sepeninggal dokter dan suster, Seno duduk di kursi di sebelah ranjang Armell. Ia menyangga kepalanya dengan kedua tangannya di taruh di dahinya. Ia menunduk. Hatinya semakin terasa perih melihat kondisi istrinya.


Tuan Adiguna mendekat, beliau menepuk-nepuk pundak Seno. " Kamu yang kuat. Kamu harus bisa menjadi kekuatan bagi istri kamu. " beliau tahu, saat ini anak laki-lakinya itu sedang menangis. Dari luar kamar tadi, beliau juga mendengar semua yang di ucapkan oleh menantunya.


" El nggak sanggup jika harus melihat Armell seperti tadi lagi pa. Hati El sakit pa. " ujar Seno lirih.


" Kamu yang sabar. Kita akan melakukan semua hal yang kita bisa untuk mengembalikan Lusi seperti dulu. Biarkan dia tenang dulu. Setelah dia tenang, kita akan bicara dengannya pelan-pelan. Sekarang, kita harus memberinya semangat dan perhatian. Jangan sampai dia masih tetap mengira kalau kita kecewa kepadanya. Kita kasih tahu dia pelan-pelan, kalau dia masih tetap bisa mengandung lagi. Dia tetap bisa mempunyai bayi sendiri. " ujar tuan Adiguna.


Seno mengangguk setelah mendengar ucapan papanya. Ia memandang dalam diam wajah Armell. Lalu membelai rambutnya. Mengusap pipinya.


Jam terus berputar. Malam telah kembali menyapa. Armell masih enggan untuk membuka matanya. Ia masih asik dengan dunianya di alam mimpi. Seno bahkan sudah menemui dokter menanyakan kenapa istrinya masih belum bangun.


Ketika dokter memeriksanya, dokter tidak melihat ada yang janggal. Menurutnya, itu kemauan bawah sadar Armell yang enggan bangun.


Karena hari sudah malam, Seno meminta papa, mama, serta ibu dan adik iparnya untuk pulang dan datang kembali esok hari.


Kini Seno menunggui istrinya sendirian. Ia sudah bersiap-siap jika nanti tiba-tiba Armell bangun dan berontak seperti tadi. Tadi dokter Ratna juga menyarankan, supaya Seno meminta bantuan psikolog untuk menerapi kejiwaan Armell supaya kesedihannya dan rasa bersalahnya tidak berlarut-larut.


Sambil menunggu istrinya, Seno melakukan panggilan ke Bryan. Ia meminta pendapat Bryan tentang saran dokter Ratna. Dan Bryan mengatakan kalau tidak ada salahnya di coba. Ia juga merekomendasikan psikolog terbaik di rumah sakit itu.


Sampai pukul sebelas malam, Armell masih belum membuka matanya. Akhirnya Seno memutuskan untuk naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping Armell. Ia juga capek. Bukan karena pekerjaan yang membuatnya capek. Tapi hatinya yang membuatnya capek. Ia tidur miring sambil melingkarkan tangannya ke perut Armell. Lalu ia segera menyusul Armell ke alam mimpi.


***


bersambung


Guys, author sempet²tin nulis satu episode lagi nih...Semoga kalian nggak kecewa ya...Besok kita sambung lagi ..