My Handsome Police

My Handsome Police
Welcome to the world, Prince



" Lo ngapain di luar sendirian? " tanya Bryan ketika ia hendak masuk ke dalam kamar rawat inap Armell dan mendapati Pipit sedang duduk sendirian di bangku depan kamar Armell. Pipit terlihat sedang termenung.


Mendengar suara bariton laki-laki yang di kenalnya, Pipit menengadahkan kepalanya melihat ke arah laki-laki itu.


" Lo ngapain di luar sendirian? Bukannya ikut nemenin Kakak lo. " ulang Bryan.


Pipit kembali menunduk sambil menggeleng pelan tanpa menjawab dengan kata-kata. Bryan mengernyitkan alisnya, lalu duduk di sebelah Pipit.


" Lo kenapa? " tanya Bryan sambil mengamati wajah Pipit yang terlihat lesu. " Lo sakit? " tanyanya kembali ketika melihat wajah Pipit yang agak pucat. Bryan memegang tangan Pipit sebentar untuk mengecek suhu badan Pipit. " Tangan lo dingin banget. " lanjutnya.


Pipit segera menepis tangan Bryan saat menyadari Bryan menggenggam tangannya.


" Gue tanya. Lo sakit? " tanya Bryan kembali. Pipit masih stay dengan diamnya. " Eh, kalau orang tua nanya itu di jawab. Entar kuwalat loh. " seru Bryan.


Pipit menatap wajah bule Bryan. Bryan menaikkan kedua ujung bibirnya. Membuatnya semakin tampan. Sayang, Pipit tidak tertarik.


" Eh, jangan bilang....Lo takut lihat kakak Lo yang mau lahiran ya? " ledek Bryan.


" La Lo...La Lo....Saya nggak ngerti ya bahasa apa itu Lo gue. Gaje! " seru Pipit dengan nada agak tinggi.


" Iya...iya .. sorry...Aku ulang nih, kamu kenapa? Sakit? Pusing? Tangan kamu dingin banget. " ujar Bryan lembut karena ia sadar ia lupa telah menggunakan bahasa Lo gue lagi.


Pipit menggeleng. " Pipit nggak pa-pa kok bang. Pipit sehat. Wal Afiat. " jawab Pipit sambil sesekali menggoyang-goyangkan kedua kakinya.


" Terus kenapa badan kamu dingin. Kamu juga kayak gelisah gitu. Jangan-jangan bener kamu takut lihat kakak kamu mau lahiran. " ujar Bryan.


Pipit mengangguk pelan.


" Kenapa mesti takut? " tanya Bryan sambil mengernyit.


" Ya takut aja bang. Ngebayangin besok Pipit juga kayak gitu. " jawab Pipit.


" Semua perempuan juga pasti bakal mengalami masa itu. Tapi tiap orang beda-beda. " sahut Bryan.


" Ih, Abang kayak yang pernah ngelahirin aja. " gerutu Pipit. " Bang, mbak Mell tuh cewek yang kuat. Selalu bisa menahan rasa sakit. Dapet tendangan dari lawan pas tanding aja dia nggak pernah ngeluh. Baru kali ini Pipit lihat mbak Mell mengeluh kesakitan. Berarti sakitnya kan banget. " ujar Pipit.


" Ya emang begitu kalau melahirkan. Memang sakit. Kalau orang-orang bilang, sakitnya tiada duanya. Tapi masak iya kamu takut sampai badan kamu dingin gini. Emang kamu besok nggak pengen gitu punya anak? " tanya Bryan.


" Ya pengen lah bang. Tapi takut kalau sakitnya kayak gitu. Emang nggak ada ya caranya biar nggak sakit kalau mau lahiran? " tanya Pipit dengan memandang ke Bryan.


" Ada. Macem-macem. " jawab Bryan.


" Pipit mau bang. Kalau gitu Pipit nggak jadi takut hamil. " sahut Pipit. " Emang kayak apa itu bang caranya? " tanyanya.


" Kalau kamu jadi istriku nanti, pasti aku kasih cara biar kalau melahirkan nggak sakit. " jawab Bryan enteng.


" Ih, ogah. Pipit nggak mau punya suami yang udah bau tanah. Udah gitu udah celup sana celup sini. Ih, Pipit ogah dapet yang seken. " ujar Pipit. Membuat Bryan melotot.


" Sama yang bilang kalau aku suka asal celup. " ujar Bryan nggak terima. " Kamu tuh masih kecil, tahu apa soal celup-celup. "


" Tahu lah. Hari gini nggak tahu soal celup-celupan, bisa di kadalin sama laki-laki buaya. " seru Pipit.


" Jangan-jangan kamu udah pernah nyoba di celupin. " tukas Bryan.


" Enak aja. " protes Pipit sambil memukul lengan Bryan. " Pipit masih orisinil ya. Masih segelan asli dari yang di atas. " lanjutnya.


" Bagus. Berarti kamu menjaganya dengan baik. Suami kamu kelak pasti akan sangat bahagia dapet yang masih tersegel utuh. " ujar Bryan sambil manggut-manggut dan dengan senyuman anehnya.


Brak....( Suara pintu dibuka dengan keras dari dalam ).


Seno keluar dari dalam kamar dengan tergesa-gesa dan dengan wajah panik. Melihat Seno keluar, Pipit juga Bryan segera bangkit dari duduk mereka.


" What happen bro? " tanya Bryan.


" Bry, tolongin gue. Panggilin dokter Ratna. Armell semakin kesakitan. Dan sakit yang dia rasakan semakin sering datang. Dia juga katanya pengen mengejan. Dia bilang rasanya ada yang mau keluar dari perutnya. " jelas Seno dengan panik.


" Lo bawa bini Lo langsung ke ruang penanganan. Lo gendong aja buruan. Kelamaan kalau harus nunggu suster bawa brankar. Gue siap-siap dulu. " ujar Bryan.


Bryan segera berlalu dari depan kamar Armell. Ia segera menghubungi asisten utama dokter Ratna dan beberapa orang suster. Seno segera kembali ke dalam kamar diikuti oleh Pipit dari belakang.


Sampai di kamar, Seno langsung mengangkat tubuh Armell di bawa dalam dekapannya.


" Bryan nyuruh langsung bawa ke ruang penanganan. " Seno memberitahu ibu, mama, juga papanya.


Lalu ia membawa Armell dalam gendongannya dengan sedikit berlari dan diikuti anggota keluarga yang lain.


Seorang suster telah menunggu mereka di depan pintu ruang penanganan. Melihat Seno datang dengan menggendong sang istri, suster itu segera membuka pintu lebar-lebar.


Sampai di dalam kamar, Seno merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang. Seno celingukan mencari dokter Ratna. Di sana ia hanya melihat asisten dokter Ratna yang bernama Ana.


Bryan berada di sana dan sudah mengenakan baju kebesarannya yang di lapisi oleh pakaian bedah. Sarung tangan medis dan masker juga sudah terpasang di tangan dan mukanya.


" Dokter Ratna mana? " tanya Seno.


" Dokter Ratna masih menjalani operasi sesar seorang pasien yang keadaannya buruk. " sahut Bryan.


" Terus siapa yang akan membantu proses persalinan bini gue? " tanya Seno.


" Gue. " sahut Bryan.


Jeddarr....Bagai ada petir yang menyambar di telinga Seno.


" Apa? Lo? Lo yang bakalan bantu bini gue? " tanya Seno.


Bryan mengangguk sambil memberikan instruksi ke suster supaya segera mempersiapkan Armell.


" Nggak.... Nggak.... Nggak bisa. Gue mau dokter Ratna aja. Gue nggak mau Lo cari kesempatan lihatin punya bini gue. " ujar Seno.


" Lo mau nunggu dokter Ratna? Lo nggak kasihan sama bini Lo? " bentak Bryan sambil menunjuk Armell yang tengah kesakitan. " Dokter Ratna selesai operasi masih sekitar satu jam lagi. " tambahnya.


" Emang di rumah sakit segede ini cuma punya satu dokter kandungan. Nggak kan? " kekeh Seno.


" Gue kasih tahu Lo. Dokter kandungan di rumah sakit ini, ada 3. Tapi yang perempuan cuma dokter Ratna. Yang 2 laki semua. Lo tinggal pilih, Lo mau punya bini Lo di lihatin sama gue yang sahabat Lo sendiri, atau Lo lebih milih di lihatin sama laki-laki yang Lo nggak kenal sama sekali? " Bryan memberikan pilihan yang cukup berat ke Seno.


Seno terdiam. Ia nampak berpikir.


" Masss..... sakit...." erang Armell memegang tangan Seno erat. Seno menoleh ke arah istrinya. Sedangkan Bryan hanya diam saja.


" Baby...." Seno menggenggam tangan Armell.


" Mas cepetan putusin....Mell udah nggak kuat. " keluh Armell kembali.


Seno memejamkan matanya sesaat. Ia berusaha menekan sifat egois dan posesifnya terhadap sang istri. Ia tidak mungkin menunggu dokter Ratna selesai dengan operasinya.


" Lo yakin bisa bantu bini gue? Lo kan spesialis bedah. " tanya Seno menoleh ke Bryan.


" Kita sama-sama berdoa. Gue emang spesialis bedah. Tapi waktu kuliah gue juga di ajarin soal persalinan. Gue juga sering mendampingi dokter Ratna maupun dokter kandungan yang lain saat mereka melakukan operasi ataupun persalinan normal. Jadi gue tahu gimana caranya. Dan asal Lo nggak lupa, IQ gue di atas Lo. Cuma dengan melihat, semuanya langsung terekam di otak gue. " jelas Bryan.


" Oke. Gue percaya sama Lo. " ujar Seno mantap.


" Gue usahakan sebisa mungkin buat membantu bini Lo tanpa melihat punya dia. " ujar Bryan sambil mengedipkan matanya menggoda Seno.


" Ck. " Seno berdecak.


Lalu Bryan segera berdiri di bawah Armell.


" Suster Ana, tolong bantu saya. Saya akan mengecek pasien sudah pembukaan berapa. Kamu arahkan tangan saya. " pinta Bryan. Ia berusaha untuk tidak melihat langsung milik Armell. Ia hanya menggunakan tangan juga Indra perasanya dan instingnya.


Suster Ana melakukan apa yang di minta Bryan. Ia memegang tangan Bryan dan mengarahkan tepat di jalan lahir sang penerus Adiguna.


" Sudah buka 10 sempurna sus. Kita langsung mulai proses mengeluarkan si jabang bayi. " ujar Bryan.


" Bro, calon anak Lo sudah tidak sabar melihat indahnya dunia. Lo bantu doa. Dan kasih semangat ke bini Lo. " ujar Bryan.


Seno hanya mengangguk. Ia menggenggam erat tangan Armell. Armell pun menggenggam erat tangan suaminya. Sesekali Seno mengecup kening Armell.


" Semangat baby. Sebentar lagi kita akan melihat anak kita. Sebentar lagi Adiguna junior akan launching. " ucap Seno.


" Mell, kamu ikuti instruksi saya. Sekarang, tarik nafas dalam-dalam, lalu hembuskan. Berusaha untuk rileks dulu. " seru Bryan.


Armell mengikuti arahan Bryan. Kini ia sudah agak rileks.


" Sekarang, tarik nafas panjang, saat saya bilang mengejan, kamu mengejan. " seru Bryan kembali. Armell mengangguk.


" Tarik nafas panjang sekarang.. " titah Bryan.


Armell segera menarik nafas panjang.


" Mengejan sekarang. " titah dokter Bryan.


" Mmmmpptt......" Armell mengejan sekuat tenaga.


" Belum dok. Baru kepala yang terlihat sedikit. Tapi sepertinya kembali masuk. " suara suster Ana terdengar memberitahu Bryan.


Bryan mengangguk. " Kita ulangi sekali lagi Mell. Mengejan yang lebih kuat. "


Armell mengangguk sambil dengan nafas yang masih agak ngos-ngosan. Seno kembali mengecup kening Armell dengan mata berkaca-kaca.


" Tarik nafas panjang lagi..." seru Bryan. Armell kembali menarik nafas panjang. " Mengejan sekarang. " lanjut Bryan.


" Mmmmpptt......" Armell kembali mengejan.


" Bagaimana sus? " tanya Bryan ke suster Ana.


" Masih sama dok. " jawab suster Ana.


Bryan menghela nafas kasar. Tidak bisa jika seperti ini. Dia harus turun tangan. Yang artinya, ia harus menunduk dan melihat langsung proses bayi itu akan keluar. Ia juga harus memperlebar jalan lahir jika memang bayi itu kesulitan untuk keluar.


" El, gue minta ijin dari Lo. Gue harus lihat sendiri proses anak Lo mau keluar. Nggak bisa kalau cuma kayak gini. Anak Lo susah keluarnya. " ujar Bryan.


Seno menarik nafas dalam-dalam. Lalu ia mengangguk. " Asal Lo nggak macem-macem. " ancamnya.


" E lah bro. Gue tahu itu cuma milik Lo. Lo tenang aja. Gue nggak akan terpengaruh. Gue pastikan, belalai gajah gue akan tetap tidur pulas. " sahut Bryan kesal.


" Suster Ana, kamu bantu dorong dari atas. Di sini, biar saya yang atasi. " ujar Bryan.


Suster Ana segera berpindah tempat.


" Armell, kita lakukan yang seperti tadi sekali lagi. Dorong yang kuat biar anak kamu segera keluar. " ujar Bryan. Armell mengangguk.


" Sekarang tarik nafas panjang...." titah Bryan sambil menunduk di bawah Armell. " Mengejan sekarang. " lanjutnya.


Bryan sedikit mengiris jalan lahir bayi untuk memudahkan proses melahirkan. Suster Ana membantu mendorong dari atas perut Armell.


Armell mengejan dengan mengeluarkan seluruh tenaga yang tersisa. " Mmmmpppppptt......"


" Ayo baby...Yang kuat....Jangan biarkan si Casanova itu melihat punyamu terlalu lama. " ujar Seno memberikan semangat.


" Sedikit lagi Mell.... Kepalanya sudah hampir keluar. " seru Bryan dari bawah. Ia tidak menghiraukan ucapan sahabatnya tadi.


" Mmmppptttt......" Armell masih mengejan dengan sekuat tenaga.


" Oek....Oek...Oek...." terdengar tangis bayi membahana di seluruh ruangan.


" Welcome to the world, prince....Made in Perancis, lahir juga minta di bantuin sama uncle from France too..." seru Bryan setelah memotong tali pusat bayi dan melihat jenis kelamin sang bayi.


***


Bersambung


Akhirnya... launching juga kan penerus Adiguna.... Selamat buat Seno juga Armell....


Hmmm.... ternyata si baby maunya keluar di bantuin sama uncle from France....😄😄


Othor juga punya cerita baru nih ... lapaknya Bryan sudah mulai...ayo dong guyysss...


ramaikan juga yang di sana...cerita Armell juga Seno bentar lagi end loh....dan insyaallah cerita mereka nanti agak lanjutannya di lapak Bryan...


Ini nih penampakan karya othor yang baru...