My Handsome Police

My Handsome Police
Mulai bucin



" Mau kemana kamu? " tanya Seno langsung menghampiri Armell saat Armell menyibak selimutnya mau turun dari tempat tidur.


" Pengen ke kamar mandi. Kebelet pipis. " jawab Armell sambil meringis.


Seno segera menelusupkan tangan kanannya di bawah paha Armell.


" Mau ngapain? " tanya Armell dengan tangannya yang memegang tangan Seno yang menelusup di bawah pahanya


" Katanya mau ke kamar mandi? Ya mau gendong kamu ke kamar mandi. " jawab Seno sambil memandang Armell.


" Nggak... Nggak usah. Mell bisa sendiri. " sahut Armell.


" Yakin? " tanya Seno.


Armell mengangguk. Seno lalu menarik kembali tangannya. Ia ingin melihat seberapa kuat istrinya yang keras kepala itu untuk berjalan. Karena ia tahu, kaki Armell terkilir dan bengkak.


" Au..." Baru saja berdiri dan melangkah satu langkah, tubuh Armell limbung dan hampir saja jatuh kalau saja Seno tidak segera menangkap tubuhnya.


" Masih keras kepala? " tanya Armell sambil mengangkat tubuh Armell di bawa ke dalam di dekapannya dan di bawa ke kamar mandi. Armell merasakan pipinya terasa panas saat menyadari kalau saat ini tubuhnya menempel ke tubuh Seno. Ia memalingkan wajahnya.


Sampai di kamar mandi, Seno menurunkannya, tapi masih memegang tubuh Armell.


" Mau aku bantuin buka celananya sekalian? " goda Seno.


" Ih, nggak ya. " jawab Armell cepat sambil menutup pahanya dengan sebelah tangannya. Sedang tangan yang satunya masih berpegangan pada lengan Seno.


" Eh, kok ....Kok aku ...." Armell terlihat terkejut dan bingung ketika ia baru sadar kalau dia sudah berganti baju.


" Kenapa? " tanya Seno mengernyit.


" Kok baju aku jadi gini. Ini kan kemeja mas. " ujar Armell.


" Iya, semalam aku ganti baju kamu sama kemeja aku. "


" Apa?" Armell melotot mendengar penjelasan seno. dengan suara agak tinggi.


" Mak-maksud aku, Lilik yang bantuin ganti baju kamu. Sama kemeja milikku. Bukan aku yang gantiin. " jawab Seno gelagapan karena dia sudah keceplosan.


" Kenapa masih melotot gitu? Nggak percaya? Kalau nggak percaya, tanya aja noh sama Lilik. Lagian emang kenapa kalau memang aku yang udah gantiin baju kamu. Halal kan? Boleh kan? Nggak dosa dan nggak salah kan? " Seno semakin menggoda Armell.


" Aaa....Ssshhhh...." Armell berteriak sambil memukul lengan Seno tapi kemudian ia mendesis karena bibirnya kembali terasa perih, juga tangannya yang terasa sakit.


" Ha...ha...ha...sakit kan? Makanya nggak usah teriak-teriak. Udah, buruan pipisnya. Ntar ngompol lagi....Nih, sini pegangan sini. " ucap Seno sambil masih menggoda Armell dan sambil meletakkan tangan Armell di wastafel.


" Kalau udah selesai, panggil aku. Aku nunggu di depan pintu. Cup. " ujar Seno kemudian mengecup kening Armell, dan ia lalu keluar dari kamar mandi sambil tersenyum tipis.


Seno benar-benar menunggu Armell di depan pintu. Beberapa saat kemudian, terdengar pintu kamar mandi terbuka. Armell keluar dengan merambat berpegangan pada dinding.


Seno langsung kembali menggendongnya saat Armell sudah di depan pintu. Kembali jantung Armell berdetak kencang. Seno masih menerbitkan senyum tipis di bibirnya.


Perlahan, Seno membaringkan Armell ke tempat tidur.


" Mas nggak kerja? Kok belum siap-siap. Udah jam setengah tujuh lebih lho ini. " ujar Armell.


Seno menggeleng, " Aku ambil cuti beberapa hari ke depan. "


" Kenapa? Mas lagi sakit? Atau ada urusan mendesak? " tanya Armell kembali.


Seno duduk di dekat kaki Armell, lalu menjawab pertanyaan Armell, " Bukan aku yang sakit. Tapi istri aku yang sakit. Nggak mungkin kan aku ninggalin istriku yang lagi sakit? Dan ini juga termasuk urusan mendesak. "


Deg


Armell merasa semakin aneh dengan detak jantungnya saat mendengar kata-kata Seno. Armell merasa begitu di hargai oleh suaminya. Sampai Seno rela mengambil cuti hanya untuk menjaganya.


" Apalagi, kamu jadi seperti ini juga karena aku. " tambah Seno.


Armell terdiam. ' Jadi dia melakukannya karena merasa bersalah? Kenapa aku jadi ge er sih. ' batin Armell.


" Kaki kamu terkilir ini. " ujar Seno sambil menunjuk kaki Armell yang membengkak.


Armell ikut melihat kakinya. Kemudian mengangguk.


" Aku urut. Biar cepat sembuh. " lanjut Seno.


Armell menarik kakinya, sambil berkata, " Emang mas bisa? Ntar malah jadi malpraktek. "


" Heh, aku ini seorang polisi ya. Saat pendidikan, kami juga diajari memijat dan mengurut tangan atau kaki yang terkilir. " jawab Seno sambil menarik perlahan kaki Armell.


" Kamu tahan. Ini pasti akan sakit. Kalau aku lihat, terkilirnya cukup parah. " kata Seno. Armell hanya mengangguk. Dia sudah pasrah mau diapakan juga terima asalkan kakinya cepat sembuh supaya dia tidak perlu merepotkan Seno terus menerus.


Seno mulai mengurut kaki Armell dengan minyak urut perlahan-lahan. Mengurut dan mengurut, sambil sesekali menatap ke Armell. Seno tahu kalau hal ini pasti sangatlah sakit. Tapi Armell menahan rasa sakit itu dengan baik. Bahkan Armell tidak berteriak kesakitan sedikitpun. Kalau perempuan lain, pasti berteriak-teriak kesetanan karena sakitnya di urut. Seno merasa salut dengan sang istri. Dan membuatnya semakin menyayangi istri belianya itu.


" Kalau sakit, berteriak lah. Tidak usah di tahan. " pinta Seno. Tapi Armell menggeleng. Dia hanya terus meremas kuat selimut yang tergeletak di sampingnya.


" Sudah dulu. Nanti sore lagi ya. " ucapnya lembut. Armell mengangguk seperti sudah kehabisan tenaga. Seno berpindah duduk menjadi di dekat Armell duduk, kemudian menyeka keringat yang mengucur di kening, pelipis, hingga ke pipi Armell dengan begitu sayang.


Armell masih memejamkan matanya menetralkan nafasnya yang ngos-ngosan karena menahan sakit.


Tok ..tok ..tok ..


" Pak bos, mister dokternya sudah sampai sini. " Lilik memberi tahu dari luar pintu.


" Iya bentar. " jawab Seno dari dalam, lalu ia segera berdiri dan berjalan membuka pintu kamar.


" Hai bro. " sapa Seno saat melihat sahabatnya yang kini menjadi seorang dokter berada di belakang Lilik.


" Hai. " sapa Bryan.


" Mister dokter bule, silahkan. Lilik mau kembali ke dapur. Mister Lilik buatin kopi, atau susu, atau kopi susu? " canda Lilik.


" Kopi hitam saja. " jawab Bryan.


" Oke. Permisi ya mister dokter bule, pak bos. " pamit Lilik.


" Ayo masuk Bry. " ajak Seno.


" Sakit apa bini lo? " tanya Bryan.


" Lihat aja sendiri. " jawab Seno sambil melangkah di tempat Armell duduk.


Bryan terkejut melihat Armell sang istri sahabatnya itu mukanya memar. Tidak hanya muka, bahkan punggung tangannya juga terlihat memar, juga betisnya. Yang kebetulan saat itu, Armell tidak menggunakan selimut karena tadi habis di urut Seno.


Armell tersenyum saat melihat Bryan.


" Hai. " sapa Bryan.


" Hai. " jawab Armell sambil tersenyum tipis karena bibirnya masih terasa perih.


" Kenapa bini Lo bisa kayak gini Sen? Jangan-jangan Lo...." pertanyaan Bryan terpotong karena Seno segera memukul lengannya.


"lo pikir gue ini tipe suami yang suka melakukan kekerasan dalam rumah tangga? " sahut Seno.


" Who knows right? " jawab Bryan.


Seno segera membantu Armell untuk rebahan supaya Bryan lebih enak memeriksanya. Kemudian Bryan mulai memeriksa kondisi Armell. Saat Bryan menekan perlahan perut Armell, Armell mendesis kesakitan.


" Perut kamu sakit? " tanya Bryan.


Armell mengangguk. " Sampai pinggang, juga punggung. " jawab Armell.


" Coba saya lihat. " ucap Bryan sambil beranjak berdiri dan mau menyibak kemeja yang di kenakan Armell. Tapi tangan Seno segera memegang tangannya.


" Mau ngapain lo? " tanya Seno sambil memberikan tatapan tajam.


" Ya mau meriksa bini Lo lah. Mau ngapain lagi coba. " jawab Bryan santai.


" Periksa ya tinggal periksa aja. Ngapain pakai mau buka baju bini gue? " ujar Seno marah.


" Bini lo bilang, perutnya, pinggangnya, punggungnya, sakit, b3g0. Ya gue mau lihat lah kenapa kok sakit. " jawab Bryan.


" Nggak perlu di lihat. Perut, pinggang, punggungnya memar semua. Sama seperti yang di muka sama tangannya. " jawab Seno pelan sambil memalingkan wajahnya.


Bryan menahan senyumnya. Dia tahu apa yang di lakukan sahabatnya itu.


" Oh, ya sudah. Aku resepkan obat sama salep saja. Lo beliin di apotik. " ujar Bryan.


" Hem. " jawab Seno. " Udah meriksanya? " tanyanya.


Bryan mengangguk.


" Ya udah, kita ngobrol di bawah. Biar bini gue istirahat lagi. " ucap Seno. Bryan kembali mengangguk.


Seno memakaikan selimut di tubuh Armell. Kemudian ia mengecup kening Armell, lalu berkata, " Istirahatlah. Nanti kalau obatnya udah dapet, aku bangunin. Aku ke bawah dulu sebentar. " pamit Seno. Dan Armell mengangguk.


" Saya pamit dulu, Armell. " pamit Bryan.


Armell mengangguk, dan berkata, " Terimakasih dokter. "


" Sama-sama. " jawab Bryan.


Lalu Seno dan Bryan keluar dari kamar meninggalkan Armell sendirian di kamar. Dan akhirnya dia menutup matanya karena ia merasa masih sangat lelah.


***


bersambung