My Handsome Police

My Handsome Police
Takut jarum



Kemudian terdengar teriakan dari dalam rumah, " Stella..Aku bilang berhenti!!" teriak Robert.


Stella masih tetap berjalan bersama Armell. Ia tidak menoleh sama sekali ke belakang.


Dan tiba-tiba...


Dor....dor...dor....


Semua yang ada di sekitar situ terperanjat. Seno melihat Robert mengacungkan senjatanya, lalu melihat Armell terjatuh bersama baby Arvin yang ada di gendongannya dan juga Stella. Tanpa berpikir panjang lagi, Seno menepis tangan papanya dan berlari sekencang mungkin menghampiri istrinya. Lalu di ikuti oleh beberapa anak buah terhandalnya.


" Armeeelll...." seru Seno berteriak. Ia lalu menghampiri Armell yang terjatuh di sebelah Stella. Dan tidak jauh dari sana, terlihat anak buah Seno telah menelikung tangan Robert.


Robert yang saat itu masih dalam mode terkejut karena emosi yang menghantuinya, secara tidak sadar ia menarik pelatuk pistolnya. Padahal dia hanya ingin menakut-nakuti Stella juga Armell. Setelah ia melihat Armell, Stella juga Arvin terjatuh dengan darah yang mengucur, tubuhnya seketika menjadi kaku. Ini bukan yang ia inginkan. Melihat perempuan dan putra yang ia cintai berdarah karena ulahnya, Robert merasa sangat terluka dan bersedih. Menyesal semenyesal-menyesalnya.


Robert tidak melawan saat anak buah Seno menangkapnya. Bahkan ia juga tidak melawan saat kawanan polisi membawanya. Tatapan matanya masih tertuju ke orang-orang yang ia cintai.


" Baby....Sayang...." panggil Seno saat ia sudah berada di dekat Armell. Ia melihat lengan Armell mengeluarkan darah segar.


" Mas...." sahut Armell sambil sedikit merintih karena lengannya terasa perih. Baby Arvin saat itu menangis sangat kencang karena mendengar suara tembakan.


Seno langsung mengambil alih Arvin dari dekapan istrinya, lalu memberikannya ke Leora yang saat itu juga langsung ikut menghampiri Armell.


" Baby..." Seno membantu Armell menegakkan tubuhnya. Ia juga menekan lengan Armell yang terluka supaya darahnya tidak terus mengalir.


Setelah berhasil duduk, Armell langsung melihat ke arah Stella. " Mas, kak Stella..." ucapnya. Ia berusaha menggeser duduknya mendekati Stella yang sedang mengerang karena tertembak di bagian perut atasnya.


" Baby, kamu terluka. Ayo kita ke rumah sakit. " bentak Seno karena istrinya itu tidak memikirkan dirinya. Ia malah mengkhawatirkan orang lain.


" Mas, kak Stella juga tertembak. Dia lebih parah dari aku mas. Cepat kamu tolongin dia. Bawa dia ke rumah sakit. " pinta Armell sambil menahan sakit di lengannya.


" Aahh...." Seno mengerang. Lalu ia berdiri, " Damar..." panggilnya. Damar cepat-cepat mendekat.


" Iya bos. "


" Cepat kamu bawa dia ke rumah sakit. " ujar Seno menunjuk ke Stella. Tanpa menunggu lama-lama Damar langsung mengangkat tubuh Stella yang sepertinya sudah tidak sadarkan diri.


Seno lalu kembali jongkok di dekat istrinya, lalu segera membawa tubuh istrinya dalam gendongannya. " Sekarang pikirkan dirimu. Kita ke rumah sakit. " ucapnya agak sedikit kesal dengan istrinya. Kesal karena selalu saja istrinya berada dalam bahaya sendirian tanpa dia bisa melakukan apa-apa. Kesal karena istrinya yang keras kepala itu selalu saja lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri.


Seno segera membawa Armell masuk ke dalam mobil. Dengan papanya duduk di sebelah Rezky yang mengendarai mobilnya. Seno memangku istrinya di jok belakang. Selama perjalanan, ia menatap wajah istrinya lekat. Ia yakin, istrinya merasakan rasa sakit dan perih di lengannya. Tapi istrinya itu lagi-lagi menahan rasa sakitnya.


Seno memeluk Armell dan mencium puncak kepala dan kening Armell berkali-kali. Ia harap, istrinya ini mengeluh dan merengek kepadanya karena ia merasa sakit. Tapi tidak. Istrinya itu benar-benar perempuan paling kuat yang pernah ia temui.


Setelah dua puluh menit perjalanan, sampailah mereka di rumah sakit. Beriringan dengan mobil yang membawa Stella. Seno segera membawa turun Armell dan menggendongnya masuk ke dalam UGD.


" Sus.... Cepat tolong istri saya. " teriaknya ke salah satu suster masih sambil menggendong istrinya.


" Mas..." Armell memanggilnya sambil mengeratkan giginya. Ia merasa suaminya terlalu over.


Salah satu suster segera menghampiri. " Tidurkan istrinya di sini tuan. " ucapnya.


" Mana dokternya? Cepat tolong istri saya. " ujar Seno.


" Sebentar lagi dokter akan kesini tuan. " sahut sang suster. Dan tak lama kemudian, seorang dokter datang menghampiri.


" Dok, cepat tolong istri saya. " ujar Seno ke dokter.


" Sebentar tuan. Saya lihat dulu lukanya. " ucap dokter.


" Dia terkena tembakan. Mungkin pelurunya masih ada di dalam. " ujar Seno panik.


Dokter mengangguk. " Sus, ambilkan kapas sama alkohol. " pinta dokter ke suster. Suster segera mengambil apa yang di minta dokter.


" Pelurunya tidak masuk ke dalam tuan. Ini luka gores. Tapi cukup dalam. Kami akan menjahitnya. " ujar dokter.


Mendengar kalau lengannya akan di jahit, Armell terlihat gelisah. " Mas..." panggilnya ke Seno sambil memegang ujung kemeja Seno.


Seno menoleh ke arahnya. Ia menggeleng.


" Kenapa? " tanya Seno.


Armell menarik tangan Seno supaya Seno mendekat kepadanya. Seno mendekat.


" Mell nggak mau di jahit. " bisiknya di telinga Seno.


" Takut. " bisiknya pelan.


" Pfffttt.. " Seno menahan tawanya. Baru kali ini ia melihat dan mengetahui kalau ternyata ada juga hal yang membuat istrinya takut.


" Ck. " Armell berdecak kesal karena melihat suaminya menertawakannya.


" Baby, kalau tidak di jahit, akan lama sembuhnya. " ujar Seno sambil mengelus puncak kepala Armell.


" Emang lengan Mell ini kain. Pakai di jahit segala. Entar juga sembuh sendiri. Nggak mungkin selamanya terbuka terus kayak gini. " ujar Armell sambil cemberut.


" Dok, nggak usah di jahit ya. Di kasih obat aja. Dulu kalau saya habis tanding, kaki saya juga sering robek. Tapi tidak di jahit juga sembuh. " pinta Armell.


" Maaf, tapi kalau ini memang harus di jahit, nona. Lukanya sangat dalam. Kalau tidak segera di tutup, bisa infeksi. " jawab dokter.


" Mas ..." Armell berusaha meminta bantuan sang suami. Tapi Seno malah mengendikkan bahunya.


" Dok, jahitnya pakai apa? " tanya Armell.


" Ya pakai jarum, nona. "


" Pasti sakit. Mas, nggak usah di jahit aja ya. Mell paling takut sama jarum suntik. Apalagi jarum jahit. Pasti lebih gede. " rengek Armell.


' Ternyata istriku sangat menggemaskan kalau sedang merengek. Seperti anak kecil. ' batin Seno.


" Baby, jarumnya kecil. Masak takut sih? Sama Martinez aja nggak takut. Padahal Martinez lebih gede lho. Kalau di masukin enak-enak aja kan? Bikin nagih malah. " goda Seno.


" Ihhhh, apaan sih. Nggak jelas. " omel Armell karena malu dengan omongan suaminya. Sedangkan sang dokter hanya tersenyum melihat tingkah pasien dan suaminya itu.


" Nanti di bius dulu nona. Biar tidak sakit. " ujar dokter.


" Temenin. " rengek nya ke Seno.


" Ya iyalah di temenin. Masak iya aku biarin kamu cuma berdua sama dokter. " ujar Seno sambil melirik dokter muda dan tampan yang sedang merawat istrinya.


" Lukanya sudah selesai saya bersihkan. Sebentar lagi saya bius ya. " ujar dokter.


" Di bius lagi mas? Baru tadi siang Mell sadar dari obat bius. Masak iya mau di bius lagi. " protes Armell.


" Nona habis di bius? " tanya dokter.


" Iya dok. Saya ini korban penculikan. Ini buktinya. Kenang-kenangan dari penjahatnya. " sahut Armell sambil menunjuk lengannya yang terluka.


" Nona tenang saja. Nanti kami bius lokal kok. Tidak kami bius total. Jadi kami hanya akan menyuntik di bagian yang akan kami jahit. " sahut dokter memberi penjelasan.


" Apa dok? Di suntik juga? " tanya Armell kaget. Dokter mengangguk sambil tersenyum.


" Dok, mending di bius total aja deh. Pakai kain. Mulutnya di bekap. Kayak penjahat kemarin. Jadi nggak sakit. " ujar Armell.


" Baby, kamu ada-ada aja deh. Emang dokternya penjahat? Ada aturannya, baby. " sahut Seno.


" Au..." pekik Armell saat merasa lengannya seperti di gigit semut. Untung Seno sigap memegang tubuhnya. Jadi Armell tidak bisa bergerak. Dasar pak dokter, suntik orang nggak kasih tahu dulu, asal coblos. Kaget kan jadinya?


" Dokter kok nggak bilang-bilang kalau mau suntik sih. " omel Armell tidak terima.


" Maaf, nona. Kalau saya bilang dulu, nona pasti tidak akan mau. Lagian saya juga sudah meminta persetujuan suami nona kok. " sahut sang dokter.


Armell langsung memandang tajam ke suaminya. Tapi sang suami malah tersenyum menyeringai.


Dokter mencoba menekan sisi lengan Armell yang terluka. " Terasa sakit apa tidak nona? " tanya dokter.


Armell menggeleng.


Dokter tersenyum, " Berarti kita sudah bisa mulai menjahit lukanya. "


" Hiks....Takut...." rengek Armell. Karena posisinya saat ini duduk, ia langsung melingkarkan tangan kanannya yang tidak terluka di pinggang Seno. Mencengkeram erat kemeja Seno bagian belakang. Lalu menyembunyikan wajahnya ke perut suaminya.


Seno tersenyum, lalu memeluknya. Dan memegangi lengan kirinya yang akan di jahit oleh dokter. Seno senang, akhirnya ia bisa melihat sisi manja istrinya. Ia senang istrinya merengek kepadanya.


***


bersambung