My Handsome Police

My Handsome Police
Janda ting-ting



" Bang Rezky????" ucap Armell saat mendapati Rezky, asisten suaminya berada di rumah kost itu sedang menemui Ikke sahabatnya.


Kedua orang yang ada di hadapan Armell langsung mengalihkan pandangan mereka ke Armell dengan raut wajah terkejutnya.


" Mell.."


" Non Armell..."


Ikke dan Rezky menyebut nama Armell bersamaan.


" Oh, jadi cowok barunya kak Ikke itu bang Rezky??" ucap Armell sambil tersenyum smirk.


" Eh...buk-bukan. "


" I-iya "


Kembali Rezky dan Ikke menjawab bersamaan tapi dengan jawaban yang berbeda. Kemudian mereka saling berpandangan.


" Hemmmm....." Armell bersedekap sambil menatap Ikke dan Rezky bergantian. " Roman-romannya memang ada bau-bau cinta nih. Jawaban kalian berbeda. Mell percaya sama jawaban bang Rezky. " lanjutnya.


Ikke menatap Rezky dengan tatapan tajam seolah mengisyaratkan kalau Rezky salah menjawab. Rezky yang mendapat tatapan itu, mengalihkan pandangannya sambil mengusap tengkuknya.


" Rez...." panggil Seno yang tiba-tiba nongol di antara mereka.


Armell, Rezky, dan Ikke menoleh ke sumber suara bersamaan.


" Mas, udah sampai? Kok nggak kedengeran. Kayak yang ghaib aja. Kalau datang atau pergi tak bersuara. " ucap Armell.


" Kamu pikir aku genderuwo? " sahut Seno sambil mengacak rambut Armell.


" Ihh, berantakan lagi kan rambutnya. Baru habis di sisir ini. " protes Armell.


" Berantakan juga nggak pa-pa. Tetep cantik. " jawab Seno.


Deg


Hati Armell berasa banyak di hinggapi kupu-kupu. Pipinya merona.


" Cie...cie... yang mukanya memerah. " goda Ikke.


" Apaan sih kak. " sahut Armell.


Seno yang tahu kalau istrinya itu sedang merasa malu, segera mengalihkan pembicaraan. (Cie...cie .. pengertian banget nih si Seno...)


" Rez, Lo kenapa di sini? Seingat gue, gue nggak pernah nyuruh lo jemput istri gue. " ucap Seno yang merasa aneh kok asistennya ada di kostnya Armell.


" Mmmm...anu tuan..."


" Mas, bang Rezky kesini mau apel. " Armell mewakili Rezky menjawab pertanyaan Seno.


" Apel? Mau ngapelin siapa? Eh, jangan bilang lo diam-diam suka sama bini gue. Gue pecat lo sekarang kalau sampai bener. " tuduh Seno sambil menunjuk Rezky dengan jari telunjuknya.


" Mas, ah. Kamu ini bilang apa sih. " protes Armell sambil menurunkan tangan Seno. " Bang Rezky kesini itu, mau ngapelin kak Ikke. Jelas? Nggak usah marah-marah. Ntar cepet tua loh. " lanjutnya.


" Rez, jadi Lo sama dia...." tanya Seno.


Rezky menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Bagus deh kalau gitu. " lanjut Seno sambil menepuk-nepuk pundak Rezky.


" Udah ah. Yuk pulang mas. Jangan ganggu mereka. Biar mereka menikmati kencan mereka. " ucap Armell sambil menarik tangan Seno di ajak segera keluar dari rumah kost.


" Kak, bang, pamit dulu ya. Happy ngedate..! " ucap Armell sambil terus menarik tangan Seno.


Seno mengikuti kemana Armell menarik tangannya. Ia kemudian membuka pintu mobil untuk Armell. Setelah Armell masuk ke dalam mobil, kemudian ia mengitari mobil dan masuk ke bagian kemudi.


" Kemana kita sekarang? " tanya Seno sambil memasang seat beltnya. " Mau nge-date? Biar kayak Rezky sama temen kamu. " lanjutnya sambil melirik ke arah Armell dan mulai menjalankan mobilnya.


" Hei, kamu kenapa? " tanya Seno yang melihat Armell terlihat sedang banyak pikiran. Seno membelai lembut rambut Armell dengan sebelah tangannya dan sebelah tangannya lagi memegang kemudi.


Armell tidak menjawab. Ia hanya menghela nafas berat, lalu memejamkan matanya.


" Baby, please, kalau ada sesuatu, bicarakan sama aku. Jangan kamu pendam sendiri. Apa ini ada hubungannya dengan pembicaraanmu dengan temanmu tadi? " tanya Seno kembali.


Armell menoleh ke arah Seno dan berkata, " Kita bicarakan nanti di rumah ya mas. Aku capek. "


Seno tersenyum dan menoleh ke arah Armell sebentar kemudian kembali fokus ke jalan. Ia kembali mengelus rambut Armell sambil berkata, " Iya. Kita bicara nanti di rumah. Sekarang kamu istirahat dulu. Tidurlah. Kalau udah sampai rumah aku bangunin. "


Armell mengangguk lalu memejamkan matanya. Sebenarnya bukan badannya yang capek. Tapi hati dan pikirannya. Berbagai kejadian terjadi hari ini. Kedatangan Robert, kedatangan orang yang mungkin adalah keluarga baby Arvin, juga pikiran tentang nasib rumah tangganya setelah ini.


Sungguh hari ini Armell merasa lelah. Untuk kedatangan Robert, Armell berniat tidak mengatakannya kepada Seno. Karena ia yakin, jika ia mengatakan, pastilah Seno akan lebih protektif lagi kepadanya.


💫💫💫


" Mau membicarakannya sekarang? " tanya Seno lembut sambil membelai kepala Armell. Saat ini mereka sedang duduk berdampingan di sofa ruang tengah sambil menonton TV.


Armell mengangguk. Kemudian ia menunduk sebentar dan menghela nafas panjang.


" Kak Ikke bilang, beberapa kali ada orang yang mencariku di rumah kost. " ucap Armell saat ia telah mengangkat kembali kepalanya.


Seno mengernyit. " Siapa? " tanyanya.


" Kak Ikke bilang, kemungkinan adalah orang tua baby Arvin. " ucap Armell lirih.


Seno terkejut dan memutar tubuhnya hingga kini ia menghadap ke Armell yang sedang duduk di sampingnya dengan kepala yang di sandarkan di sandaran sofa.


" Mereka mencari gadis yang telah menemukan bayi di depan gerbang. Dan gadis itu kan aku. " lanjut Armell. " Mereka pasti ingin mengambil baby Arvin mas. " kini air mata Armell yang sedari di rumah kost tadi ia tahan, akhirnya luruh juga.


Seno mengulurkan tangannya dan memeluk erat tubuh Armell. Memberikan kekuatan dan ketenangan untuk istrnya. Ia memeluk sambil mengusap punggung Armell. Armell pun saat ini tidak menolak pelukan yang di berikan oleh suaminya. Karena saat ini, ia memang sangat membutuhkan pelukan itu.


" Sayang...sshhhh....." Seno berusaha menghentikan tangis Armell. Baru kali ini Seno melihat Armell seperti ini. Ia begitu down. Saat tubuhnya penuh dengan luka memar, Armell tidak menangis sedikitpun. Tapi ini, saat ia merasa akan kehilangan baby Arvin, ia menangis sejadi-jadinya.


Seno melepas pelukannya, menjauhkan tubuh Armell darinya, kemudian menangkup pipi Armell.


" Baby, jika memang keluarga Arvin mengharapkan Arvin kembali kepada mereka, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Baby Arvin bukan milik kita. Kita harus siap dengan segala kemungkinan. Dari awal kita mengadopsi baby Arvin, aku sudah pernah bilang sama kamu, kan? " ucap Seno.


Armell mengangguk sambil terus menatap suaminya.


" Nah, mungkin sekarang saatnya kita mengalami ini. Kita harus siap dan ikhlas. " lanjut Seno.


Armell kembali mengangguk kemudian berkata, " Bagaimana jika keluarganya tidak menyayanginya? Bagaimana jika keluarganya meminta baby Arvin hanya untuk menyakitinya? " tanya Armell dengan sesenggukan.


" Baby, kita bisa tahu semua jika kita sudah bertemu dengan orang yang mengaku keluarga Arvin. Kita akan mencari tahu bagaimana Arvin bisa mereka buang di depan rumah kostmu. Kamu lupa baby, jika suamimu ini adalah seorang polisi? Suamimu ini sudah biasa menghadapi permasalahan seperti ini. " hibur Seno.


Armell manggut-manggut sambil tersenyum tipis diantara tangisnya. Tapi tiba-tiba Armell termenung.


" Kenapa lagi my baby? " tanya Seno sambil mengernyitkan dahinya melihat tiba-tiba raut wajah Armell berubah.


" Hiks...hiks...." Armell malah kembali menangis.


" Hey, beb... What's wrong? Ada lagi yang kamu pikirkan? " tanya Seno.


" Mas, kamu mengajakku menikah waktu itu karena ingin mengadopsi baby Arvin kan? Terus sekarang.... sekarang... kalau baby Arvin sudah tidak bersama kita, kamu pasti akan menceraikan aku kan? Aku akan jadi janda muda...Masak iya aku jadi janda ting-ting? Huaa........" ucap Armell terbata-bata sambil menangis meraung-raung.


Seno di buat bengong dengan ucapan Armell. Ia terdiam. Ia bingung harus bereaksi seperti apa.


***


bersambung


Guys, enaknya reaksi Seno gimana ya???