My Handsome Police

My Handsome Police
Jamud



Tap....tap...tap....


Ceklek


" Tuan, saya mau melaporkan sesuatu. " ucap si sekretaris Seno saat Seno baru membuka pintu ruangannya dan akan masuk.


" Ada apa? " tanya Seno tegas.


Desi sedikit melirik ke arah Rezky. Tapi Rezky santai saja. " Tadi ada orang yang memaksa masuk ke ruangan tuan. Saya sudah melarangnya masuk tapi asisten tuan malah membawanya masuk ke dalam." lapor Desi.


Seno mengernyitkan alisnya dan menatap sebentar ke Rezky. Tapi Rezky hanya mengendikkan bahunya.


" Kalau tuan tidak percaya, lihat saja di dalam. Dia masih ada di dalam sana. " tambah Desi.


Seno menatap Desi dan Rezky bergantian, lalu ia masuk ke dalam ruangan.


Sedangkan Armell yang sedang duduk sambil membaca sebuah majalah bisnis di ruangan Seno,, segera meletakkan majalah itu saat mendengar suara sang suami. Ia menampilkan senyum termanisnya.


Betapa terkejutnya Seno saat ia melihat orang yang sangat ia rindukan sedang berada di dalam ruangannya, duduk di sofanya, dan tersenyum manis kepada dirinya. Seakan tak percaya, Seno berbalik ke arah Rezky meminta kepastian apakah yang dia lihat benar atau tidak. Dan Rezky langsung mengangguk.


Seno kembali menatap ke arah Armell yang kini sudah berdiri tak jauh darinya.


" Baby....." panggil Seno sambil tersenyum.


Armell sedikit berlari ke arahnya, dan mengalungkan kedua tangannya ke leher Seno dan memeluknya erat. Dan Seno tentu saja segera membalas pelukan itu. Ia melingkarkan tangannya di belakang punggung Armell. Dan membalas memeluk Armell erat.


Rezky yang mengerti keadaan, segera menarik lengan Desi yang masih bengong melihat atasan yang ia damba-damba akan menjadikannya Nyonya Seno memeluk seorang perempuan.


" Ayo kita keluar. Jangan mengganggu mereka. " ucap Rezky pelan tidak mau mengganggu momen romantis sang bos.


" Tuan, dia ...." Desi hendak bertanya, tapi Rezky tidak menghiraukannya.


Rezky segera menutup pintu ruangan bosnya dan berlalu menuju ke ruangannya. Desi masih berusaha bertanya, namun tetap di abaikan Rezky.


" Ah, itu paling salah satu kekasihnya. Masih kekasih. Aku masih punya peluang. Apalagi perempuan itu....heh.... penampilannya norak. Masih cantikan aku kemana-mana. " gumam Desi meledek Armell.


Kembali ke ruangan


Armell melepas pelukannya. Ia lalu berjinjit, mengecup kening Seno.


" Maaf. " ucapnya setelah mengecup kening Seno.


" Jangan pernah meminta maaf atas apapun kepadaku. Karena tidak ada yang salah dengan dirimu. " ujar Seno sambil menatap dalam-dalam manik mata Armell.


" Tapi aku sudah melakukan banyak kesalahan kepada mas. Aku udah membuat anak kita..."


" Ssstttt...." Seno segera menaruh jari telunjuknya di atas bibir Armell, menghentikan ucapan Armell. " Sudah berapa kali aku bilang, itu bukan salahmu. Kita berdua sama-sama kehilangan. Jadi tidak ada yang bersalah dalam masalah ini. "


Armell membelai wajah Seno, " Tapi tetap aku harus meminta maaf. Karena sudah mengabaikan mas selama beberapa hari ini. "


Seno membalas dengan menangkup wajah Armell dengan kedua tangannya, " Jangan pikirkan tentang itu. Aku tidak merasa di abaikan olehmu. Aku mengerti kondisi dan posisi kamu. Seharusnya, akulah yang meminta maaf. Karena telah mengganggu waktumu di saat kamu sedang ingin menyendiri. Aku sangat merindukanmu. Dan aku tidak bisa jauh darimu. "


Armell tersenyum, " Aku juga merindukanmu, mas. Sangat. " ucapnya.


Kemudian Seno mendekatkan wajahnya ke wajah Armell. Mendekatkan bibir mereka. Dan akhirnya kedua bibir itu saling bertaut. Mulanya hanya mengecup. Tapi kerinduan yang membuncah di antara keduanya, membuat mereka tidak puas hanya sekedar mengecup.


Kini setelah bibir mereka bertaut, kemudian saling *******. Seno semakin menarik tubuh Armell untuk semakin mendekat dengan dirinya. Ia menarik tengkuk Armell dan memperdalam ciuman mereka. Tanpa di minta oleh Seno, Armell membuka mulutnya. Dan Seno langsung tersenyum tipis dan segera mengeksplor seluruh isi mulut Armell.


Setelah beberapa lama bibir mereka saling bertaut, mereka merasa membutuhkan asupan oksigen. Mereka melepas ciuman mereka. Armell dan Seno sama-sama tersenyum sambil menetralisir irama jantung mereka.


Seno kembali memeluk tubuh Armell. Sepertinya seberapa lamapun ia memeluk Armell, rasanya masih kurang.


" Aku sangat....sangat....sangat.... merindukanmu, baby. " ucap Seno.


" Aku juga....sangat ...sangat... merindukanmu. " balas Armell.


" Ngomong-ngomong, berdiri terus capek juga. " ucap Armell saat pelukan mereka terlepas.


Lalu keduanya sama-sama tertawa renyah.


" Kamu kok masih bawa tas kamu? " tanya Seno.


" Iya kan tadi dari terminal langsung naik taksi kesini. " jawab Armell.


" Kamu kesini naik bis? Kenapa nggak minta di jemput? Atau nungguin aku balik kesana ntar sore? "


" Kelamaan. Kalau di jemput harus nunggu lima jam, jemputan baru nyampe sana. Terus balik lagi kesini lima jam. Sepuluh jam kan jadinya. Kalau nungguin mas, capek. Kan Mell nggak tahu mas bakalan balik kesana apa nggak. Mas nggak pamit perginya. "


" Maaf. Tadi sebelum aku berangkat, aku kirim pesan ke Pipit. Niatnya mau bilang sama kamu langsung. Tapi takutnya kamu masih niat jauhin aku, jadi chat ku nggak di buka. Jadi percuma juga kan?" ujar Seno sambil merangkul pundak Armell dan Armell menyandar di dadanya.


" Tapi kan jadinya aku mau nyamperin mas ke tempat Tante Ira tadi pagi. Untung aja Pipit lihat. " jawab Armell sambil memainkan dasi yang terpasang di leher Seno.


" Kok tiba-tiba pengen nyamperin aku? "


" Takut mas hilang. Kalau mas hilang, ntar aku jadi jamud. "


" Jamud? Apa itu? " tanya Seno sambil mengernyitkan alisnya.


" Janda muda. Dan bukan janda ting-ting. Kan mas udah lobangin aku. "


Seno tersenyum lebar, lalu memencet hidung Armell. " Kamu ya. Lagian siapa yang mau hilang. Siapa juga yang bakal biarin kamu jadi jamud. Nggak akan pernah. Karena aku, selamanya, nggak akan pernah ninggalin kamu. Atau lepasin kamu. "


Seno mengecup puncak kepala Armell. Armell melingkarkan tangannya ke atas perut Seno.


" Terima kasih ya mas. Karena sudah sabar ngadepin aku yang keras kepala ini. "


" Baru nyadar kalau keras kepala ya? " canda Seno.


" Udah nyadar lah. Dari dulu. Tapi emang udah bawaan. Jadi nggak bisa di ubah. He...he...he..." sahut Armell.


" Tapi biarpun kamu keras kepala, aku tetap cinta. Bahkan sekarang semakin cinta sama kamu. "


" Hemmm....mulai deh gombalnya. Sekarang, suamiku yang dulu kaku, jadi pinter gombal ya. "


" Bukan gombal, baby. Tapi aku mengatakan kenyataan. Isi hatiku. Kamu benar-benar membuatku jatuh cinta sama kamu setiap hari. "


Cup


Armell menghadiahi kecupan di pipi Seno.


" Sini dong. " Seno menunjuk ke bibirnya.


Dan cup


Armell mengecup bibir suaminya lalu tersenyum.


" Istriku semakin berani ya sekarang. Semakin pintar juga balas ciumannya. Kira-kira.....tambah pinter juga nggak ya di ranjang? " canda Seno.


Tanpa menjawab, Armell menegakkan tubuhnya, kemudian memegang kepala Seno dengan kedua tangannya, dan menariknya. Lalu ia memberikan ciuman dan ******* di bibir suaminya. Membuat Seno kewalahan karena ia tidak persiapan dulu.


" Wow, baby ..Kamu jadi ganas ya...." ujar Seno sambil mengusap bibirnya yang basah karena ******* bibir Armell.


Armell tersenyum. " Siapa dulu dong gurunya. " ucapnya. " Mau tahu aku juga pinter di ranjang apa nggak? " bisik Armell di telinga Seno.


Membuat Seno menjadi blingsatan. Martinez meronta. Ia ingin keluar dari sangkar yang membuatnya engap.


" Baby, jangan menyiksa Martinez seperti ini. " keluh Seno.


Armell tersenyum menggoda.


" Baby, di sini ada kamar. Kita ke kamar yuk. Aku kangen sama kamu. " ujar Seno dengan suara yang sudah berubah.


***


bersambung


Maaf ya guys ...baru upload episode baru