My Handsome Police

My Handsome Police
Kemarahan Robert



" Mas, apa memang perlu kita bilang soal bule kampret itu ke kak Leora dan tuan Abraham? " tanya Armell.


Saat ini mereka sedang dalam perjalanan mengantarkan baby Arvin pulang ke rumah keluarga Abraham.


" Iya, baby. Mereka juga harus tahu. Jadi mereka bisa berhati-hati karena Robert orang yang sangat berbahaya. " jawab Seno sambil fokus ke jalanan.


Armell mengangguk-angguk. Dia menatap sedih ke baby Arvin. Kenapa baby Arvin mesti mempunyai ayah seperti Robert? Ah, ya Tuhan...Armell akan mengajak Leora untuk benar-benar mendidik baby Arvin dengan baik sehingga ia tidak akan seperti ayahnya kelak.


Tak lama kemudian, sampailah mereka di rumah keluarga Abraham. Seno turun terlebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Armell.


" Arvin, gendong Daddy yuk. " ucap Seno ke Arvin sambil menyodorkan tangannya.


Tentu saja baby Arvin langsung meraih tangan Seno. Ia memang paling senang jika di gendong oleh Daddy-nya.


" Duh, udah tambah berat aja kamu nak. " ujar Seno sambil mencium pipi Arvin.


Lalu mereka masuk ke dalam halaman rumah keluarga Abraham. Setelah mengetuk pintu, mereka di persilahkan masuk oleh seorang asisten rumah tangga di rumah itu.


" Tuan Seno, Armell, silahkan duduk." tuan Abraham mempersilahkan mereka.


" Terimakasih, tuan. "


" Terimakasih, paman. "


Ucap Armell dan Seno bersamaan. Kemudian mereka duduk. Leora datang setelah beberapa saat.


" Hai, Mell. " sapa Leora.


" Hai, kak. " sapa Armell. Kemudian mereka saling mencium pipi kanan dan kiri.


" Halo, sayang. Seneng ya nginep di rumah mommy sama Daddy? " sapa Leora ke anaknya yang masih dalam pangkuan Seno. " Nakal nggak? " lanjutnya.


" Baby Arvin selalu the best pokoknya. " jawab Armell sambil mencolek pipi Arvin.


" Tuan, nona Leora, ada hal yang ingin kami sampaikan. " ucap Seno.


" Ada apa tuan Seno? Apa sesuatu yang penting? " tanya tuan Abraham.


" Iya tuan. Hal yang penting. " jawab Seno.


" Nin....Nina...." panggil Leora ke baby sitter Arvin.


" Iya, nya.." jawab Nina.


" Kamu bawa Arvin main di belakang dulu sana. " perintah Leora.


" Baik. " jawab Nina. Kemudian ia mengambil Arvin dari Seno dan membawanya ke belakang.


" Ada apa tuan? " tanya tuan Abraham.


" Jadi begini, tuan. Sepertinya kami tahu siapa ayah dari Arvin. " ujar Seno.


Tuan Abraham dan Leora terkejut seketika.


" Bagaimana anda bisa tahu itu tuan? " tanya tuan Abraham.


" Dia sendiri yang bilang ke Armell tuan. Awalnya kami juga tidak percaya. Tapi ia menunjukkan hasil tes DNA baby Arvin. Dan hasilnya memang benar kalau dia adalah ayah biologis Arvin. " jelas Seno.


" Bagaimana mungkin? Mungkin saja ada yang hanya mengaku-ngaku. Saya saja tidak tahu siapa orangnya tuan. " sela Leora.


" Dia bisa menceritakan semua kejadian malam itu, nona. Dan yang membuat saya percaya, saya mengenal laki-laki itu sudah cukup lama. Ia mampu melakukan apapun. Ia mampu mencari bukti tentang baby Arvin. " jelas Seno.


Leora seketika menjadi lemas tubuhnya. Ia tidak menyangka kalau laki-laki yang bersamanya malam itu akan muncul secepat ini. Bagaimana dia akan menghadapinya?


" Siapa dia, tuan Seno? " tanya tuan Abraham.


" Namanya Robert Downey, tuan. Dia seorang...maaf...dia seorang mafia besar. Bisnis ilegalnya lebih banyak daripada bisnis legalnya. Ia mempunyai beberapa perusahaan di sini. Tapi tidak terlalu besar. Kebanyakan perusahaannya ada di Jerman. Ia pebisnis terkenal di Jerman. " jawab Seno.


" Dan dia orang yang sangat berbahaya tuan. Ia tidak segan-segan melakukan apapun asal hal yang diinginkan tercapai. Anda dan nona Leora harus berhati-hati. " tambah Seno.


Leora mulai menitikkan air matanya. Ia benar-benar takut sekarang. Armell berdiri dan berpindah duduk di samping Leora. Kemudian ia memeluk Leora, memberikan kekuatan kepada Leora.


" Bagaimana dengan Arvin, Mell? " tanyanya dalam Isak tangis


" Kita akan menjaga baby Arvin sama-sama. Kakak tidak akan sendiri. " Jawab Armell.


" Aku tidak khawatir dengan diriku. Mau dia melakukan apapun terhadapku, tak masalah. Tapi aku takut jika dia melakukan sesuatu yang buruk terhadap baby Arvin. " ujar Leora.


" Kakak tenang saja. Sepertinya dia tidak akan melakukan hal buruk terhadap baby Arvin. Ia terlihat sangat menyayangi Arvin kak. " ungkap Armell.


" Benarkah? Apa dia sudah bertemu dengan Arvin? " tanya Leora


Karena hari sudah cukup malam, akhirnya Seno dan Armell segera berpamitan. Setelah menceritakan semuanya, Seno berkata ke tuan Abraham kalau dia akan selalu siap membantu apapun apabila sampai Robert berani bertindak macam-macam.


💫💫💫


...Di kediaman Robert...


" Ini bos. Saya sudah selesai menyelidiki. " seorang anak buah Robert memberikan amplop berwarna coklat ke Robert.


Robert segera mengambil amplop itu dan membukanya. Ia membaca kata demi kata, melihat gambar-gambar dengan seksama.


" Keluarlah. " titahnya ke anak buahnya.


Kemudian si anak buah segera mengundurkan diri.


Sepeninggal si anak buah, Robert meremas rambutnya dan mengacak-acaknya. Sepertinya ia merasa frustasi. Ia marah dan kecewa. Sangat kecewa. Ternyata benar jika perempuan yang bersamanya di malam itu bukanlah Armell.


" ****. " umpatnya. " Arrgghhh....." teriaknya sambil memporak porandakan isi meja kerjanya. Sehingga terdengar bunyi yang gaduh


Prang ..Krak... Pyaar...


Semua anak buah yang berada di luar di buat terkejut. Tapi mereka tidak bisa berbuat apapun di saat si bos sedang marah seperti ini.


" Bagaimana ini? Apa perlu kita masuk? " tanya salah satu anak buah.


" Kau mau cari mati? Si bos tidak kenal ampun jika sudah seperti itu. " jawab anak buah yang lain.


" Memang apa sih tadi yang di perlihatkan oleh Davis ke si bos? Kok bos langsung mengamuk seperti itu? " tanya si anak buah lagi. Dan hanya di jawab temannya dengan mengendikkan bahunya.


" Ngapain kalian bisik-bisik begitu? Bos kalian ada apa tidak? " tanya seseorang yang baru sampai.


" Nona. Bos....bos ..." si anak buah ragu untuk menjawab.


" Di tanya malah ah oh ah oh...Bos kalian ada apa tidak? " tanyanya lagi.


" A-ada non. Tapi dia .." belum selesai si anak buah memberitahu, perempuan itu sudah menyelonong masuk.


" Mampus dia. Biar tahu rasa. Biar dia jadi korban amukan si bos. Dasar polisi sedeng. " salah satu anak buah menyumpahi.


" Halo, sa.....yang ..." Mariana terkejut saat ia masuk ke ruang kerja Robert dan mendapati ruangan itu sudah seperti kapal pecah.


Robert mengacuhkan kedatangan Mariana.


" Sayang...." Mariana mendekati Robert dan menyentuh pundak Robert. " Ada apa ini? "tanyanya.


" Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang kesal dengan anak buahku. " jawab Robert.


Robert tersenyum menyeringai bak iblis dan menarik pinggang Mariana sehingga kini Mariana ada dalam dekapannya.


" Kau merindukanku? Kau ingin melepas rasa kesepianmu dan menghabiskan malam ini bersamaku? " bisik Robert di telinga mariana.


" Lepas, Robert. Aku kesini ingin menagih janjimu. " ujar Mariana melepas dekapan Robert.


" Janji? Janji yang mana? " tanya Robert.


" Janjimu untuk memisahkan Seno dengan istrinya. Kenapa mereka masih bersama-sama? Kamu bilang hal yang mudah untuk menjauhkan mereka. Kenapa lama sekali? Aku sangat menginginkan Seno menjadi milikku. " ujar Mariana.


Robert menegak minuman beralkohol yang ada di gelasnya.


" Aku sudah tidak tertarik. Sorry, aku tidak bisa menepati keinginanmu kali ini. Istri Seno bukan perempuan yang mudah untuk di rayu. Dia tidak seperti Stella. " jawab Robert sambil menghidupkan rokok.


" Ah. Kamu ini bagaimana sih? Cuma ngerayu gadis desa seperti itu aja nggak becus. " umpat Mariana.


" Jangan sekali-kali menghinaku. " ancam Robert.


Mariana menatap Robert tajam. " Kalau kau tidak bisa merayunya, kenapa tidak kau lenyapkan saja dia? "


" Diam kamu! " bentak Robert. " Aku tidak akan melakukan hal kotor itu kepada Armell. " tegasnya.


" Oke, kalau kau tidak mau membantuku, aku akan melakukannya sendiri dengan caraku. " ujar Mariana tidak kalah tegas.


" Hei, Mariana! " pekik Robert. " Jangan kamu berbuat macam-macam sama Armell. Aku tidak akan tinggal diam. Aku tidak akan segan-segan melenyapkan orang yang berani melukai Armell. Sekalipun itu dirimu. Camkan itu. " ancam Robert.


Mariana hanya berdecih, lalu meninggalkan rumah Robert.


" Sial. Kenapa Robert malah ikut-ikutan membela gadis kampungan itu. " gumam Mariana saat ia hendak menaiki mobilnya. " Kita lihat saja, apa yang bisa aku lakukan padamu gadis kampungan. " ujar Mariana dengan senyum menyeringai.


***


bersambung