
" Kamu kenapa mas? " tanya Armell saat Seno keluar dari dalam kamar mandi memakai bathrope nya.
" Aku tidak apa-apa. " jawab Seno singkat sambil tetap berjalan menuju wardrobe tanpa melihat Armell sekilaspun.
Armell diam, menunggu Seno keluar dari ruangan yang ada di kamar itu untuk ganti baju. Setelah beberapa saat, Seno keluar dari ruangan itu, dan langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur sebelah Armell.
" Kamu kenapa sih mas? Aku ada salah ya? Kalau aku salah, aku minta maaf. " ucap Armell tak enak hati.
" Sudah aku bilang, aku tidak apa-apa. Aku hanya mengantuk. Aku capek. Mau tidur. " jawab Seno dengan tubuh membelakangi Armell.
" Nggak sarapan dulu mas? " tanya Armell kembali. Tapi tidak ada jawaban dari Seno. Armell mengira Seno sudah tertidur. Tapi Seno hanya enggan menjawabnya. Seno di rundung rasa kecewa.
" Maaf ya mas. Karena aku, mas nggak tidur semalam suntuk. " ucap Armell lirih.
Akhirnya Armell pun juga tertidur menyusul Seno yang sudah terlelap duluan. Armell tertidur sampai siang hari. Sedangkan Seno hampir seharian dia tertidur. Ketika adzan ashar berkumandang, dan perutnya yang meronta-ronta karena lapar, akhirnya ia terbangun.
Saat ia terbangun, ia tidak mendapati sang istri di sebelahnya. Ia langsung panik dan mencari Armell. Ia mencari Armell di kamar mandi, tapi ternyata kamar mandi itu kosong. Kemudian ia mencari di ruang bajunya, juga tidak ada. Lalu ia keluar dari kamar hendak bertanya kepada Lilik. Tapi saat ia menuruni tangga, ia mendengar suara baby Arvin yang sedang tertawa terbahak-bahak dengan seorang perempuan. Siapa lagi kalau bukan Armell.
Seno memperhatikan chemistry yang terjadi antara Armell dan baby Arvin. Ia tidak menyangka, ada seorang gadis yang bisa begitu menyayangi seorang bayi yang bahkan ia tidak mengetahui siapa keluarga bayi itu. Senyum tipis terbit dari kedua sudut bibir Seno. Sejenak, ia melupakan kekecewaannya. Ia kemudian berjalan mendekat menghampiri baby Arvin yang ada di baby walkernya, dan Armell yang sedang duduk di sofa.
" Kenapa kamu keluar kamar tidak ngasih tahu aku?" tanya Seno.
Armell mendongakkan kepalanya dan tersenyum menatap Seno. Tatapan dan senyuman yang selalu membuat hati Seno berdesir.
" Udah bangun mas? Aku tadi bosen aja di kamar. Terus kangen juga sama baby Arvin. Kami tidur pulas banget. Nggak tega lah aku bangunin mas. " jawab Armell.
" Terus kamu tadi turunnya gimana? Kaki kamu kan masih sakit. " tanya Seno kembali sambil mendudukkan dirinya di sebelah Armell.
" Kaki aku udah mendingan kok. Hasil urutan kamu ini mas. Jos pokoknya. " ucap Armell sambil menunjukkan jempol jarinya. " Tadi aku waktu udah keluar dari kamar, aku manggil Lilik. Dia yang bantuin aku turun dan duduk di sini. "
" Coba aku lihat kakinya. " ujar Seno sambil mengangkat kaki kanan Armell yang terkilir. Ia mengamati sesaat. " Sudah tidak terlalu bengkak seperti tadi. Tinggal di urut sekali lagi, udah sembuh. " lanjutnya.
" Badan aku juga udah enakan semua. Udah nggak terlalu sakit kayak tadi. Obatnya dokter temen mas tadi tokcer. " ucap Armell sambil mengacungkan kedua ibu jari tangannya.
" Bibir kamu juga kelihatannya sudah nggak sekaku tadi. " ucap Seno mengamati.
Armell mengangguk. " Udah nggak seperih tadi. Di buat bicara udah lebih enak dan nyaman. " ucapnya. Seno mengangguk.
" Oh ya, mas Seno dari tadi pagi belum makan. Lilik udah siapin makanan di meja makan. Mas makan dulu sana. " kata Armell memberitahu.
Seno mengangguk, " Kamu benar. Aku tadi kebangun karena lapar. Coba nggak lapar... pasti aku belum bangun. " ucap Seno sambil berdiri dari duduknya hendak ke dapur.
" Kamu udah makan? " tanya Seno.
" Udah. Tadi di ambilin Lilik. Udah minum obat juga." jawab Armell.
" Hmm. Ya udah, aku makan dulu. Da...baby Arvin...." ucap Seno sambil menoel pipi gembul Arvin.
💫💫💫
" Sudah bisa bicara banyak kan? " tanya Seno ke Armell.
Armell mengangguk. " Ini udah mendingan kok. " jawab Armell sambil menunjuk sudut bibirnya.
Saat ini mereka sedang berada di ruang tengah. Mereka selesai makan malam, kemudian duduk berbincang di ruang tengah. Sedangkan baby Arvin sedang bermain bersama Lilik.
" Oke, sekarang kamu ceritakan, apa saja yang sudah terjadi sama kamu. Mulai dari awal, sampai akhir. Jangan ada yang terlewat. " ucap Seno.
" Kemarin sehab....." cerita Armell terpotong.
" Bentar, aku lihat siapa yang datang. " pamit Seno ke Armell.
Lalu ia pergi ke depan, untuk melihat siapa yang datang.
" Eh, dokter Bryan. " sapa Armell saat Seno dan Bryan sampai di ruang tengah.
" Hai, Mell. Gimana keadaan kamu sekarang? " tanya Bryan.
" Alhamdulillah, sudah jauh lebih baik dok. Berkat obat dari dokter. " jawab Armell sambil mengacungkan dua jempol tangannya.
Bryan tersenyum menanggapi jawaban Armell. " Sorry, gue datang sampai malam. Ada operasi dadakan tadi. " ucap Bryan ke Seno.
" It's oke. No problem. " jawab Seno.
" Mell, saya kesini di minta suami kamu buat membalut kaki kamu yang terkilir itu. Biar cepat sembuh. " Bryan memberi tahu.
" Oh, iya dok. Tapi ini kaki Mell udah baikan juga kok. " jawab Armell sambil melihat ke arah kakinya
" Biar cepat sembuh kalau di balut. Jadi dia bisa anteng. " ujar Seno.
" Ih, aku anteng ya...Seharian aja aku nggak ngapa-ngapain. " sahut Armell.
Seno hanya mengangguk. Bryan geleng-geleng kepala sambil mengeluarkan pembalut luka buat Armell.
" Tadi sudah di urut lagi? " tanya Bryan.
" Udah, tadi sore udah gue urut. " jawab Seno.
" Oke. Kita pasang pembalutnya sekarang. " ucap Bryan sambil mengangkat kaki kanan Armell yang terkilir.
" Lanjutin cerita kamu tadi. " pinta Seno.
Armell melirik ke arah Bryan.
" Nggak pa-pa. Selain Alif, dia ini sahabat terbaikku. Justru aku sudah bersahabat sejak lama sama dia. Kita kuliah di universitas yang sama. Dia juga tahu semua rahasia aku. " jelas Seno.
Armell mengangguk. " Eh, bentar. Masak dokter Bryan di anggurin. Mell bikinin minum dulu. Lilik kan lagi jagain Arvin. "
" Udah, santai aja. Nanti aku ambil sendiri. Sudah biasa aku disini ambil minum sendiri. " jawab Bryan sambil melirik tajam ke Seno. Tapi Seno malah membuang muka.
" Udah lah beb, dia itu kalau di sini udah kayak rumah dia sendiri. Mending kamu cepetan cerita. " ujar Seno.
" Ehm...." Armell berdehem dan menarik nafas panjang. " Jadi kemarin sehabis pulang kuliah, karena udah petang, aku lewat jalan pintas. Eh, ternyata ada yang membuntuti. Aku pikir kuntilanak atau semacamnya. Soalnya, temen-temenku bilang, jalan itu sepi, jarang ada yang lewat, banyak hantu katanya. " cerita Armell.
" Kamu nggak takut gitu lewat sana? " tanya Bryan sambil tetap membalut kaki Armell.
" Ngapain takut dok? Kita sebagai manusia itu takutnya sama Allah. Lagian mereka juga sama-sama ciptaan Allah kan? Derajatnya lebih tinggi kita lagi. Ngapain mesti takut. " jawab Armell santai.
Bryan dan Seno sedikit melongo mendengar jawaban Armell.
" Beneran nggak takut hantu kamu? Secara penampakan mereka kan nyeremin. Hiiii....." tanya Bryan memastikan. Kalau Bryan, memang sedikit parno kalau sama hal yang berhubungan dengan mahluk halus. Jadi wajar kalau dia agak tidak percaya kalau armell yang seorang gadis, tidak takut sama hantu.
" Biasa aja dok. Anggap saja kita lagi main di rumah hantu kayak yang ada Ancol. Muka mereka juga sama aja. " jawab Armell.
***
bersambung