
Nyonya Ruth datang ke rumah Seno dengan tergopoh-gopoh. Dengan menggandeng sang suami yang juga terlihat panik.
" Sayang.... Putriku...." panggil Nyonya Ruth ketika baru masuk ke dalam rumah.
Ia langsung menghampiri menantu kesayangannya ketika sampai di ruang tengah dan melihat Armell sedang duduk di sofa dengan di dampingi sang ibu yang sedang menggosok-gosok punggung Armell.
Nyonya Ruth memeluk Armell sebentar lalu meneliti setiap inci tubuh Armell. Begitu juga dengan tuan Adiguna.
" Sayang, apa benar kamu mau melahirkan? " tanya tuan Adiguna. " Kalau begitu, ayo kita ke rumah sakit sekarang. " lanjutnya.
" Apa perutmu sudah sakit sekali? " tanya Nyonya Ruth sambil membelai sayang rambut Armell.
" Ma, Pa...Siapa yang bilang Mell mau lahiran? Mell baik-baik saja kok. Kan HPL nya masih 5 hari lagi. " ujar Armell.
Nyonya Ruth dan tuan Adiguna menatap putranya bersamaan. Armell ikut menatap arah tatapan kedua mertuanya.
" Mas yang bilang ke mama sama papa kalau Mell mau melahirkan? " tanya Armell ke Seno.
Seno yang baru datang dari arah dapur dengan membawa secangkir kopi, merasa menjadi subjek pembicaraan langsung mengangguk. Lalu ia menyeruput kopinya santai.
Bug
Nyonya Ruth memukul Seno menggunakan tas brandednya.
Pufff....byur...uhuk ...uhuk.... uhuk.... Seno tersedak oleh kopinya. Dan kopi yang di serutupnya juga tumpah di sekitar mukanya.
" Ma....El lagi minum. Kenapa mama pukul El sih? " protes Seno sambil mengelap mukanya dengan lengan bajunya.
" Kamu memang anak nakal ya. Kenapa bohongin mama kalau putri mama mau melahirkan? Mama sama panik tahu nggak. Pagi buta mama sama papa belum bangun, udah kamu telpon. Kamu bilang istri kamu mau melahirkan. Maksud kamu apa? Hem? Bohongin mama sama papa. " teriak Nyonya Ruth sambil mencubiti lengan kekar Seno.
" Aduh ma. Sakit...Kuku mama kayak kuku harimau ini. " protes Seno.
" Rasain. Tahu kan gimana rasanya kena cakaran harimau? Makanya jangan suka mengerjai orang tua. " ujar sang papa.
" Pa, ma, El itu nggak bohong. Semalam itu, Armell kebangun pengen pipis, terus tiba-tiba katanya perut sama pinggangnya nyeri gitu. Ya El kira mau lahiran. " sahut Seno sambil mengelus-elus lengan yang di cubit sama mamanya.
" Mas...Semalam kan Mell udah bilang nggak. Mell nggak mau lahiran. Itu mungkin kontraksi palsu. Nyatanya sampai sekarang Mell nggak ngerasain apa-apa kok. " ujar Armell.
" Tuh ma, pa... Dengerin. " ujar Seno.
" Yang harusnya bilang gitu itu papa sama mama ke kamu. " protes tuan Adiguna sambil hendak memukul putranya karena kesal.
Seno malah tersenyum nyengir seperti tidak punya salah. Nyonya Ruth kembali duduk di sebelah Armell.
" Terus kalau Lusi tidak mau melahirkan, kok jeng dari tadi gosok-gosok pinggang Lusi? " tanya Nyonya Ruth ke besannya.
" Iya jeng. Tadi Armell mengeluh katanya pinggangnya capek. " jawab ibu Armell.
" Perut Mell rasanya kenceng ma. Terus pinggangnya capek banget. " imbuh Armell.
" Mungkin memang sudah waktunya jeng. " ujar ibu Armell.
" Mungkin ya jeng. Mungkin saja tidak sesuai HPLnya. " sahut nyonya Ruth.
Kini tangan nyonya Ruth turut mengelus perut Armell yang katanya terasa kencang. Sedangkan ibu Armell masih tetap mengelus pinggang dan punggung Armell.
Dan Armell sendiri, ia masih tetap asyik menikmati sarapannya. Pipit, sedari tadi sibuk dengan ponsel baru yang di belikan oleh kakak iparnya saat ia datang ke Jakarta tempo dulu. Seno dan tuan Adiguna nampak sedang berbincang serius mengenai pekerjaan.
Mereka masih asyik dengan kegiatan mereka masing-masing sampai terdengar suara Armell mengaduh. Semua mata langsung tertuju ke Armell.
Seno berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Armell.
" Sayang, kenapa nak? " tanya Nyonya Ruth.
Armell tidak menjawab. Ia memejamkan matanya sambil menahan rasa sakit yang tiba-tiba datang. Kedua tangannya, yang satu menggenggam tangan ibunya, dan satu lagi menggenggam tangan mertuanya erat.
Nyonya Ruth dan ibu Armell saling berpandangan lalu terucap kalimat yang sama dari mulut mereka berdua, " Cucu kita mau lahir. " seru mereka bersamaan.
" Eellll....." panggil Nyonya Ruth dengan suara melengking.
" Nggak usah teriak mama. El ada di dekat mama. " protes Seno masih dengan nada santai.
Plak.
Nyonya Ruth memukul paha Seno. " Istrimu mau melahirkan. " pekik nyonya Ruth dengan suara tertahan karena ia mengatupkan giginya geram dengan sang anak.
Wajah santai yang tadi ada di muka Seno kini langsung berubah menjadi panik saat mendengar perkataan mamanya.
Melihat dua orang laki-laki itu tidak melakukan apa-apa tapi malah ikut mengerubungi menantu kesayangannya, nyonya Ruth kembali geram.
" Kenapa kalian berdua malah ikut di sini???" teriaknya.
Tuan Adiguna dan Seno saling bertatapan bingung mereka harus ngapain. Begitu juga Pipit yang juga ikut menghampiri kakaknya.
Melihat kedua laki-laki itu masih dalam posisi yang sama, nyonya Ruth semakin kesal. Apalagi ia melihat Armell yang masih memejamkan matanya menahan sakit tanpa bersuara.
" Lusi mau melahirkan......!!!!!" teriak Nyonya Ruth. " Kenapa kalian malah diam saja???" nyonya Ruth melototkan matanya ke suami juga putranya.
" Lalu kita harus apa ma sekarang? " tanya Seno bingung karena panik.
Nyonya Ruth memejamkan matanya sesaat. " Kita kemarin sudah gladi bersih persiapan untuk Lusi mau melahirkan...Apa kalian tidak ingat tugas kalian ngapain? " tanya nyonya Ruth.
Tuan Adiguna dan Seno menepuk jidatnya masing-masing karena terlalu panik, mereka jadi blank. Padahal mereka sudah berlatih selama beberapa hari belakangan ini. Semua tentu saja atas instruksi dari sang Nyonya besar.
Seno dan tuan Adiguna saling bertubrukan ketika mereka akan melangkah melakukan tugas mereka.
" Apa kamu tidak bisa jalan kesana El? " protes tuan Adiguna.
" Papa juga kenapa nggak kesana aja? " protes Seno balik sambil menunjuk jalan yang lain.
Lalu mereka berdua sama-sama berbalik dan memilih jalan yang berbeda. Tuan Adiguna segera mengambil ponselnya dan menelepon Dion, sang asisten.
" Yon, sekarang waktunya. Seperti yang sudah kita rencanakan. Lakukan sekarang juga. " perintah tuan Adiguna ke Dion saat sambungan telepon telah di terima.
" Baik tuan. " jawab Dion dari seberang.
Entah apa yang sudah di rencanakan tuan Adiguna dan Dion. Tidak ada yang tahu kecuali mereka.
Sedangkan Seno, ia masih mondar-mandir mencoba mengingat tugasnya. Karena ia terlalu panik, jadi ia menjadi blank. Ia berhenti mondar-mandir saat ia mengingat.
" Liiiiikkkk.....Sitiiiiiiii....." panggil Seno.
Dan tak menunggu lama, Lilik dan Siti datang menghampiri.
" Cepat lakukan tugas kalian. Istriku mau melahirkan. " ucapnya memberi perintah.
Lilik dan Siti saling berpandangan. " Sekarang pak bos? Non bos sudah mau melahirkan? " tanya mereka bersamaan.
Seno mengangguk sambil mengambil ponselnya untuk menghubungi Rezky dan memberikan perintah.
Lilik dan Siti bukannya langsung menyiapkan apa yang sudah menjadi tugas mereka, tapi mereka malah menghampiri Armell.
" Non bos benar-benar mau melahirkan sekarang? " tanya Lilik sambil melihat Armell.
Armell membuka matanya karena ia merasa sakitnya tiba-tiba menghilang.
" Liliiiikkkk.... Sitiiiiiiii....Kenapa kalian masih di sini? " pekik Seno.
Lalu Lilik juga Siti langsung lari terbirit-birit masuk ke dalam kamar Armell juga kamar calon majikan kecil mereka untuk mengambil tas berisi pakaian yang sudah mereka siapkan jauh-jauh hari.
Sedangkan di luar, Seno kembali menghampiri istrinya.
" Baby, apa sakit sekali? " tanya Seno ke istrinya sambil berjongkok di depan sang istri dan mengelus perut sang istri.
Armell tersenyum, lalu menggeleng. " Sakitnya sudah hilang. Mungkin itu hanya kontraksi palsu. " jawab Armell.
Ibu Armell menyeka keringat yang mengucur di pelipis Armell karena rasa sakit yang baru saja Armell rasakan.
" Itu bukan kontraksi palsu, sayang. Anak kamu memang sudah ingin melihat dunia. Memang seperti itu kalau mau melahirkan. Sakitnya akan hilang dan timbul. " jelas Nyonya Ruth.
" Pit, kamu sudah menghubungi Bryan? " tanya Seno ke Pipit.
" Sudah bang. Abang bule sudah menyiapkan ruang melahirkan untuk mbak Mell. Dia juga bilang akan segera memberikan kabar ke dokter Ratna. " jawab Pipit.
" Bagus. Abang minta tolong satu lagi, tolong kasih tahu Damar untuk bersiap-siap. " pinta Seno.
" Iya bang. " Pipit lalu segera keluar dan mencari Damar.
***
bersambung