My Handsome Police

My Handsome Police
Titik terang



Bugh....bugh....


Armell menendang tubuh Robert. Saat ini sedang berlangsung bertempuran antara Armell dengan Robert.


Tubuh Robert menghuyung ke belakang sambil memegangi perutnya saat Armell berhasil menendang perutnya.


" Wow....honey....Hebat juga kau ya. Sepertinya aku tidak bisa menganggap remeh dirimu. " ujar Robert sambil mengelus-elus perutnya.


Robert sedari tadi memang tidak menyerang balik Armell. Ia merasa Armell hanya seorang perempuan. Tidak akan sanggup menyerangnya secara berlebih. Sedari tadi ia hanya menghindar dan menghindar. Sampai akhirnya Armell berhasil menendang perutnya dengan cukup keras.


Kini Robert bersiap untuk menyerang balik. Armell tersenyum sinis di depan Robert. Kemudian Armell mulai kembali menyerang. Kali ini, Robert tidak lagi menghindar. Ia menangkis setiap pukulan dari Armell. Iapun sesekali membalas pukulan Armell. Tapi Armell berhasil menghindari pukulan itu.


Robert menjadi semakin geram. Ia menambah sedikit kekuatannya. Kali ini, pukulan yang di layangkan Robert mampu mengenai wajah Armell. Armellpun terhuyung ke belakang. Ia menyeka bibirnya karena darahnya menetes dari sudut bibirnya.


Armell kembali menyerang. Kini mereka saling menyerang dan menangkis. Saling mengunci dan saling membanting. Armell mulai ngos-ngosan dan tubuhnya mulai terasa nyeri.


Biasanya Armell bertarung di atas ring, yang tentu saja beralaskan matras. Tapi kali ini ia bertarung dengan beralaskan lantai yang keras. Di banting beberapa kali oleh Robert membuat tubuhnya terasa nyeri. Serasa tulangnya terlepas satu demi satu.


Armell mulai merasa lelah dan lemas. Wajahnya sudah melebam di beberapa daerah. Tapi dia tetap berusaha bertarung untuk menang. Karena ia tidak akan rela jika harus melayani laki-laki busuk yang ada di depannya ini.


Sebenarnya Robert juga merasakan hal yang sama. Tenaganya cukup terkuras saat melawan Armell. Tapi ia juga harus menang. Karena ia tidak akan pernah melepaskan Armell sebelum tujuannya tercapai.


Mereka kembali bertarung. Tapi tiba-tiba seorang anak buah Robert, masuk ke dalam gudang dengan tergesa-gesa.


" Bos. " panggilnya.


Robert yang saat itu sedang mengunci leher Armell menoleh. " Ada apa? " tanyanya.


" Ada hal penting yang mau saya sampaikan bos. " ucapnya.


Kemudian Robert melepas Armell dan menyerahkannya ke tangan anak buahnya yang lain supaya mereka memegangi Armell agar tidak menyerangnya secara tiba-tiba.


" Ada apa? " tanya Robert ke anak buahnya saat anak buahnya sudah berada di dekatnya.


Lalu anak buahnya itu membisikkan sesuatu di telinga Robert dan membuat Robert terkejut seketika.


" Apa? Mereka becus bekerja tidak sih? " umpat Robert sambil mengusap wajahnya kasar.


" Oke, kita kesana sekarang. " jawab Robert.


Lalu ia mengambil jas yang tergeletak di lantai, kemudian membersihkannya sebentar dan memakainya kembali.


" Kalian, ikat lagi dia seperti tadi. Tapi tidak usah kalian tutup mulutnya. Kasihan. Bibirnya sudah robek " ucap Robert sambil meledek ke arah Armell. Membuat Armell berdecih.


" Saya harus menyelesaikan masalah yang lain dulu. Kita akan berjumpa lagi besok ya. " ucap Robert sambil mengelus pipi Armell. Armell langsung membuang mukanya. Ingin dia menampar Robert karena telah berani menyentuhnya. Tapi kedua tangannya di pegangi oleh anak buah Robert.


" Jaga dia baik-baik. Jangan sampai kabur. " perintah Robert ke anak buahnya. " Oh iya, kasih dia makan juga. Jangan sampai dia kelaparan dan pingsan di sini. Saya juga belum bersenang-senang dengannya. Gak lucu kalau dia pingsan duluan. " tambahnya, lalu meninggalkan gudang itu.


Di luar gudang, Robert mengeluarkan ponselnya.


" Sebentar. Aku harus memberitahu seseorang supaya ia bersiap memenuhi keinginanku. " ujar Robert ke anak buahnya.


Kemudian ia mendial nomer seseorang.


" Halo, lama tidak jumpa tuan muda. " ucap Robert.


" ..... "


" Sudah melupakan teman lamamu ternyata. Ini aku, Robert. Robert Downey. "


" .... "


" Aku memiliki sesuatu yang sangat berharga milikmu tuan. Kembalikan barangku yang kau rampas. Besok pagi. Maka aku juga akan mengembalikan milikmu. Oh iya, kamu mau aku mengembalikan milikmu yang lama, atau yang baru? Karena mereka ada bersamaku semua. Ha...ha...ha..." ujar Robert.


Klik


Panggilan di akhiri sepihak oleh Robert.


...Di rumah Seno...


" Lo yakin dia di culik? Apa mungkin dia pulang kampung? " tanya Alif.


" Gue nggak yakin juga. Tapi kalau dia pulang ke kampung, kayaknya nggak deh. Secara kalau dia emang pulang kampung, masak dia nggak pamit ke teman kostnya? Kan baby Arvin lagi di jaga mereka. Lagian juga kan tasnya kenapa ia geletakin gitu aja? Mana isinya masih komplit lagi. " jawab Seno.


" Bener juga sih. Apa Lo tidak mencurigai seseorang? " tanya Alif ke Seno.


" Siapa? Gue nggak tahu. Gue nggak tahu musuh-musuh dia siapa. " jawab Seno hampir patah semangat.


" Siapa tahu bukan musuh bini Lo, tapi musuh Lo. " ujar Alif.


" Apa mungkin musuh gue? Tapi.... pernikahan gue kan juga nggak banyak yang tahu. Cuma pihak kepolisian dan lo pada. " jawab Seno.


" Ya, siapa tahu aja. Musuh kita sebagai seorang polisi itu kan banyak. Tidak menutup kemungkinan para penjahat besar tahu tentang pernikahan Lo. Bukan hal yang sulit buat mereka untuk mencari informasi. " ujar Alif.


" Entahlah gue juga bingung. " jawab Seno sambil menyandarkan kepalanya di sofa.


Seno memejamkan matanya dan bertanya kepada Rezky, " Gimana Rez? udah dapat sesuatu? "


" Belum, tuan. " jawabnya.


Seno menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya.


" Kita tunggu saja kalau begitu. Kalau emang bini Lo di culik seseorang yang kenal sama lo, mereka pasti ngubungi Lo. Minta sesuatu mungkin. " ucap Alif.


" Gue mau lihat Arvin dulu di atas. Siapa tahu dia kebangun. " ucap Seno sambil beranjak dari sofa.


" Lo taruh anak lo di atas? Di kamar sendirian? Dasar b3g0 Lo ya. Kalau dia kebangun, nggak ada yang denger kan? Terus kalau dia jatuh dari tempat tidur gimana? Nggak ada yang langsung tahu. " seru Alif.


" Bener juga Lo. " Seno buru-buru menaiki tangga menuju ke kamarnya di lantai dua.


" Sayang, anak Daddy udah bangun ternyata. Maafin Daddy, oke. Udah ninggalin Arvin sendirian. " ucap Seno sambil mengangkat tubuh baby Arvin.


Baby Arvin tampak mengenyot ibu jarinya dengan lahap.


" Arvin lapar ya? Oke, kita bikin susu yuk buat Arvin." ajak Seno.


Kemudian ia membawa baby Arvin turun dari lantai dua.


" Lo bener banget Lif. Dia udah bangun waktu gue buka kamar gue. " ucap Seno memberitahu saat ia sampai di ruang tengah.


" Apa gue bilang. Jangan sembrono sama bayi. " jawab Alif.


" Bentar ya. Gue mau bikinin susu buat dia dulu. " pamit Seno.


" Hmm. " jawab Alif.


Kemudian Seno pergi ke dapur dengan baby Arvin yang masih dalam gendongannya.


Saat ia sedang mengaduk susu, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia menghentikan kegiatannya mengaduk susu dan mengambil ponselnya yang berada di dalam saku celananya.


" Siapa ini? Kok cuman nomer doang. " gumam Seno sambil berpikir. " Ah, jangan-jangan...." celetuk Seno.


Ia segera meninggalkan dapur dan kembali ke ruang tengah.


" Kenapa lo lari-lari? " Tanya Alif.


" Ada telpon masuk. Dan tidak ada namanya. Siapa tahu dari penculik bini gue. " ucap Seno.


Alif kemudian beranjak mendekati Rezky.


" Siap-siap Rez. Kalau emang ini dari penculik, kita harus dapetin dia. " ujar Alif.


" Tolong Lif, gendong Arvin dulu. Gue angkat teleponnya. " pinta Seno.


Seno segera menyerahkan baby Arvin ke tangan Alif. Kemudian ia segera menerima panggilan itu, dan tidak lupa menyalakan mode laudspeaker.


" Halo. " ucap Seno


" Halo, lama tidak jumpa tuan muda. " ucap Robert.


" Siapa ini? "


" Sudah melupakan teman lamamu ternyata. Ini aku, Robert. Robert Downey. "


" Robert? Lo? "


" Aku memiliki sesuatu yang sangat berharga milikmu tuan. Kembalikan barangku yang kau rampas. Besok pagi. Maka aku juga akan mengembalikan milikmu. Oh iya, kamu mau aku mengembalikan milikmu yang lama, atau yang baru? Karena mereka ada bersamaku semua. Ha...ha...ha..." ujar Robert.


" Br3ngs3k! Kem...."


Tut ..Tut...Tut ... panggilan di akhiri sepihak.


" Br3ngs3333kkkk!!!" teriak Seno.


" Tenang bro. Rez, Lo udah dapat lokasinya? " tanya Alif.


" Sebentar tuan. Masih dalam proses. " jawab Rezky.


" Gue nggak kepikiran kalau dia yang melakukannya." ujar Seno.


" Apa dia Robert yang sama dengan Robert yang di gilai sama Stella? " tanya Alif.


Seno mengangguk sambil menghenyakkan pantatnya ke sofa. Seno merasa sangat khawatir sekarang. Masa lalunya mulai kembali. Dan masa lalu itu membawa istrinya.


" Liiiikkk....Liliiiikkkkk...." panggil Seno.


" Iya pak bos. " jawab Lilik sambil setengah berlari masuk ke ruang tengah.


" Saya nitip Arvin. Saya harus pergi. Oh iya, tadi saya membuatkannya susu tapi belum sempat saya tuang ke dot. " pinta Seno.


" Iya, pak bos. Tenang saja. Baby Arvin akan selalu aman sama Lilik. " jawab Lilik.


" Ayo, sayang...ikut Miss Lilik yuk...." ucap Lilik sambil mengambil baby Arvin dari gendongan Alif.


" Tuan, dapat tuan. Saya mendapatkan lokasinya. " ujar Rezky.


" Bagus, dimana? " tanya Seno penuh semangat.


" Ini di daerah Bandung tuan. Di sebuah gudang di pinggir kota. " jawab Rezky.


" Ayo kita bergerak secepatnya. Lo udah atur semua anak buah kita kan Rez? " tanya Seno.


" Sudah tuan. Bahkan sekelompok dari mereka sudah berada di pinggir kota sekarang. Tinggal memberi aba-aba, mereka langsung berangkat ke lokasi. " jawab Rezky.


" Bagus. Beritahu mereka lokasinya. Kita susul mereka. " sahut Seno.


Akhirnya mereka bertiga segera pergi meninggalkan rumah Seno dan menuju lokasi yang di tunjuk oleh Rezky. Rezky membawa mobil Seno bersama Seno, sedangkan Alif menaiki mobil vannya dengan salah satu anak buah Seno yang lain.


****


bersambung


...Nah, udah jadi nih episode selanjutnya.... selamat menikmati.......


...Daripada kalian pada bosan nungguin up cerita ini, kalian datang saja ke novel author yang lain..Tak kalah menghibur kok...dan ceritanya udah end semua... " Maafkan Aku, Cinta " ( pakai koma setelah kata Aku ya kak) dan " Mencintaimu Setulus Hatiku) yang ini ada versi audionya juga loh.......