My Handsome Police

My Handsome Police
Kutu raksasa



Waktu terus berlalu. Armell dan baby Arvin kini tinggal di rumah Seno. Sudah tiga bulan dari semenjak kejadian penculikan itu, Seno menjadi suami over protective. Dia tidak pernah membiarkan Armell bepergian sendiri. Kemanapun Armell pergi, Seno akan selalu siap mengantar. Untung saja Armell bukan tipe perempuan yang suka keluyuran. Dia hanya akan pergi ke kampus, atau ke perpustakaan kota.


Flash back on


" Mas, kenapa bajuku sama baju Arvin di bawa kesini semua? " tanya Armell ketika ia sedang berdua dengan Seno di kamar di pagi hari setelah kejadian penculikan kemarin lusa.


" Kan kamu sama Arvin bakalan tinggal di sini. " jawab Seno sambil masih melihat ke ponselnya.


" Maksudnya? " tanya Armell.


" Maksudnya, kamu sama baby Arvin akan pindah, tinggal di sini. Bersamaku. Tidak boleh tinggal di rumah kost lagi. Kamu, sama baby Arvin akan selalu dalam pengawasanku. " jawab Seno setelah ia meletakkan ponselnya di nakas.


" Loh, nggak bisa gitu dong. Kan mas udah sepakat dulu. Mell sama baby Arvin tinggal di rumah kost sampai Mell lulus kuliah. " sahut Armell.


" Aku nggak peduli lagi sama kesepakatan itu. Yang aku pedulikan sekarang, dan nanti, adalah keselamatan kamu, juga baby Arvin. " ujar Seno penuh penekanan sambil menatap dalam-dalam manik mata Armell.


" Mas??" protes Armell.


" Sudah. Hal ini sudah aku putuskan. Kamu suka atau tidak, kamu mau marah atau apa, terserah kamu. Yang penting mulai hari ini sampai selamanya, kalian akan tinggal di sini. Titik. " jawab Seno tak terbantahkan.


" Aku sudah dapatkan baby sitter buat baby Arvin. Aku juga akan membersihkan kamar sebelah, supaya bisa kita jadikan kamar buat Arvin. " Seno memberitahu.


" Kuliah aku gimana?" tanya Armell.


" Kuliah ya tetap kuliah. Aku tidak pernah melarang mu untuk kuliah. Aku bahkan akan mengantar dan menjemput kamu setiap kamu kuliah. " jawab Seno.


" Bukan itu maksud Mell mas. Maksudnya itu, kalau pihak kampus tahu Mell udah nikah, maka beasiswa Mell bakalan di cabut. Terus gimana? " jelas Armell.


" Dulu aku juga sudah bilang, tidak perlu khawatir masalah biaya kuliah. Aku mampu untuk membiayai kuliahmu. Semua yang kamu butuhkan, akan menjadi tanggung jawab aku. Karena aku ini suami kamu. Besok, aku akan ke kampus kamu. Aku akan menemui rektornya, mau bilang sama mereka, kalau kamu sudah tidak butuh beasiswa lagi. " ucap Seno.


" Tapi mas..."


Cup


Seno membungkam mulut Armell dengan mencium bibirnya. ********** sebentar karena Armell mendorong tubuhnya.


" Kebiasaan kamu mas. " protes Armell sambil cemberut.


Sebenarnya Armell sudah mulai terbiasa dengan perlakuan Seno yang seperti ini. Ia sudah tidak terkejut lagi jika tiba-tiba Seno mencium bibirnya. Ada perasaan menggelitik di hati Armell kala suaminya memberinya ciuman tiba-tiba. Tapi ia masih enggan untuk mengakuinya.


" Kalau nggak gini, mulutmu nggak mau diam. " jawab Seno enteng.


" Dasar. " umpat Armell sambil memalingkan wajahnya yang bersemu.


" Satu lagi, aku tidak mau kecolongan. Aku tidak mau ada laki-laki lain yang menginginkanmu. Aku tidak suka. " ucap Seno tegas.


" Maksudnya gimana? " tanya Armell.


" Gara-gara Robert dan tubuh kamu yang memar-memar sampai di sini-sini, aku hampir gila. " ucap Seno sambil menunjuk dada Arnell. " Aku ingin membunuhnya kalau sampai benar-benar dia menyentuhmu. " lanjutnya.


" Kenapa kamu jadi gila mas? Yang luka kan aku. " jawab Armell.


" Hati aku yang sakit ngebayangin kamu di sentuh-sentuh sama laki-laki lain. Aku kecewa, aku kesal. " sahut Seno berapi-api.


Seno hanya melirik sepintas.


" Asal mas tahu ya, Mell ini perempuan terhormat. Mell nggak bakal biarin orang bertindak semena-mena sama Mell. Apalagi sampai ada laki-laki yang berani *****-*****. Mell bakal mempertaruhkan nyawa Mell supaya Mell tidak kehilangan yang satu itu. Cuman mas doang nih yang berani *****-***** Mell, tapi Mell nggak berani bales. Karena mas suami Mell. Kata ibu, berbuat kasar sama suami itu dosa. " ujar Armell panjang lebar.


" Hem .." Seno tersenyum mendengar penuturan Armell. Tidak menyangka jika istrinya bisa berbuat seperti itu.


" Tapi nih ya mas, Mell minta tolong sama mas, sebelum kejadian yang tidak-tidak. Jangan pernah minta dan nuntut *****-***** yang lebih. " pinta Armell.


" Maksudnya apa? Emang ada *****-***** yang lebih? Kalau lebih enak ada. " goda Seno.


" Ya ada lah. Mell emang nggak bisa berantem sama mas untuk menolak karena inget kata-kata ibu. Tapi Mell bakal nangis kejer kalau mas ngelakuin itu. " ucap Armell lirih.


" Hei. " Seno memegang pipi Armell. " Kalaupun aku *****-***** kamu, itu karena entah kenapa, setiap di dekat kamu, tanganku nggak bisa diam. Aku selalu ingin mencoba banyak hal sama kamu. Yang selama ini belum pernah aku coba dan aku rasakan. Jujur, aku memang ingin memiliki kamu seutuhnya. Tapi tidak sekarang. Aku akan memintanya jika kamu sudah siap memberikannya. Tappiiii......boleh dong kalau cuma pegang-pegang doang sama cium bibir kamu..." ucap Seno sambil sedikit menggoda Armell.


" Ih ..."


bugh


Armell memukul muka Seno dengan bantal.


" Au...." Seno mengambil bantal yang di pakai Armell memukul mukanya. " Dengar, kalau kamu khawatir aku berbuat lebih saat kamu tidur, aku akan tidur di kamar tamu. Kamu tidurlah di sini. Aku hanya akan masuk ke kamar ini jika aku mau ganti baju. " ujar Seno serius. Entah dia sadar atau tidak jika ucapannya ini akan menyiksanya.


Flash back off


Kini semua kebutuhan kuliah Armell, di tanggung oleh Seno. Dia sudah tidak mendapatkan beasiswa lagi. Skripsi Armell sudah mencapai bab 3. Sebentar lagi ia akan bisa menyelesaikan kuliahnya.


Seno juga menepati ucapannya. Ia setiap malam tidur di kamar tamu di lantai satu. Tapi bukan Seno namanya jika ia tidak bisa mengambil keuntungan. Jika malam tiba dan Armell sudah tidur pulas, sedangkan ia tidak bisa tidur, maka ia akan masuk ke kamar dan menyusul tidur dengan memeluk Armell.


Terkadang tidak hanya tidur saja. Jika hasratnya sedang memuncak, ia akan mempekerjakan tangan juga bibirnya untuk membantunya. Kegiatan *****-***** pun pasti terjadi. Memegang, meremas, mengecup, akan dia lakukan sampai ia mencapai puncak dan membuang kecebongnya di toilet. Duh, kasihan yah nasib kecebong....Harus berakhir di dalam toilet.


Tidak jarang, Armell menemukan tanda-tanda kemerahan bahkan sampai keunguan di leher maupun di dada dan punggung. Tapi karena Armell yang masih polos, maka ia mengira kalau ia terkena alergi.


Tapi satu hal yang belum pernah di lakukan Seno. Ia belum pernah melihat secara live isi dari br@ Armell. Ia hanya meremas dan memegang dari luar br@ saja.


" Mas, apa mungkin di kasur kamu itu ada kutunya ya? " tanya Armell saat mereka sedang berada di meja makan ketika pagi hari.


" Kenapa memangnya? " tanya Seno setelah ia menyeruput kopinya.


" Masak nih ya mas, leher, dada, terus punggung aku sering ada kayak bekas gigitan gitu. Merah-merah. Kalau pagi hari pas aku mandi, kelihatan tuh bekas merah-merahnya. " jawab Armell.


Byur...


" Uhuk...uhuk...uhuk..." Seno tersedak saat ia sedang menyeruput kopinya. Ia terkejut dengan penuturan istrinya. Bekas merah-merah itukan hasil karyanya. Berarti istrinya itu tidak tahu dan tidak menyadari. Bahkan ia dengan polosnya mengira kalau ia di gigit kutu. Yah, kutu raksasa.


" Hati-hati mas kalau minum. Pelan-pelan. " ucap Armell sambil terus berdiri dan menepuk-nepuk pelan punggung Seno.


***


bersambung