My Handsome Police

My Handsome Police
Servis asoy....



Setelah kepergian baby Arvin dari rumah, Armell sering terlihat murung. Ia jadi malas melakukan sesuatu. Tapi ia menjadi semakin rajin datang ke kampus. Karena jika ia berada di kampus, ia merasa senang, banyak temannya.


Senopun tidak bisa melarangnya. Karena ia juga tidak selalu bisa menemani sang istri. Perpindahan devisi membuatnya agak sibuk akhir-akhir ini. Sekarang ia masuk di devisi kriminalitas. Membuatnya sering pulang malam. Karena makin maraknya kasus kriminal akhir-akhir ini. Bahkan tahun barupun ia lewatkan begitu saja.


Sore itu, Armell sedang jalan-jalan di sebuah mall dengan beberapa teman kuliahnya. Karena kesibukan Seno, sekarang ia mendapat sedikit kebebasan. Ia sudah tidak setiap hari di antar jemput. Seno tidak bisa setiap hari menjemputnya dari kampus. Sebenarnya Seno akan memberikan sebuah mobil beserta sopir. Tapi Armell menolak dengan keras. Ia tidak ingin berlebihan. Karena ia masih mampu untuk naik taksi online.


" Mas Seno...." gumam Armell saat ia seperti melihat suaminya sedang menikmati makannya di sebuah resto di mall itu.


" Guys, bentar ya. Aku mau kesana dulu. Kalian kalau mau cari-cari buku di dalam, masuk aja dulu. Nanti aku nyusul. " pamit Armell ke teman-temannya.


" Oke deh. Tapi jangan lama-lama ya. " ujar salah satu temannya.


Armell mengangguk. Kemudian ia berlalu meninggalkan teman-temannya. Ia berjalan perlahan saat ia sudah dekat dengan restoran di mana suaminya berada. Ia bahkan nyaris mengendap-endap.


Semakin dekat dengan meja suaminya, terlihat dengan jelas jika laki-laki itu memang Seno suaminya. Tapi di saat semakin mendekati meja, ia baru menyadari siapa orang yang duduk di samping suaminya itu.


" Mariana? " gumam Armell. Ia mengepalkan kedua tangannya. Juga mengeretakkan gigi-giginya.


" Bilangnya ada kasus yang harus segera di selesaikan. " gerutu Armell. " Baby, nanti aku pulang malam yah. Kamu tidur aja, jangan nungguin aku. " Armell menirukan kata-kata Seno saat hendak berangkat kerja tadi pagi.


" Kak bilang apa barusan? Mau pesan sesuatu? " tanya waiters yang lewat di dekatnya dan sedikit mendengar Armell berbicara.


" Ah, tidak kak. Saya tidak bilang apa-apa. Saya hanya sedang mencari seseorang di sini. Kami janjian. " jawab Armell.


" Oh, ya sudah kalau begitu. Permisi. " pamit si waiters. Lalu ia berlalu dari hadapan Armell.


Armell merasa semakin kesal dan sebal melihat interaksi Seno dan Mariana. Oh, bukan. Interaksi dari Mariana saja yang benar. Tapi bagi Armell, yang hatinya sedang memanas, seolah-olah suaminya membalas setiap perlakuan Mariana. Mariana sengaja memegang lengan Seno, kemudian melayani Seno dengan mengambilkan lauk untuk seno, dan masih banyak lagi.


Ia berjalan mendekati Seno dan Mariana dengan emosi menggebu-gebu. Kalau ada yang mau nantangin dia saat ini, pasti sudah hancur lebur. Rasanya ia ingin mematahkan semua tulang-tulang Mariana yang sok gemulai itu.


Armell menghampiri Seno dari belakang. Kemudian sengaja merangkul Seno dari belakang. Ia melingkarkan kedua tangannya ke leher Seno.


" Halo, sayang..." sapa Armell dengan nada suara di buat semanis mungkin. Dan kemudian ia mengecup sekilas pipi kiri Seno. Akting harus all out. Masalah malu, di pikir belakangan. batin Armell geram.


Uhuk....uhuk...uhuk....


Seno tersedak karena terkejut dengan kehadiran Armell di sana. Di tambah lagi kelakuan Armell yang tidak seperti biasanya.


Melihat Seno tersedak, Mariana segera memberinya minum. Tapi Armell segera meraih gelas itu dari tangan Mariana dengan tatapan tajam menyorot ke Mariana.


" Pelan-pelan sayang kalau makan. " ucap Armell dengan senyum termanis ala Armell sambil menepuk pelan punggung Seno. " Nih, di minum dulu. " lanjutnya.


Lalu ia menyuapkan minuman di gelas itu ke mulut Seno. Seno menerimanya. Tapi saat Seno menenggak minuman itu, Armell sengaja mendorong gelas itu sehingga Seno kewalahan menelan airnya. Seno melihat ke arah Armell. Tapi Armell menghadiahinya tatapan yang tajam.


' Rasain. ' batin Armell.


" Enak sayang, makanannya? Pasti enak banget ya. Ya udah, di lanjut sayang makannya. Aku mau ketemu sama teman-temanku dulu. " ucap Armell.


Cup


Kali ini Armell tidak hanya mengecup pipi Seno. Tapi kali ini ia mengecup bibir Seno karena saat ini Seno sedang menatap ke arahnya.


Setelah memberikan kecupan di bibir Seno, Armell mengecap-ngecapkan bibirnya. " Manis. Agak pedes juga. " ucapnya sambil tersenyum, kemudian berlalu dari hadapan Seno dan Mariana.


Armell berjalan dengan terburu-buru. Ia sudah sangat ingin berteriak untuk menghilangkan sesak di dadanya. Bahkan matanya sudah mulai berkaca-kaca. Ia merasa suaminya telah membohonginya. Dengan alasan sibuk menyelesaikan kasus, ia bersenang-senang dengan perempuan lain.


Sebenarnya ia sudah tahu sejak beberapa hari yang lalu soal Seno dan Mariana yang sering pergi bareng. Karena ia sering mendapatkan pesan dan foto-foto dari nomer yang tidak ia kenal. Tapi ia berusaha untuk cuek meskipun hatinya terasa sakit. Itulah salah satu yang menyebabkan ia sering murung selain karena tidak adanya baby Arvin di rumah.


Armell segera keluar dari restoran. Ia berjalan cepat menuju eskalator turun yang ada di mall itu.


Seno yang baru sadar jika istrinya telah berlalu, segera bangkit dari duduknya dan keluar dari restoran tanpa memperdulikan Mariana yang memanggilnya.


Ia keluar dari restoran, menoleh ke kanan dan ke kiri, sambil mengusap-usap bibir yang di kecup oleh Armell tadi. Armell tidak terlihat. Ia kemudian berlari menuju tengah mall. Di sana, akan terlihat lantai yang di atasnya maupun yang di bawahnya. Ia melongok ke bawah. Pandangannya terus mengitari.


" Gotcha. " gumamnya saat ia melihat Armell.


Seno buru-buru berlari menuruni eskalator dan berusaha menggapai Armell. Meskipun Armell juga berjalan dengan cepat, tapi karena kaki seno yang panjang, yang langkahnya tentu saja lebih lebar daripada Armell, Seno berhasil menyusul Armell.


Armell terkejut dan membalikkan badannya. Kemudian ia menatap tajam ke arah Seno.


" Katanya tadi mau nyusulin teman-teman kamu? Kok malah keluar. " tanya Seno.


" Nggak jadi. Mau pulang ke tempat kak Ikke aja. " jawab Armell.


" Lah, ngapain pulang ke kost? Tidak pulang ke rumah. " tanya Seno.


" Males. " jawab Armell sekenanya. Kemudian ia kembali berjalan menuju depan mall. Di mana biasanya banyak taksi mangkal.


Seno mengikutinya sambil berusaha meraih tangan Armell. Tapi selalu di tepis oleh Armell.


" Baby...." panggil Seno. Tapi panggilan Seno tidak diindahkan oleh Armell.


" Armell...." panggil Seno kembali. " Kamu mau kemana? " tanya Seno.


" Mau naik taksi lah. Masak mau naik becak. " jawab Armell.


" Kita pulang sama-sama. Aku antar kamu pulang. Pulang ke rumah kita. " ucap Seno saat ia berhasil meraih tangan Armell.


" Nggak usah, makasih. Aku bisa sendiri. Lagian rumah itu kan punya kamu. Bukan punya kita. Orang aku juga tidak ikut membelinya. " jawab Armell ketus. Ia kembali menepis tangan Seno.


Saat di depan mall ada taksi menurunkan penumpang, Armell segera menyetopnya.


" Pak, tungguin bentar. " panggil Armell ke sopir taksi.


Sopir taksi itu menghentikan taksinya yang sudah melaju beberapa meter dari depan mall. Armell masuk ke dalam taksi saat taksi itu telah berhenti.


Seno tidak diam begitu saja. Ia masih mengejar Armell. Ia memegang pintu taksi.


" Armell, turun. Pulang sama aku. " ucap Seno tegas.


" Jalan pak. " Armell meminta pak sopir segera menjalankan taksinya tanpa mendengarkan omongan Seno.


" Jangan pak. " perintah Seno tegas.


" Jalan pak. Cepetan. " pinta Armell. Pak sopir taksi mulai memasukkan gigi mobil.


" Berhenti pak, saya bilang. " ucap Seno ke sopir taksi.


" Jalan pak, saya bilang. " ucap Armell ke sopir taksi.


" Bapak jalan, saya kasih surat tilang. Saya akan membuat laporan juga kalau bapak mau menculik istri saya. " ancam Seno.


Sang sopir taksi melongo mendengar ancaman dari Seno.


" Bapak polisi ini ada-ada saja. Saya tidak menculik istrinya loh. Istri bapak sendiri yang naik taksi saya. Bapak kalau lagi berantem, mending di rumah saja. " ucap sang sopir taksi.


" Mas apa-apaan sih. Kok main ngancem. Kan kasian bapaknya. " protes Armell.


" Makanya kamu turun sekarang. Pulang sama aku. Atau beneran aku bawa bapak sopir taksi ini ke kantor polisi sekarang juga. " kini Seno ganti mengancam Armell.


" Non, mending turun aja deh. Jangan bawa-bawa saya dalam masalah kalian. Mending masalah kalian segera di selesaikan. Selesaikan di rumah. Pak polisi, saya kasih saran. Ini pengalaman pribadi saya. Kalau istri saya sedang marah, saya kasih jurus andalan. Pasti langsung meleleh, lupa marahnya. " ucap pak sopir.


" Jurus andalan apa pak? " tanya Seno.


" Saya ajakin dia berantem di ranjang sampai pagi. Saya kasih full servis yang asoy..." jawab pak sopir.


Mendengar jurus andalan sopir taksi, Armell segera turun dari taksi itu. Ia malah bergidik ngeri. Saran yang sangat membuatnya takut.


***


bersambung


Part ini author up pagi ya kak ...tapi yg episode yang selanjutnya kayaknya author bisa up nya sorean... nggak pa-pa ya kak....tapi insyaallah hari ini tetep up 2 episode seperti biasanya....🙏🙏🙏