My Handsome Police

My Handsome Police
Abang bule



Bryan mulai menjalankan mobilnya saat Pipit sudah masuk dan duduk di sebelahnya.


" Lo, hari Sabtu gini bukannya libur ya sekolah? " tanya Bryan.


" Nggak. Masuk kok. Cuma pulangnya agak pagian. Nggak kayak biasanya. " sahut Pipit.


" Oh...gue kira sama kayak di Jakarta. Kalau hari Sabtu gini libur. " ujar Bryan kembali sambil fokus ke jalanan.


" Jalan depan, perempatan itu entar belok kiri om. " ujar Pipit.


" Ck. Bisa nggak sih Lo tu nggak panggil gue om? Berasa tua banget gue. Lagian kapan juga gue kawin sama Tante Lo? " protes Bryan.


" Emang kalau manggil om, harus gitu nikah dulu sama Tante aku? Nggak juga kan? Lagian Pipit juga nggak suka om panggil ' bocah '. Emang Pipit ini anak PAUD apa. " gerutu Pipit.


" Ya kan Lo masih kecil. Ya pantes lah kalau di panggil bocah. " sahut Bryan.


" Om juga. Om kan udah tua juga. Jadi pantes lah kalau di panggil om. " ujar Pipit tak mau kalah.


" Awas, sakola kuring om....." pekik Armell.


" Lo ngomong apaan barusan? " tanya Bryan yang tidak mengerti bahasa yang digunakan Pipit.


" Awas. Eureun..." pekiknya lagi.


" Nih bocah ngomong apaan sih? " gerutu Bryan.


" Ck. Berhenti, om. " teriak Pipit.


Karena terkejut Pipit berteriak, Bryan langsung menghentikan mobilnya sembarangan. Ia menginjak rem sampai menimbulkan suara berdecit.


" Ooooommmmm....." pekik Pipit. " Bisa nyetir nggak sih! " lanjutnya.


" Enak aja kalau ngomong. " sahut Bryan tidak terima.


" Yaahhhh....Jauh kan. " keluh Pipit sambil melihat ke belakang. Sekolahnya terlihat sudah terlewat.


Bryan mengikuti arah pandang Pipit, " Itu sekolah Lo? " tanyanya. Pipit mengangguk tanpa melihat ke arahnya. " Bilang kek dari tadi. Kan nggak jauh kayak gini. " umpat Bryan.


" Huh, si om. Tadi kan Pipit udah bilang. " sahut Pipit kesal.


" Kapan elo bilangnya? " tanya Bryan.


" Tadi. Pipit udah teriak, awas sekolahnya kelewatan. Gitu. " kekeh Pipit.


" Lo nggak ada bilang kayak gitu ya. Yang ada, Lo ngomong bahasa planet iya. " keluh Bryan.


" Bahasa planet gimana? Teu aya nanaon si om. " protes Pipit.


" Nah, itu tadi. Pakai bahasa planet lagi. " ujar Bryan.


" Ihhh, ommmm...Itu namanya bahasa Sunda. " jawab Pipit makin kesal.


" Ya mana gue tahu. Gue tahunya cuma bahasa Indonesia, Inggris, Perancis. " sahut Bryan sambil memindahkan persneling mobilnya ke mode mundur. Lalu ia menginjak pedal gasnya sambil melihat ke belakang.


" Ini sekolah Lo? " tanya Bryan ketika mobilnya telah sampai di gerbang sebuah sekolah.


Pipit melihat ke samping lalu menjawab, " Iya. Ini sekolah Pipit. Ya udah, Pipit turun dulu. " ujar Pipit sambil melepas seat belt. Lalu ia mengulurkan tangannya ke depan Bryan.


" Mau ngapain? Minta uang jajan? " tanya Bryan.


Pipit menepuk jidatnya perlahan, " Di kata aku cewek matre. " gumam Pipit.


" Salim om. Pipit mau sekolah. Jadi minta pamit, salim dulu. " ujar Pipit kembali mengulurkan tangannya.


Akhirnya Bryan menerima uluran tangan Pipit. Lalu Pipit mencium punggung tangannya. " Assalamualaikum. " ucap Pipit sambil menarik kembali tangannya dan membuka pintu mobil.


" Waalaikum salam. " jawab Bryan masih dengan keterkejutannya mendapatkan perlakuan seperti itu oleh Pipit. Tiba-tiba jantungnya berdebar. " ****. " umpatnya. Ia tidak suka dengan debaran ini. Ia yang sebenarnya memang seorang Casanova, sudah paham dengan berbagai debaran jantung. Apalagi dia juga seorang dokter.


" Pipit nggak minta uang saku. Makasih. Tadi udah di kasih sama ibu. " ujar Pipit sambil sedikit membungkukkan tubuhnya supaya bisa melihat Bryan dari balik pintu. " Daah om...." Pipit melambaikan tangannya.


Bryan memukul kemudi perlahan sambil terus mengumpat karena debaran jantungnya tidak segera berakhir.


Sedangkan di rumah, Armell sedang asyik makan lotek yang tadi ia beli dari kampung sebelah. Lotek kesukaannya sejak ia sekolah menengah pertama. Jadi, tadi dia menyuruh Pipit di antar oleh Bryan, karena ia mau meminjam motor Pipit untuk membeli lotek. Karena semenjak bangun tidur tadi, ia sudah sangat ingin makan lotek. Bahkan sang ibu sudah bilang kalau warungnya belum buka, Armell tetap mau kesana.


Jangan tanya bagaimana reaksi Seno saat sampai di tempat itu dan ternyata benar warungnya masih tutup. Kesal, tentu saja. Tapi karena melihat sang istri begitu menginginkan makanan itu, ia rela membantu si penjual menyiapkan bumbu kacangnya.


Armell, jangan tanya. Ia begitu bahagia melihat suaminya ikut membuat lotek yang di inginkannya. Dan si penjual, tentu saja sangat senang karena di bantu oleh seorang laki-laki yang tampan dan gagah.


Sampai rumah, ia langsung membuka bungkus makanan itu dan menikmatinya di depan rumah dengan di temani suaminya. Sesekali Armell menyuapi suaminya.


Seno tersenyum dan mengangguk sambil bersusah payah mengunyah dan menelan makanan yang terasa aneh di lidahnya. Karena ia memang tidak suka dengan makanan yang berbumbu kacang itu.


💫💫💫


Bryan menunggu Pipit di depan gerbang sekolah. Ia berdiri menyandar di badan mobil dengan kaki saling menyilang dan tangan bersedekap. Tak lupa, sebuah kacamata hitam bertengger di hidungnya.


Matanya terus menatap setiap siswa yang keluar dari dalam sekolah. Mencari yang manakah seorang Pipit. Dan akhirnya netranya menemukan seorang Pipit sedang di bonceng oleh seorang laki-laki keluar dari pintu gerbang.


Tak mau kehilangan Pipit, Bryan segera memanggil Pipit karena motor yang di tunggangi Pipit berhenti tepat di depan gerbang. " Hei, bocah..." panggilnya.


Karena posisi mereka yang tidak terlalu jauh, Pipit segera menoleh karena mendengar suara yang tak asing memanggilnya. Mendapati seorang dokter Bryan, Pipit memutar bola matanya jengah.


Pipit lalu turun dari atas motor, sambil berbicara dengan laki-laki yang memboncengkannya. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi menurut penglihatan Bryan, laki-laki itu mengusap rambut Pipit, lalu membelai pipi Pipit sebelum akhirnya mereka saling melambaikan tangan dan Pipit menghampirinya.


" Ayo masuk. " titah Bryan dengan suara dingin. Tanpa menjawab, Pipit langsung masuk ke dalam mobil. Tidak ada pembicaraan di antara mereka saat itu.


Sampai Pipit membuka suara, " Kita ke pasar dulu jemput ibu. Biasanya kalau hari Sabtu gini, Pipit jemput ibu dulu. " ujar Pipit.


" Hem. Arahnya kemana ini? " tanya Bryan.


" Lurus aja dulu om. Entar kalau udah sampai lampu lalu lintas, belok kanan. " sahut Pipit.


Bryan mengikuti arahan Pipit. " Ehem. " Bryan berdehem. " Siapa tadi yang boncengin Lo? " tanyanya.


Pipit menoleh ke arahnya.


" Cowok lo? " tanyanya lagi tanpa menunggu jawaban dari Pipit.


Pipit mengangguk. Bryan menghela nafas kasar, lalu mengusap wajahnya kasar. Entah kenapa jawaban Pipit membuatnya tidak suka.


" Niatnya mau nganterin ke pasar nyusulin ibu. Tapi om malah jemput. " ujar Pipit.


" Ibu tahu Lo punya pacar? " tanya Bryan.


" Tahu. " jawab Pipit sambil mengangguk. " Kadang main ke rumah kok. " lanjutnya.


Bryan hanya menjawab dengan oh saja. Lalu ia kembali fokus ke jalanan.


" Om...awas...belok kanan. " pekik Pipit karena lagi-lagi Bryan tidak mengindahkan arahannya tadi. Sebenarnya bukan tidak mengindahkan, tapi pikiran Bryan sedang melanglang buana.


" Iya ah. Berisik. " gerutunya. Lalu ia menghidupkan lampu sein-nya dan belok ke kanan.


" Ini lurus dulu, entar ada pertigaan di depan, ambil kanan lagi. Awas kalau om nggak konsen lagi. " ujar Pipit.


" Ck. Bisa nggak sih Lo jangan manggil gue om melulu. Gak enak dengernya. " protes Bryan merasa semakin tidak nyaman dengan panggilan om yang di ucapkan oleh Pipit.


" Terus mau manggilnya apa? Mas? Eh, jangan ah. Entar jadi ikut-ikutan mbak Mell manggil bang Seno aja. " ujar Pipit.


" Panggil nama aja lebih enak. " sahut Bryan.


" Nggak ah. Nggak boleh. Nggak sopan itu namanya. Secara situ kan jauh lebih tua. Emmm...Abang aja deh. Biar samaan kayak bang Seno. " ujar Pipit.


" Ih, nggak pantes kali. Gue yang wajahnya 100% bule gini Lo panggil Abang. " protes Bryan.


" Lah terus maunya di panggil apa? Udah deh Abang aja. Riweh tahu nggak. Abang bule. Keren kan tuh? " tawar Pipit.


" Iya deh. Daripada Lo panggil gue om. " sahut Bryan menyetujui.


" Kalau gitu, Abang bule jangan panggil Pipit bocah lagi. Pipit. Gitu manggilnya. " pinta Pipit.


" Iya. " jawab Bryan.


" Oh iya. Satu lagi. Bisa nggak kalau ngomong pakai saya, aku, kamu, kau gitu. Jangan Lo gue. Kurang enak Pipit dengernya. Soalnya Pipit bukan orang Jakarta sih ya. Jadi nggak gaul. " pinta Pipit.


" Hem " sahut Bryan.


***


bersambung


...Sampai sini dulu kisahnya Abang bule sama si Eneng Pipit ya guys. Insyaallah kalau cerita Seno dan Armell kelar, author buka lapak baru buat bikin cerita Abang bule sama si Eneng Pipit....


Kalau udah kelar baca cerita Seno Armell, cuss lanjut ke lapak Bryan Pipit ya kak ... Novel keempat othor nih ..