
Hampir semalaman Seno tidak menutup matanya. Ia mengamati dan memandang Armell selalu. Sampai ia mendapati pergerakan dari tubuh Armell...
" Hmmm....." Armell mulai bergumam.
Armell mulai menggerakkan tubuhnya. " Ah...Ssssshhhh....." Armell mendesis karena saat ia mencoba menggerakkan tubuhnya, hampir seluruh tubuhnya sakit.
" Baby, kamu bangun? " tanya Seno lalu ia bangun dari rebahannya.
Armell membuka matanya perlahan. " Badanku rasanya sakit semua...Ah....Remuk semua ini tulangku...Ssshhhh...." ucap Armell sambil merintih dan meringis kesakitan.
" Kita ke rumah sakit saja ya sekarang? " tawar Seno.
Armell menggeleng. " Aku lapar. Haus." ucapnya kemudian.
" Sebentar, aku ambilkan minum. " Seno melonjak turun dari tempat tidur dan berjalan menuju meja yang ada di sebelah sofa. Ia menuang air putih ke dalam gelas. Kemudian berjalan kembali mendekati Armell.
" Duduk dulu. Aku bantu. " ucap Seno, lalu ia meletakkan gelas yang berisi air putih di atas nakas dan ia membantu Armell untuk duduk.
Perlahan, Armell duduk di bantu oleh Seno. Setelah Armell dalam posisi duduk dengan badan Seno menopangnya di belakang, Seno mengambil gelas tadi dari atas nakas, kemudian meminumkannya ke istrinya.
" Ssshhh...udah mas. Bibirnya perih kalau kena air. " ucap Armell.
Seno meletakkan kembali gelas itu ke atas nakas.
" Kamu mau kembali tiduran, atau mau duduk aja? Aku mau buatin kamu bubur. Kalau makan nasi biasa, mulut sama bibir kamu pasti sakit kalau buat ngunyah. Kalau makan bubur, tinggal telan saja. " ucap Seno.
" Aku mau duduk aja. Capek rebahan terus. " jawab Armell.
Seno mengangguk, lalu ia mengangkat tubuh Armell dan memundurkan posisinya sehingga Armell bisa bersandar di badan ranjang. Seno menaruh bantal di belakang punggung Armell sehingga Armell merasa lebih nyaman.
" Makasih mas. " ucap Armell. Seno mengangguk sambil tersenyum.
Seno lalu keluar dari kamar dan menuju ke dapur. Di dapur ia bertemu dengan Lilik.
" Lho, udah bangun kamu Lik? " tanya Seno ke Lilik.
" Ya sudah lah pak bos. Bentar lagi kan udah mau adzan subuh. " jawab Lilik.
Seno melihat ke arah jam dinding yang ada di dapur. " Oh iya udah jam setengah 4. Kirain masih malem. " sahut Seno.
" Pak bos mau bikin apa? " tanya Lilik saat ia melihat Seno mengambil panci.
" Mau bikin bubur buat Armell. Dia lapar katanya. Kelihatannya semenjak kemarin dia belum makan. " jawab Seno.
" Mbak Armell udah ketemu pak bos? " tanya Lilik dengan kegirangan.
" Udah, semalam. Tapi keadaannya memprihatinkan. Mukanya penuh dengan luka memar. Bibirnya sobek. Bagian tubuhnya yang lain juga pada memar. " sahut Seno sambil hendak mengambil beras.
" Sini, biar Lilik saja yang membuat bubur. " pinta Lilik. Seno kemudian menyerahkan beras yang tadi sudah ia ambil.
" Berarti mbak armell beneran di culik? " tanya Lilik sambil tangannya mencuci beras.
" Iya. Entah apa yang terjadi sampai tubuhnya penuh dengan luka seperti itu. Oh iya, bagaimana sama baby Arvin? Apa semalam dia rewel? " tanya Seno sambil membuat kopi.
" Tidak pak bos. Baby Arvin cakep bener. Dia tidur semalam suntuk. Mungkin dia kelelahan karena menangis sorenya. " jawab Lilik.
Seno duduk di meja makan dan meletakkan kopinya di atas meja. " Syukurlah kalau dia tidak rewel. Lik, bisa minta tolong kamu carikan baby sitter buat Arvin? Mungkin ada tetangga atau teman kamu yang butuh pekerjaan. Rencananya aku mau bawa Arvin dan armell untuk tinggal di sini. Aku tidak akan membiarkan armell kembali ke tempat kost nya lagi. Aku khawatir sama dia. " ucap Seno kemudian menyeruput kopinya.
" Iya pak bos. Nanti coba saya telpon teman saya yang di kampung. Kemarin dia sempat minta di carikan pekerjaan. " sahut Lilik.
" Tapi ingat, jangan sembarang orang. Harus yang jujur, sayang sama anak-anak juga. Bisa ngerawat bayi juga. " ucap Seno.
" Pak bos tenang saja. Kalau teman Lilik yang satu ini bisa di percaya. " jawab Lilik pasti.
Seno mengangguk. Dia percaya kalau Lilik yang memilih.
" Oh iya Lik, nanti kalau istriku bertanya, siapa yang menggantikan bajunya, dan yang membersihkan tubuhnya, kamu bilang saja kalau kamu yang melakukan itu. Oke! " pinta Lilik penuh dengan penekanan.
" Lah kok gitu? Emang siapa yang udah gantiin baju Mbak Mell? " tanya Lilik.
" Terus kenapa pak bos tidak bilang kalau pak bos yang gantiin? " tanya Lilik sambil menahan senyumnya.
" Beuh....bisa perang dunia kelima. Niatnya semalam mau bangunin kamu buat gantiin baju dia. Cuma aku mikir ntar malah Arvin ikut ke bangun. Kan repot kalau Arvin bangun. Ya udah deh daripada Armell tidurnya nggak nyaman karena bajunya kotor, ya terpaksa aku sendiri yang gantiin. " ujar Seno sambil kembali menyeruput kopinya.
" Terpaksa, atau emang ngarep nih? " goda Lilik masih sambil menahan tawa.
" Maksud kamu apa??" sahut Seno dengan tatapan tajamnya.
" Pak bos, kalau emang mau lihat tubuh mbak Mell juga boleh kok. Udah halal juga. Jadi pak bos Ndak perlu malu sama Lilik. " jawab Lilik.
" Ah, bodo. Ngomong sama kamu nggak ada selesainya. " ucap Seno dengan muka bersemu pastinya. Lalu ia bangkit dari duduknya dan beranjak meninggalkan dapur.
" Nanti kalau buburnya sudah jadi, bawa ke kamarku. Awas bicara macam-macam. " ancam Seno saat ia sudah berada di dekat pintu penghubung dapur dan ruang tengah.
" Siap pak bos....He...he...he..." jawab Lilik.
Seno segera meninggalkan dapur dan kembali ke kamarnya.
" Hai. " sapanya ke Armell saat ia sudah masuk ke dalam kamar.
Armell menoleh dan tersenyum.
" Mas, pinjam ponsel boleh? " tanya Armell.
" Hm? Boleh. Mau ngapain? " tanya Seno sambil memberikan ponselnya.
" Mau telpon teman kost. Mau nanyain kabar baby Arvin. Kemarin seharian dia aku tinggal. " jawab Armell dengan menahan sakit di bibirnya ketika di buat berbicara.
Seno duduk di depan dekat Armell. Seno terlihat sangat perhatian ke Armell.
" Tidak usah telpon. Baby Arvin ada di sini. " jawab Seno sambil memegang lembut bibir Armell yang terluka. Ia ikut meringis melihat Armell kesakitan saat sedang berbicara.
" Baby Arvin di sini? " tanya Armell sumringah.
Seno mengangguk. " Dia masih tidur. Nanti kalau dia sudah bangun, pasti di bawa Lilik kemari. Kemarin karena aku menghubungi tidak bisa, aku mendatangi tempat kostmu. Aku ketemu sama teman kost mu yang bernama Ikke. Dia bilang kamu tidak ada pulang ke kost, dan Arvin rewel terus semenjak sore. Lalu aku bawa Arvin kesini. " ungkap Seno.
" Ah iya. Kak Ikke pasti bingung nyariin aku. Aku mau kasih kabar ke dia. " ucap Armell.
" Semalam aku sudah mengabarinya. Kamu tidak perlu mengabarinya lagi. Mending kamu diam, jangan banyak bicara dulu. Bibir kamu masih sakit kan? Nanti setelah matahari terbit, akan ada dokter yang kemari. Dia akan memeriksamu. " ujar Seno.
" Nggak perlu. Aku nggak pa-pa. " jawab Armell.
" Yakin nggak pa-pa? Nggak perlu dokter? " tanya Seno menyeringai sambil menyibak rambut Armell. Ia menunjuk pelipis Armell, kemudian pipi, bibir, kemudian ia sedikit menoel pinggang Armell.
" Auuuu....." pekik Armell.
" Kamu bilang tidak apa-apa? Hem? Sakit kan? " goda Seno.
" Ya wajar kalau sakit sedikit habis berantem. " elak Armell.
Cup
Seno mengecup sekilas bibir Armell dan membuat Armell melotot. " Aku bilang jangan banyak bicara. Diam, dan menurut. Kalau tidak, aku akan memberi lebih dari sekedar kecupan. " ucap Seno.
Armell langsung terdiam dan memanyunkan bibirnya. Membuat Seno terkekeh.
Sedangkan di tempat lain, seseorang sedang mengamuk. " Bodoh kalian semua....." teriak orang itu. " Menjaga seorang perempuan saja tidak becus."lanjutnya.
Bugh ..bugh....dia menghajar semua anak buahnya.
" Aaaahhhhh...." teriaknya frustasi sambil mengacak-acak rambutnya. Kemudian ia pergi meninggalkan tempat itu.
***
bersambung