
Armell beserta keluarganya kini sudah sampai di kampus. Karena acara belum di mulai, mereka berfoto-foto dulu. Armell terlihat sangat bahagia. Ia tidak pernah menyangka sebelumnya jika saat ia di wisuda, ia di dampingi oleh seorang suami.
Saat suara MC sudah memanggil para wisudawan dan wisudawati, Armell segera masuk ke barisan untuk di arak masuk ke dalam gedung universitas. Dan untuk keluarganya, mereka masuk ke dalam aula terlebih dahulu.
Mereka yang awalnya berencana hanya Seno dan ibu Armell yang masuk ke dalam aula, kini karena entah apa yang di lakukan oleh tuan Adiguna, semua keluarganya bisa masuk. Nyonya Ruth, ibu dan adik Armell, baby Arvin, Seno, juga tuan Adiguna sendiri. Dan bahkan mereka mendapat tempat paling depan. Di sebelah jajaran direksi universitas.
Setelah Seno mencari tahu, ternyata Adiguna group mempunyai saham di universitas itu. Maklum lah kalau Seno tidak tahu sebelumnya karena ia selama ini memang tidak begitu peduli dengan Adiguna group. Ia mempunyai kehidupan sendiri.
Berbagai ceremonial telah berlangsung. Armell terlihat sangat cantik dan elegan saat rektor universitas menyematkan kalung wisudanya. Wajahnya terlihat sangat berseri.
Tapi beda dengan Seno. Matanya malah justru sibuk menatap tajam beberapa wajah lelaki yang terlihat sedang memandang kagum ke arah istrinya. Pasalnya, sang istri terlihat sangat cantik dan ia lulus dengan predikat cumlaude.
' Sial! Kalau bukan karena acara wisuda ini penting buat bini gue, gue nggak akan biarin dia keluar rumah dengan dandanan seperti itu. Ah... Rasanya ingin gue culik aja. Lihat tuh pandangan cowok-cowok itu. Pengen gue congkel mata mereka. ' gerutu Seno dalam hati sambil tangannya meremas gagang kursi. Sampai-sampai, mengeluarkan bunyi berderit.
Tiba-tiba tangannya di pukul dengan keras oleh papanya. " Mau kamu patahkan kursinya? " bisik papanya.
" Ck! " Seno berdecak karena terkejut.
" Kamu kenapa? " tanya tuan Adiguna.
" El kesal sama acara wisuda ini. El pengen banget bawa Armell keluar secepatnya dari sini. " ucap Seno geram.
" Kenapa? " tanya tuan Adiguna sambil menatap Seno sebentar.
" Liat tuh pa. Menantu papa lagi di tatap sama laki-laki buaya yang ada di sana. " jawab Seno sambil menunjuk beberapa lelaki yang sedang memandang kagum ke Armell.
" Kamu! Dasar posesif. Mereka itu cuma kagum sama istri kamu. Karena istri kamu itu pintar. Kamunya aja yang negatif thinking. Emang kamu tahu, mereka memandang istri kamu karena suka ? " protes tuan Adiguna.
Acara demi acara telah mereka lalui. Kini acara wisuda itu telah usai. Armell segera menemui keluarganya di aula yang besar itu. Semua wisudawan dan wisudawati menghampiri keluarga mereka masing-masing.
" Selamat sayang...." ucap nyonya Ruth sambil merentangkan tangannya untuk memeluk Armell. Beliau bahkan menyingkirkan Seno yang juga ingin memeluk Armell.
" Makasih, mama. " ucap Armell sambil memeluk mama mertuanya, lalu mereka cipika-cipiki.
" Selamat ya nak. " ucap ibu Armell. Mereka berpelukan. Seno tersingkir lagi.
" Selamat mbak Mell.....Pipit seneng banget lihat mbak Mell tadi. Mbak Mell hebat. " ucap Fitria dan juga memeluk Armell.
" Makasih, sayang. " jawab Armell sambil menerima setangkai bunga dari Fitria. Lagi-lagi, Seno tersingkirkan.
Kini ia kembali maju untuk memberi selamat ke istrinya. Tapi tiba-tiba tuan Adiguna menarik lengannya dan menyingkirkan dia. Dan tuan Adiguna datang untuk memeluk Armell.
Sudah genap kekesalan Seno. Ia merasa jadi yang terakhir untuk istrinya. Padahal dia selalu ingin menjadi yang pertama.
Seno merasa dongkol dengan papanya. Karena papanya terlalu lama berbincang memberikan petuah ke istrinya. Dan itu sepertinya sengaja tuan Adiguna lakukan.
" Pa...Lama amat sih! " protes Seno kesal.
" Kamu ini. Papa cuma minta waktu sebentar sama istrimu. " jawab sang papa.
" El kan juga pengen kasih selamat. Dari tadi nggak di kasih kesempatan. " gerutu Seno ngambek.
Mereka yang di sana tersenyum melihat kelakuan mantan polisi itu. Ia terlihat seperti anak kecil yang ngambek karena tidak di belikan mainan oleh orang tuanya.
" Iya deh iya ..Sok atuh.." tuan Adiguna mempersilahkan dengan gaya Sundanya.
Armell maju menghampiri Seno sambil dengan senyuman manisnya. Lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher Seno dan mengecup sekilas bibir Seno.
" Suamiku sekarang tukang ngambek. " ejek Armell.
" Kesal tahu. " ucap Seno.
" Ya udah dong. Jangan ngambek lagi. Kan udah Mell peluk sekarang. Senyum dong mas. Gantengnya hilang kalau cemberut gitu. " ucap Armell sambil menatap wajah Seno.
Seno langsung membalas pelukan istrinya. Mengecup kening juga bibirnya sekilas.
" Selamat baby. Atas keberhasilanmu. " ucap Seno.
" Selamat juga buat kamu mas. Yang udah membuatku jadi seperti ini. Terima kasih banyak. " sahut Armell.
Seno kembali mendekatkan bibirnya ke bibir Armell, tapi segera di cegah oleh tuan Adiguna.
" El....di tempat umum ini. Ramai. Kalau mau ciuman entar aja kalau udah di rumah. " ujar tuan Adiguna.
" Papa.... Ganggu aja. Kayak nggak pernah muda. " protes Seno. Dan Armell langsung tertawa.
" Kak Armeeeeellllll......" seru beberapa mahasiswa yang sepertinya adik kelas Armell saat Armell dan keluarganya sampai di depan pintu keluar. Ada laki-laki juga perempuan.
" Hai ..."
" Selamat ya kak. " mereka menyalami Armell bergantian.
" Makasih. " sahut Armell.
" Kita foto bareng ya kak. " ucap salah satu dari mereka.
Armell menoleh ke arah Seno meminta persetujuan. Dan Seno mengangguk. Ia melepaskan tangannya dari pinggang Armell dan sedikit menjauh dari Armell.
Cekrik....cekrik.... mereka berfoto dengan berbagai gaya.
Beberapa orang mulai menghampiri Armell lagi. Mengucapkan selamat dan mengajaknya berfoto. Dan ini sudah yang ke sekian kalinya. Ada dari adik tingkatnya, ada yang dari teman satu angkatan tapi belum lulus, ada yang dari kakak tingkat, ada yang sesama wisudawan. Mereka bergantian meminta foto.
Dan hal itu membuat Seno sedikit gerah. Akhirnya, di saat-saat terakhir, ia kembali memegang pinggang Armell posesif. Dan tidak mengijinkan istrinya untuk berfoto-foto lagi.
" Wah, PW kamu ganteng banget. Abang kamu ya Mell? Kenalin dong. Siapa tahu jomblo juga kayak aku. " ucap salah satu wisudawati kakak tingkat Armell.
Seno yang mendengar pertanyaan itu, langsung mengecup kepala Armell tanpa menjawab pertanyaan teman istrinya itu. Mungkin bagi Seno itu adalah cara dia untuk menjawab.
Armell sedikit terkejut dengan perlakuan suaminya. Tapi tak urung hal itu membuatnya tersenyum.
" Dia ini suami aku kak. Bukan Abang aku. " jawab Armell sambil menaruh tangannya di dada Seno.
" OOO...." sahut kakak tingkat Armell itu tanpa suara dan dengan wajah yang malu.
" Hai, Mell. " sapa seseorang yang baru saja tiba.
" Hai, Lex. " sapa Armell balik sambil melirik ke arah Seno sekilas. Menilik perubahan raut wajah Seno. Tapi wajah Seno terlihat datar.
" Halo, tuan Seno. " sapa Alex sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat.
Seno menerimanya, " Halo. " jawabnya singkat.
" Selamat ya Mell. "
" Selamat untuk kamu juga. "
" Maaf, tuan Seno, apakah saya boleh berfoto sebentar dengan istri anda? Sebentar saja. Satu kali. " pinta Alex. " Untuk yang terakhir. " tambahnya.
Seno menatap ke arah Armell. Armell tidak menjawab apapun. Ia mengikuti saja keputusan suaminya.
" Boleh. " jawab Seno. " Tapi hanya satu kali. " lanjutnya.
Lalu Alex berfoto berdua dengan Armell.
" Udah, nggak usah lama-lama. " potong Seno.
Armell langsung beranjak mendekati Seno.
" Kita pulang sekarang. Kamu pasti capek. " ucap Seno. Armell mengangguk.
" Lex, kita pamit dulu. " pamit Armell.
Alex mengangguk. Lalu Seno dan Armell segera berlalu menjauhi Alex menuju tempat parkir dimana keluarga sedang menunggu mereka. Dan Alex hanya bisa memandang Armell dari jauh sampai tak terlihat dengan hati yang perih.
Saat hampir tiba di tempat parkir, tiba-tiba Armell merasa aneh. Ia merasakan sakit di perutnya. Tidak seperti biasanya.
" Maas....." panggil Armell dengan suara lemah. Ia berusaha menarik tangan Seno.
Seno yang terkejut dengan suara Armell, langsung melihat ke arah Armell. Armell sudah terlihat sangat pucat. Dan keringat yang bercucuran di pelipisnya.
" Baby, kamu kenapa? " pekik Seno panik sambil meraih tubuh Armell.
" Perutku sakit sekali mas " ucap Armell sambil merintih.
Armell semakin tidak mampu menopang tubuhnya. Seno langsung menggendong tubuh Armell dan segera ia bawa berlari menuju mobilnya terparkir.
***
bersambung