
" Mas....." panggil Armell ke suaminya. " Mas...." panggilan kedua, Seno masih belum datang. ," Mas....." panggilan ketiga, Seno masih belum kelihatan. " Kemana kamu mas? " ucap Armell lirih sambil menahan gejolak di perutnya.
Karena Seno tidak ada masuk ke kamar, dan Armell sudah tidak tahan ingin mengeluarkan isi perutnya, akhirnya Armell turun dari ranjang sendiri dan berjalan ke kamar mandi.
" Hoooeeekk.......hooekk...." Armell memuntahkan isi perutnya di toilet kamar mandi. Semua yang ia makan kemarin, keluar semua. Ketika ia merasa mualnya hilang dan hendak kembali ke kamar tidur, gejolak itu datang lagi sampai beberapa kali. Hingga yang di keluarkan adalah cairan kuning.
Badan Armell benar-benar terasa lemas sekarang. Bahkan untuk menekan tombol air untuk membersihkan bekas muntahannya yang terakhir saja ia tidak mampu. Akhirnya Armell mendudukkan tubuhnya di dekat toilet, dengan bersandar pada bathtub. Ia tidak mampu bergerak. Di pejamkanlah matanya. Mungkin setelah tidur beberapa saat, tenaganya akan kembali lagi sehingga ia bisa berjalan ke kamar tidur.
Ceklek
Bunyi pintu kamar di buka dari luar.
" Baby, sarapan dulu. " ujar Seno sambil menutup kembali pintu kamar. Ia membawa nampan yang berisi makanan dan segelas susu hamil.
Seno berjalan menuju ke tempat tidur. Dan ia langsung panik karena tidak menemukan istrinya di sana. Padahal saat ia keluar kamar tadi istrinya masih tertidur.
" Baby, di mana kamu. " teriak Seno mencari Armell.
Di dalam kamar mandi, Armell mendengar suara suaminya yang sedang memanggilnya. Ingin rasanya ia menyahuti panggilan suaminya. Tapi ia sungguh tak bertenaga sekarang.
" Mas...." panggilnya lirih. Bahkan seperti suara semut berjalan.
" Baby....." panggil Seno lagi. Kini suara itu terdengar dekat dari kamar mandi. Dan akhirnya Seno melongok ke kamar mandi dan mendapati istrinya sedang duduk bersandar di badan bathtub.
" Ya Tuhan...Baby..." pekiknya. " Kamu kenapa? " tanyanya panik. Ia segera menghampiri suaminya. Lalu di angkatnya tubuh lemah istrinya. Ia bawa kembali ke kamar tidur. Perlahan ia merebahkan tubuh lemah Armell di atas tempat tidur.
Seno lalu mengambil beberapa lembar tisu untuk mengelap kening dan wajah Armell yang berkeringat.
" Baby, kamu kenapa? " tanya Seno dengan wajah khawatirnya.
" Mas, badanku rasanya lemas sekali. " ujar Armell dengan suara lirih. " Mas, tolong siram bekas muntahanku di toilet. Aku nggak punya tenaga buat bersihin. " lanjutnya.
" Kamu muntah? " tanya Seno semakin panik. Armell mengangguk pelan. Seno lalu berdiri dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan bekas muntahan istrinya.
Tak lama, ia kembali ke sisi istrinya. " Kita ke rumah sakit ya. " ajak Seno masih dengan wajah kepanikannya.
Armell menggeleng.
" Tapi kamu muntah-muntah, terus badan kamu lemes kayak gini. " tambah Seno.
Armell kembali menggeleng, " Aku nggak pa-pa. Ini hanya bawaan kehamilan aja. " sahut Armell. " Ke rumah sakit juga percuma. " tambahnya.
Karena tidak percaya dengan omongan istrinya, Seno mengambil ponselnya yang ada di atas nakas, lalu ia menghubungi Bryan. Dalam dering kedua, Bryan menerima panggilannya.
" Bry, bini gue muntah-muntah terus badannya jadi lemes. " ceritanya dengan nada suara panik.
" Oh. " hanya itu yang keluar dari mulut Bryan.
" Kok oh sih? Bini gue sakit ini. " pekik Seno.
" Terus gue harus ngapain? "
" Ya apa kek. Kasih obat, atau gue bawa ke rumah sakit aja lagi? " omel Seno.
" Bini Lo itu lagi ngalamin yang namanya morning sickness. Emang gitu kebanyakan orang yang lagi hamil. Lo bawa ke rumah sakit juga percuma. Nggak ada obatnya juga. " jawab Bryan.
" Sok tahu banget Lo. Kayak pernah punya bini hamil. " ledek Seno.
" Sorry, lupa gue. Terus sekarang gue musti ngapain? " tanya Seno.
" Lo nggak usah panik. Entar siangan juga bakalan balik kayak biasanya bini Lo. Biarin dia istirahat aja dulu. Vitamin nya jangan lupa tetep di minum. Entar gue mintain obat ke dokter Ratna buat bini Lo, biar muntahnya ngggak terlalu. " jelas Bryan.
" Ya udah, makasih. " Klik. Panggilan di akhiri sepihak oleh Seno tentu saja.
Ia kembali menghadap istrinya. " Bener kan kayak gini tuh biasa? " tanya Armell.
Seno mengangguk. " Tapi kamu isi perut kamu dulu. Aku suapin. "
Armell menggeleng. " Perutnya masih nggak enak rasanya. Entar muntah lagi. " tolak Armell.
" Tapi perut kamu kosong, baby. Kalau kamu nggak makan, kamu bakalan lemes terus kayak gini. " tukas Seno.
Armell masih tetap menggeleng. Karena perutnya masih di aduk-aduk rasanya. " Entar aja makannya. "
Seno kembali mengembalikan piring yang berisi nasi ke atas meja. Lalu mengambil gelas yang berisi susu.
" Minum susu aja dulu kalau gitu. " suruh Seno. Dan Armell tidak bisa menolaknya lagi. Seno mengarahkan sedotan ke mulut Armell yang sedang rebahan.
Baru beberapa sedotan, Armell melepas sedotan itu. Ia duduk dengan tergesa-gesa. Perutnya semakin di aduk-aduk.
" Mas, pengen muntah lagi. " ucapnya sambil mencoba turun dari tempat tidur dengan susah payah karena badannya masih terasa lemas.
Seno langsung mengangkat tubuh Armell dan di bawanya masuk ke kamar mandi. Lalu ia membuka penutup toilet. Dan Armell kembali mengeluarkan apa saja yang masih tersisa di perutnya. Seno memijat tengkuknya.
Saat perutnya sudah benar-benar kosong, Armell menegakkan tubuhnya tapi ia limbung. Untung saja Seno berada di belakangnya. Lalu Seno segera memencet tombol air untuk membersihkan toilet., mengambil sedikit air di tangannya untuk membersihkan pinggir bibir istrinya. Lalu menggendong kembali tubuh Armell dan di bawanya ke kamar.
" Mas, pengen tidur. " ucap Armell lirih ketika tubuhnya sudah kembali berada di atas tempat tidur.
" Tidurlah. Kita makan nanti saat perut kamu sudah baik-baik saja. " sahut Seno.
" Mas...." panggil Seno sambil mencekal tangan Seno yang hendak membawa nampan yang berisi makanan itu kembali ke dapur.
Seno menoleh, " Kenapa? Hem? " tanyanya sambil membelai rambut Armell.
" Pengen di peluk. " ucap Armell.
Seno tersenyum. " Masih bisa manja ya. " ujar Seno. " Sebentar. " Ia membuka pintu dengan membawa nampan tadi. Pas di depan kamar, Siti lewat.
" Siti, tolong bawa nampan ini ke dapur. " ucapnya.
Siti mendekat, lalu mengambil nampan itu. " Loh, pak bos. Kok makanan Bu bos masih utuh? " tanyanya.
" Iya, belum di makan. Dia muntah-muntah terus. Bawa ke dapur aja dulu. Nanti kalau dia udah baikan, biar aku ambilkan lagi. " ujar Seno lalu ia kembali ke dalam kamar.
Seno naik ke atas ranjang dan ikut rebahan di sisi Armell. Lalu ia menelusupkan tangan kirinya di bawah kepala Armell. Lalu ia memeluk tubuh Armell. Armell tersenyum tipis, lalu menaruh tangannya di atas pinggang suaminya.
" Tidurlah. " ujar Seno sambil mengecup kening Armell. Lalu Armell mulai memejamkan matanya.
***
bersambung