
Hari yang di tunggu-tunggu Armell tiba. Hari ini ia akan di wisuda. Senangnya Armell karena ia akan segera mendapatkan gelar sarjananya. Gelar yang sangat ia idam-idamkan.
Pagi buta Armell sudah bangun karena sang ibu mertua yang malamnya menginap di rumah Seno, membangunkannya.
Tok....tok...tok....
" Sayang.....Sayang....." tok...tok...tok...." Sayang, banguuunnn....." suara sang mama.
" Ck! " Seno berdecak karena tidurnya terganggu oleh suara mamanya. Ia melihat jam dinding. Jam 4.
" Mama ngapain sih jam segini udah ribut banget. " gerutunya. Tapi tak urung, ia memindahkan tanga istrinya yang berada di atas dadanya. Lalu ia bangun dan membuka pintu.
" Kenapa sih ma? Jam segini udah bikin onar? " tanya Seno setelah ia membuka pintu. Ia mengucek matanya yang masih terasa pedas.
" Bikin onar...Bikin onar...Mana anak perempuan mama? " tanya mamanya.
" Masih tidur mama. " Seno memberitahu.
" Kok masih tidur... Jangan-jangan tadi malam kamu ajak gelut ya..." curiga mamanya. " Mama kan udah bilang semalam. Anak perempuan mama jangan di apa-apain malam ini. Entar dia kecapekan, kurang tidur. " lanjutnya.
" Mama suudzon aja bawaannya. El nggak ngapa-ngapain. Semalaem kita langsung tidur. " sahut Seno tidak terima.
" Ya udah, Cepetan kamu bangunin. MUA yang mama undang, bentar lagi nyampe sini. Kita harus segera bersiap-siap. Jangan sampai nanti kita sampai di tempat wisuda terlambat. " titah sang mama.
" Iya. " jawab Seno yang lalu membalikkan badannya. Sang mama juga sudah turun ke lantai satu.
" Baby....baby ..." Seno membangunkan Armell dengan mengelus pipi Armell. Tapi yang di bangunkan malah hanya menggeliat.
Cup..cup.... cup...
Seno membangunkan Armell lagi dengan mengecup seluruh wajahnya. Ia tersenyum setelahnya.
" Apaan sih mas??? Masih ngantuk ini. Malam-malam nggak usah macem-macem. Kalau mau ngajakin berkegiatan besok aja. Mell masih ngantuk sekarang. Jadi nggak bisa menikmati nanti. " ujar Armell masih dengan mata tertutup dan malah berpindah posisi memeluk guling.
Seno terkekeh mendengar jawaban istrinya. " Baby, ayo bangun....Aku udah pengen banget ini...Atau kamu tidur aja, tanganku yang kerja nih? " goda Seno sambil menelusupkan tangannya ke dalam baju Armell.
Armell segera menepisnya, " Mass...Ah.... Tangannya di kondisikan. " protes Armell masih dengan mata tertutup.
" Makanya bangun, biar tanganku nggak kemana-mana. " ujar Seno.
Armell menelentangkan tubuhnya dan membuka matanya perlahan.
" Jam berapa sih ini mas? Mas kok udah bangun? " tanya Armell setengah sadar.
" Jam 4 baby. Bangun. Mama bilang, MUA yang mau dandanin kamu udah mau nyampe sini. " ujar Seno memberitahu.
" Ha? " Armell langsung terduduk. " Kok nggak bilang dari tadi. Mell kan belum mandi. " ujarnya sambil buru-buru turun dari tempat tidur. Karena selimut masih melilit di tubuhnya, hampir saja ia terjatuh. Untung saja, Seno cekatan dan segera menangkapnya.
" Hati-hati baby. Nggak usah buru-buru. MUA baru mau nyampe sini. Belum nyampe. " ucap Seno.
" Iya. He...he...he..." jawab Armell cengengesan. Lalu ia melepas selimut dari tubuhnya dan berjalan ke kamar mandi.
Kegiatan mandi yang sangat singkat yang di lakukan Armell. Ia menyelesaikan kegiatan mandinya hanya beberapa menit saja. Ia keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan bathrope.
Saat ia keluar dari dalam kamar mandi, ia melihat suaminya tertidur kembali dengan posisi menelungkup.
" Lah, kok tidur lagi. " gumam Armell.
Lalu ia berjalan mendekati suaminya. " Mas..." Armell membangunkan Seno sambil menggoyang-goyangkan tubuh Seno.
" Hmmm....."
" Kok mas malah tidur lagi? " tanya Armell.
" Masih ngantuk. " jawab Seno sambil memejamkan matanya.
" kok? Katanya MUA nya udah mau sampai sini? " ujar Armell.
" Kan aku nggak di dandani beb...Yang dandan kan kamu. " jawab Seno dengan suara seraknya.
Armell menepuk jidatnya, " Oh iya, Mell lupa. He...he...Ya udah, mas tidur lagi aja. Tapi sebentar, jangan lama-lama. " kemudian Armell menepuk-nepuk pantat suaminya seperti ketika ia hendak menidurkan baby Arvin.
Oh iya, baby Arvin juga ada di rumah itu lho. Kemarin sebelum Robert datang ke rumah keluarga Abraham, Armell dan Seno menjemputnya. Armell ingin ketika ia di wisuda, baby Arvin juga ada di sana.
Armell lalu keluar dari dalam kamar. Ternyata MUAnya sudah sampai. Karena Armell harus sarapan dulu, maka nyonya Ruth meminta besannya supaya di dandani dulu. Ia menemani menantu kesayangannya untuk sarapan.
Waktu terus berjalan. Armell kini telah usai di dandani.
" Wah, si eneng gelis pisan euy. Eke jadi ngiri deh. Babang El mah pinter banget milih istri. Pantesan dia nggak mau sama ekke..." ujar si penata rias yang setengah-setengah itu. Laki nggak, perempuan juga nggak.
" Mas eh mbak bisa aja. " sahut Armell. Wajah udah selesai di dandani, rambut juga udah di sanggul rapi. Sudah beres deh tugas si mbak jadi-jadian itu.
" Kamu cepetan ganti baju dulu. Gantian mama yang dandan. Mama nggak mau kalah sama mantu mama. Jen, bikin tante jadi cantik juga. " titahnya ke mbak jadi-jadian.
" Siap nyonya..." jawab si mbak tadi.
Armell lalu berlalu dan pergi ke kamarnya. Sampai di kamar ternyata sang suami sudah tidak ada di tempat tidur. Suara air bergemericik datang dari dalam kamar mandi. Ternyata Seno sedang mandi.
Armell segera mengambil setelan kebaya yang kemarin lalu di belikan oleh sang mama mertua. Armell melepas bathrope nya dan memakai kebaya itu. Selang beberapa saat, pintu kamar mandi di buka.
Ceklek
" Udah selesai di dandaninya beb? " tanya Seno saat melihat Armell sedang memakai kebaya atasannya dan membelakanginya.
Armell memegang dadanya karena terkejut. " Astaghfirullah...Kamu mas ngagetin aja. " serunya sambil berbalik badan.
Seno terkejut melihat perubahan Armell. Istrinya itu terlihat sangat cantik. Tanpa make up aja sudah cantik, putih. Apalagi setelah di make up kayak gini. Ia berjalan mendekati Armell sambil dengan pandangan mata terpana.
" Cantik banget kamu baby. " serunya sambil menarik pinggang Armell dengan kedua tangannya.
" Masak? Emang biasanya nggak cantik ya? " tanya Armell sambil tersenyum menggoda.
" Cantik. Kamu selalu cantik tiap hari. Tapi hari ini kamu spesial. Makin cantik. " puji Seno. Ia semakin mengeratkan pelukannya hingga tubuhnya yang bertelanjang dada menempel ke tubuh Armell.
Ia mencondongkan tubuhnya hendak mencium Armell. Tapi Armell segera mengangkat tangannya dan mendorong bibir Seno.
" Nggak usah macem-macem mas. Nanti make up ku luntur. " tolak Armell.
" Tapi aku pengen nyium kamu baby. Udah nggak tahan. " ujar Seno sambil kembali mendekatkan bibirnya ke bibir Armell.
Armell kembali menahan bibir Seno. " Mas ah! " protesnya. " Nanti lipstiknya berantakan. Dandanannya juga berantakan. "
" Tinggal di betulin lagi beb. Penata riasnya juga masih di sini ini. " kekeh Seno.
" Nggak! Malu. Pasti nanti di goda sama mama kamu. " tolak Armell.
" Dikit doang beb. " rengek Seno.
" Ngggak! Mending mas bantuin Mell benerin resletingnya nih. " Armell melepas tangan Seno yang melingkar di pinggangnya kemudian balik badan.
" Ck! " Seno berdecak kesal. Tapi ia tetap membantu Armell menaikkan resleting kebayanya.
" Makasih..." dan cup....Armell memberikan kecupan singkat di bibir Seno. " Udah jangan cemberut aja. " ledek Armell.
Seno tersenyum tipis tapi sambil ia tahan. " Cuman gitu doang. " protesnya.
" Tadi katanya dikit doang beb..." Armell menirukan nada suara suaminya.
Dan cup
Seno berhasil mengecup bibir Armell dan membuat Armell memelototkan matanya karena terkejut. Tapi Seno langsung terkekeh dan meninggalkan Armell masuk ke dalam ruang bajunya untuk mengambil pakaiannya.
" Dasar. " gumam Armell sambil tersenyum. Ia kembali merapikan pakaiannya. Lalu memakai toga.
Beberapa saat kemudian, Seno keluar dari kamar bajunya sudah rapi memakai kemeja dan celananya. Sambil menenteng dasi dan jasnya.
" Sini, Mell bantu pakai dasinya. " ujar Armell sambil mengambil alih dasi Seno dari tangan Seno.
" Emang kamu bisa? " goda Seno.
" Eits...Jangan salah. Apa sih yang nggak bisa Mell lakuin. Mell bela-belain loh ini belajar dari YouTube cara memakai dasi gitu. Beberapa hari. Gara-gara suami Mell sekarang kerjanya jadi direktur. Jadi Mell, sebagai istri seorang direktur, harus bisa memakaikan dasi suami. Dan sekarang, saatnya Mell praktek langsung. " Ucap Armell sambil memasang dasi suaminya.
Seno tersenyum sambil kembali menarik istrinya dalam dekapannya.
" Udah, nggak usah aneh-aneh. " protes Armell masih sambil sibuk memasang dasi.
" Nggak aneh-aneh. Cuma pengen peluk istriku. Biar kayak di film-film. Istrinya memasang dasi, dan sang suami memeluk pinggangnya. Romantis kan? " sahut Seno.
" Udah beres. " celetuk Armell. " Gimana mas? Untuk pemula dapet nilai berapa? " tanyanya.
Seno melepas dekapannya dan berjalan menuju ke depan cermin. Melihat karya istrinya.
" Bagus. Lumayan banget buat pemula baby. Aku kasih nilai 90. Cuma kurang rapi dikit. " ujar Seno sambil merapikan dasinya.
Armell tersenyum dan mengambil jas Seno. " Nih, pakai jasnya. " ujar Armell sambil merentangkan jas Seno.
Seno memasukkan kedua tangannya ke lengan jas. Lalu berputar menghadap Armell. Armell merapikan jas dan lengan kemeja Seno.
" Duh, suami siapa sih ini kok ganteng banget. " puji Armell.
" Suami dari calon wisudawati yang bernama Armell Lusinda Umma . " jawabnya sambil tersenyum.
Lalu mereka berdua sama-sama terkekeh.
***
bersambung