
Nana langsung masuk kamarnya setelah mandi besar. Nana buru-buru menunaikan solat dan berdoa memohon ampun dengan berurai air mata, tak lupa Nana juga sudah mengunci pintu kamarnya. Nana mendekap tubuhnya erat-erat sambil terduduk bersandar ke lemari plastiknya.
Masih teringat jelas di pikirannya bagaimana Aji dulu merayunya hingga bisa berhubungan intim dan lahir Alif. Bagaimana bisa ia melakukannya lagi dengan Arif yang notabene seorang ustadz. Nana merasa benar-benar bersalah sudah kehilangan kendali begini.
"Astaghfirullah... Astaghfirullah... Astaghfirullah... " Nana mengucap istighfar berkali-kali.
Nana terduduk bersandar di lemari plastik sambil memeluk lutut dan menyembunyikan tangisnya. Antara kesal, sedih, menyesal, kecewa bercampur jadi satu. Nana kalut, bingung bagaimana sekarang. Ia sudah mengulang kesalahan yang sama.
Tubuhnya terlalu rindu, bahkan sampai membutakan pikirannya buntu. Membuatnya kalap dan membiarkan hasratnya menggebu-gebu sampai lupa diri, lupa daratan sekali lagi. Bila dulu Aji membayarnya sekolah, bimbel, makan, buku, bahkan beberapa hal-hal keinginannya. Kini Arif yang hanya menjanjikannya menikah dan tak pernah memberikan apapun sudah membuatnya kalap.
"...sejak kapan aku jadi murah begini... " kesal Nana sambil memukul-mukuli kepalanya sendiri dengan frustasi.
Nana terlalu berhasrat dan kesepian, Nana terlalu kehausan sampai rasanya ia rela menenggak racun sekalipun agar dahaganya hilang tanpa peduli apa konsekuensinya.
"Mama... Mama... " panggil Alif sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Nana. "Mama sudah makan belum? " tanya Alif dari luar kamar.
"Bentar dek, baru pakek baju mau solat..." dusta Nana yang tengah meratapi perbuatannya tadi.
●●●
Arif langsung bergegas pulang kembali ke tempat pengabdiannya, Arif buru-buru mengambil peralatan mandinya untuk mandi besar. Masih teringat di kepalanya dengan jelas betapa nikmat tubuh Nana. Wajahnya, bibirnya yang mengkilap karena liurnya dan jadi kemerahan karena telah di cumbu, tatapan takut-takut sayunya, lehernya yang mulus dan jenjang, kedua buah dadanya yang padat berisi, tidak tepos tidak juga terlalu besar. Bahkan lubang surgawinya yang sudah pernah mengeluarkan bayi juga terasa begitu rapat dan ahh... Sulit di gambarkan.
Arif menyadari apa yang ia lakukan tadi. Bohong kalau ia khilaf, toh ia dengan sadar mencumbu wanita kesepian itu. Ia juga yang dengan sadar mengajaknya pergi, jangan lupa ia juga yang mengajaknya ke penginapan. Rencana awal memang hanya makan, traktiran makan. Awalnya ikhlas, tapi kalau bisa di meminta feedback kenapa tidak sekalian.
Ah hasutan setan sudah menghanyutkannya. Bahkan saat Nana tengah di rundung penyesalan akan perbuatan tadi, Arif malah teringat dan jadi mau lagi. Ayolah jangan naif, Imam besar saja sampai kabur karena chat musem... Apalagi Arif dan Nana yang masih muda. Apa yang kalian harapkan pada getaran jiwa perempuan muda umur 21 tahun seperti Nana ? Apa yang kalian harapkan kontrol diri kuat dari pria muda 23 tahun seperti Arif?
"Aku salah... Aku yang salah... " lirih Arif sambil mengocok pen!5nya.
Ia menyesal, sedih, kecewa, perasaannya sama kalutnya dengan Nana tapi sungguh nafsunyapun tetap tinggi.
"Emfffhhhh.... " kembali muntah cairan itu. Tertembak bukan di dalam Nana lagi.
"Aku tanggung jawab... " lirih Arif lagi sebelum melanjutkan mandi besarnya. "...nawaitu ghusla liraf'il hadatsil akbar...." Arif kembali mengulang niatnya.
●●●
"...maaf Na aku lancang sudah menidurimu tadi, ku pastikan kita benar-benar menikah, aku janji wallahi... " bunyi pesan Arif pada Nana setelah kejadian tadi.
"Ma... Besok Lila ulang taun, dia bilang aku harus datang kasih kado... " ucap Alif pada Nana sambil menunjukkan undangan ulang tahun yang sudah kucel bentuknya.
Nana masih memandang pesan yang di kirim Arif dengan lesu tertunduk. Alif yang melihat mamanya sedih mendekat dan memeluknya dari samping. Tapi Nana segera mengedikkan bahunya menolak pelukan Alif.
"Besok kita cari kado, sekarang adek bobo... " ucap Nana sedikit ketus.
"Baca cerita... " pinta Alif.
"Mama capek! Jangan tambah capek! " bentak Nana yang benar-benar membuat Alif sedih dan merasa bersalah.
Alif langsung memunggungi Nana, sambil menangis dalam diam. Tentu saja Nana tau Alif sedih dan tengah menangis, tapi Nana memilih diam mengabaikannya. Nana benar-benar di luar kendali belakangan ini.