My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
Part 65



"Mama mana? " tanya Aji berbarengan dengan Broto yang akhirnya sampai di rumah sakit.


Alice hanya diam lalu melirik pintu di sampingnya. "Di dal... " PLAK!!! Broto menampar pipi Alice cukup kencang hingga Alice tersungkur di lantai tanpa sempat menyelesaikan ucapannya.


"Anak nakal! " sinis Broto lalu melihat kondisi istrinya dari kaca pintu. "Urus adekmu ini, bawa pulang! " perintah Broto pada Aji.


Alice yang jatuh tersungkur hanya bisa menahan tangis sambil menggeleng pelan, menolak perintah papanya yang begitu keras. "Jangan! " ucap Alice sambil memegangi kaki Broto. "Papa jangan ketemu mamaku, gausah! " Alice berusaha menahan.


Broto terdiam menatap putri kesayangannya yang berubah jadi begitu membangkang.


"Papa suka pukul mama, kasar, tempramen, papa sama eyang ga pernah baik ke mama. Mamaku cuma di jadikan layaknya pembantu, bahkan pembantu hidup lebih layak dari pada mama. Setiap anak-anak membangkang mama di pukul, di cambuk, di maki, di marahi. Mamaku bukan samsak hidup. Papa sama eyang ga pernah memper lakukan mama, kakakku, aku layaknya manusia. Kita cuma di jadikan boneka, di jadikan jaminan, menikah demi masa depan yang lebih baik? Rasanya kakak-kakakku cuma menikah untuk jaminan kelancaran apapun itu ambisimu. Mama ga layak buat papa... " ucap Alice sambil menatap Broto dengan tajam, meskipun air matanya berurai.


Broto menatap Alice dengan penuh amarah, tangannya siap menampar Alice lagi kalau saja Aji tak segera menahannya. "Alice benar... Buat apa papa perlu mama? Buat apa mama perlu pulang kalau cuma mau di siksa! " ucap Aji yang langsung pasang badan menutupi pintu masuk sekaligus melindungi Alice yang bersembunyi di belakangnya.


"Jadi sekarang semua pembangkang ya?! " kesal Broto sambil berusaha menahan emosi saat melihat seorang suster lewat.


Ketiganya diam menunggu sampai suster itu menjauh. "Aku itu berharap waktu pergi sama mama, papa bisa sadar kalo mama penting, aku mau papa ngerti seberapa berharganya mama. Biar eyang juga bisa menghargai mama. Biar mama bahagia, seneng bisa berlibur dari hukuman seumur hidup buat nikah sama orang kayak papa, ngurus tua bangka kayak eyang! " ucap Alice yang langsung membuka pembicaraan.


"Kamu ini masih anak-anak! Paham apa kamu soal urusan orang-orang tua?! " ucap Broto tak terima dengan ucapan Alice.


"Alice..." suara lembut Siwi terdengar. "Mas jangan pukul Alice, jangan pukul anak-anak... Aku saja... " ucap Siwi dengan suara yang lemas sambil memegangi tiang infusnya.


"Dek..." Broto berkaca-kaca melihat istrinya yang penuh luka.


"Alice minta mama papa cerai salah nak... " ucap Siwi. "Mama nikah itu karena ibadah... Tapi apa yang di lakukan papa juga ga benar. Anak-anak perlu kita dengarkan juga mas... " lerai Siwi lalu berjalan masuk di dampingi Aji dan Alice yang langsung mengabaikan Broto begitu saja.


●●●


"Aku kayak nabi Isa ya, cuma punya mama... " ucap Alif pelan mengomentari cerita yang di bacakan Nana.


Nana hanya tersenyum mendengar komentar Alif. "Adek kan punya bapak... " ucap Nana.


"Tapi kata orang-orang bapak bukan papaku, harusnya kan mama sama papa bukan bapak. Kalo bapak sama ibu gitu sebutnya kata temanku... " jelas Alif lalu membenarkan selimutnya.


Nana menghela nafas mendengar ucapan anaknya yang kian hari kian kritis dalam memberikan pertanyaan. Ingin rasanya ia memberi tahu kalau Aji yang di panggil om-om aneh tiap hari oleh Alif adalah papanya.


Tapi Nana tak mau kalau niatnya mengenalkan Alif pada Aji hanya akan menimbulkan masalah baru untuknya. "Adek... Kalo mama menikah boleh tidak? " tanya Nana.