
"Bapak, nanapa aku terus di marahin? " tanya Alif yang sudah rapi dan selesai sarapan sambil menemani pak Janto menjahit.
"Siapa yang marahin? " tanya pak Janto menanggapi.
"Ustadz, mama, orang-orang... Nanapa tidak sayang aku? Padahal aku baik, aku bisa baca pelan-pelan... " ucap Alif sedih lalu berdiri di samping pak Janto dan memeluknya.
Pak Janto hanya menghela nafas, bingung menjelaskan bagaimana pada Alif yang sebenarnya tidak ada salah apapun ini. Mungkin Alif memang tidak di inginkan, tapi Nana sendiri yang memutuskan waktu itu. Nana juga masih begitu muda sebenarnya untuk sebuah tanggung jawab besar. Terlalu muda juga untuk memutuskan menikah.
"Bapak tidak tau kenapa orang-orang marahin adek, tapi kan bapak tidak. Bapak sayang adek... " jawab pak Janto lalu memangku Alif.
"Om aneh itu juga gitu sayang aku, sebenarnya dia baik. Tapi mama tidak suka... " ucap Alif yang di pangku dengan sedih. "Nanapa mama tidak suka? " tanya Alif.
"Soalnya om aneh itu pernah bikin salah sama mama, salah yang besar sekali... Sama bapak juga... Sama ayah sama ibu (om Bram dan tante Yuni) juga... " jelas pak Janto sehalus mungkin.
"Kan bisa minta maaf... " ucap Alif. "Kata mama kalo salah harus minta maaf, kata ustadz juga kita tidak boleh marah lama-lama nanti Allah tidak suka... Kalo tidak suka kita doa tidak di dengerin... " sambung Alif.
"Alif... Alif... Ayo main... " panggil Doni sambil membawa mobil-mobilan dari kayu yang baru di belikan ibunya.
"Wah mainanmu baru ya? Nanti aku pinjam ya... " ucap Alif senang lalu turun dari pangkuan pak Janto.
"Iya! Ayo main di rumahku! " ajak Doni semangat.
Alif langsung berlari masuk ke dapur mencari mamanya. "Mama aku main ke rumah Doni... " ucap Alif lalu berlari ke depan dan pergi bersama Doni dengan semangat.
Pak Janto hanya tersenyum melihat Alif yang ceria dan punya teman baik seperti Doni. Kali ini pak Janto merasa sedikit malu dengan Alif yang ternyata mendengarkan semua nasehat baik, sampai bisa membantah dengan dalil kata ustadz bagini. Memang seharusnya ia tak menghalangi Aji untuk kembali bertanggung jawab atas Nana dan Alif. Tapi mengingat kesalahan Aji dulu dan keinginan Nana untuk menikahi Arif apa boleh buat.
●●●
"Aku mau ketemu Alif lah... Biasanya kan dia main... " jawab Aji.
"Gak kerja? Gak cek gudang gitu? " tanya Alice lagi.
"Enggak males ngecek terus gunanya bayar orang buat apa... Dah aku mau pergi dulu... " jawab Aji lalu buru-buru pergi.
Aji langsung tancap gas menuju masjid tempatnya biasa menunggu Alif lewat. Kali ini ia sengaja membeli beberapa cemilan dan ayam goreng tepung. Siapa tau Alif mau makan dengannya.
Aji duduk di emperan masjid menunggu Alif lewat, kali ini terasa lebih lama dari biasanya. Sampai akhirnya Alif benar-benar lewat. Tak seperti kemarin saat Alif nyungsep di got. Kali ini Alif tampak lebih ceria.
"Hai om... " sapa Alif sambil melambaikan tangan lalu terus berjalan pulang.
Aji hanya melongo melihat kali pertama Alif menyapanya dengan santai. Ha?! Alif nyapa aku?! Batin Aji tak percaya.
Alif terus melangkahkan kaki kecilnya pulang ke rumah. Tanpa menghiraukan Aji lagi. Sementara Aji rasanya sudah kehilangan momen baiknya.
.
.
.
like, komen, vote ya guys ♥