
Usai Nana mengurus Alif hingga ia terlelap, Nana baru pergi kencan sebentar bersama Arif yang sudah menunggunya di luar sembari mengobrol dengan pak Janto dari tadi.
"Ayo... " ajak Nana setelah menyiapkan susu untuk Alif dan berpamitan pada bapaknya.
Usai Arif ikut berpamitan, Arif langsung membawa Nana pergi. Tak jauh hanya warung mie ayam dekat pasar, dimana Nana dan Alif dulu pernah di paksa Aji masuk.
Keduanya hanya diam, menunggu pesanannya datang. Duduk berhadapan tak berani membuka pembicaraan dengan pandangan yang sama-sama menunduk tanpa saling menatap.
"Na.. " , "Mas... " ucap keduanya bersamaan membuka pembicaraan.
Keduanya terdiam, senyum terulas di keduanya.
"Soal Alif... " ucap Nana sebelum Arif menyampaikan apa yang ingin ia ucapkan sebelumnya.
"Iya? " Arif bersiap mendengarkan.
"Aku bingung akhir-akhir ini... Maksudku aku suka akhirnya ada orang yang mau bertanggung jawab atas hidupku dan anakku juga... Tapi Mas, Alif itu bukan anak kandungmu, bukan kamu juga yang menghamiliku hingga dia ada... " ucap Nana gugup.
"Na, kita sudah bicarakan ini... Aku ga masalah... Demi Allah aku ga masalah... " ucap Arif meyakinkan Nana.
"Bukan gitu Mas, aku khawatir kalo kedepannya Alif nakal, ga baik, ato ya... Kita tau kan ga ada sesuatu yang benar-benar mulus... "
Nana hanya diam, hingga seluruh pesanan tersaji. Nana masih saja bergelut dengan pikirannya. Tak pernah ada jaminan pasti yang ia terima dari Aji, tak pernah ada kepastian jelas dalam hitam diatas putih. Hanya janji dalam desah di atas ranjang yang semuanya hilang begitu saja saat Aji puas mengencinginya.
"Maaf... Tapi aku hanya menyampaikan apa yang ku khawatirkan soal kamu sama Alif..." ucap Arif lembut berusaha mencairkan suasana.
Nana menatap Arif cukup lama, lalu tersenyum dan mengangguk. "Tidak apa-apa Mas, hanya saja aku ini barang bekas. Aku bukan janda tapi aku punya anak. Kamu berhak dapat wanita solehah yang masih perawan, suci, tak ternodai. Kamu berhak mengasuh anak yang memang kamu yang bikin. Toh di anjurkannya mengasihi janda terlantar, aku bukan janda sudah tak gadis pula..."
"Na... Bagiku kamu sempurna, apapun kamu bagaimanapun kamu. Selama kamu lakukan pertaubatan bagiku semua sudah tak masalah lagi. Tidak ada manusia yang ga luput dari dosa, kesalahan, khilaf... Gapapa Na, selama kamu sadar itu salah dan kamu ga ngulangin lagi itu sudah cukup... Kita tidak tinggal di tempat dengan hukuman rajam atau hukum-hukum Islam lainnya. Hanya taubatan nasuha yang bisa di amalkan yasudah sudah cukup. Berhentilah menghakimi dirimu sendiri... " ucap Arif panjang lebar berusaha meyakinkan Nana sekaligus menyemangatinya.
Nana tersenyum canggung. Kekhawatiran akan Alif bila ia memiliki pasangan baru membuat Nana terus saja ragu. Pertimbangannya makin banyak. Kalau dulu ia hanya berharap asal mau menikahinya agar ada nama ayah di akta kelahiran Alif, sekarang berubah. Bila dulu ia berharap asal mau menerima kondisinya juga Alif sudah cukup sekarang berubah. Mungkin Arif bisa menyayanginya, menerima Alif juga mungkin Arif juga bisa lebih baik dari Aji.
Tapi tak ada jaminan kalau Arif akan tetap menyayangi Alif dengan sepenuh hati kalau nantinya ia punya anak kandung sendiri. Bagamana kalau Alif nakal nantinya? Mungkin saat ini Arif masih bisa maklum dan menerimanya, menasehatipun juga dengan halus. Bagaimana kalau Alif jadi brutal? Bagaimana kalau Arif tak tahan lagi dan jadi main tangan sembarangan dengan Alif?
Jelas semuanya kelihatan baik dan indah saat ini, bagai di syurga. Semua tampak indah, nyata, seperti mimpi semua orang yang khilaf dari zinanya. Berharap bertemu pemuka agama, minimal orang yang paham agama dan mau memperbaikinya.
But it's life... Menjadi istri seorang ustadz muda dengan segala talentanya, belum lagi begitu banyak gadis perawan entah santriwati atau bukan yang akan sangat terbuka dengan senang hati menerima dan menjadi pilihannya. Lalu Nana? Coba bandingkan?! That's to good to be true! Terlalu indah untuk jadi kenyataan.
Sama halnya Aji dengan segala janji manisnya hingga Alif ada, apakah ada jaminan bila Arif akan jauh lebih baik dari Aji?
Padahal berumah tangga dengan yang masih sama-sama bujangan saja banyak masalahnya. Apa lagi dengan Nana yang begini dan itu pula yang membuat Nana sadar betul siapa dan bagaimana dirinya juga posisinya saat ini.