
Alif masih berdiri si belakang jendela yang ia tutup sambil membawa pralonnya. Tante Yuni sibuk memasak sementara om Bram masih bekerja. Alif yang di minta jaga rumah benar-benar berjaga, meskipun permintaan dari tante Yuni itu hanya agar ia bisa meninggalkan Alif sebentar untuk memasak.
"Paket! " teriak kurir paket dari luar pagar.
Alif membuka pintu lalu mengibas-ngibaskan tongkatnya di depan pintu.
"Paket! " teriak kurir itu lagi saat melihat ada pralon dan tangan kecil yang bergerak-gerak.
"Kamu orang baik apa jahat?!" tanya Alif sambil mengintip dan berteriak ke arah kurir paket.
"Orang baik, antar paket... Ibu ada? " tanya si kurir.
"Mamaku lagi pergi... Kamu pergi aja kayaknya kamu jahat... " ucap Alif lalu membanting pintu dan berlari masuk melapor pada tante Yuni. "Ibu ada orang aneh bilang paket-paket terus..." lapor Alif.
"Oh iya sebentar..." tante Yuni buru-buru keluar setelah mendengar laporan Alif.
Alif mengikuti tante Yuni sambil menatap wajah si kurir yang memakai masker. "Bukan orang jahat ?" tanya Alif pada tante Yuni.
"Bukan, orang baik kok. Kan antar paketnya ibu... " jelas tante Yuni lalu kembali masuk di ikuti Alif yang terus mengibas-ngibaskan pralonnya. "Adek jaga rumah lagi ya, ibu gorengin lele nanti kita makan ya habis ini... " ucap tante Yuni yang di angguki Alif.
"Aku mau tonton kereta Thomas boleh? " pinta Alif yang jelas langsung di turuti tante Yuni yang memasangkan DVD Thomas sebel lanjut memasak.
Alif duduk manis sambil sesekali melihat jendela mengingtip keluar lalu melihat tante Yuni di dapur. Tak selang lama suara motor terdengar berhenti di depan rumah, Alif kembali melihat siapa yang datang dari jendela.
"Assalamu'alaikum... " teriak orang asing dari luar.
"Walaikumsalam... " jawab Alif pelan.
"Assalamu'alaikum... Pak... Bu... " teriak orang asing itu lagi.
"Ibu... " panggil Alif sambil berlari kedapur.
"Iya... Sebentar... " jawab tante Yuni sambil mengeringkan tangannya dan berjalan keluar di ikuti Alif di belakangnya yang membawa pralon sambil memakai sandalnya.
"Nganter undangan Bu... " ucap orang asing itu.
Aji tampak panik melihat hasil tes yang menunjukkan kalau Alice hamil. Tak kuat hati Aji untuk menyampaikan pada orang tuanya. Belum lagi eyangnya yang bisa-bisa kena serangan jantung kalau tau Alice hamil duluan begini. Meskipun sekarang semua berusaha melawan eyang tetap saja rasanya takut untuk menunjukkan pilihan hidup secara terang-terangan. Belum lagi Alice membuat kesalahan yang kelewat fatal begini.
Tapi kali ini ia bukan lagi khawatir soal pandangan publik dan relasi keluarganya, namun soal keselamatan ibunya juga Alice sendiri. Tak terbayang betapa marah dan kecewanya ayahnya nanti. Belum lagi ibunya yang harus pasrah jadi bahan amukan lagi.
"Gampang aku tinggal kabarin Joe, dateng ke rumahnya, menikah terus pergi jauh-jauh dari sini... " ucap Alice yang masih saja tak bisa mengerti kondisinya saat ini.
"Apa ada pesanmu yang di balas? " tanya Aji yang akhirnya buka suara.
Alice menggeleng. "Tapi dia baca chatku... Selain itu aku juga cuma ngabarin kalo aku dah sampe rumah, ga usah khawatir... Apanya yang perlu di balas? " Alice masih saja membela Joe.
Senyum miris tersungging di bibir Aji. "Sudah coba kabari kalo kamu hamil? " tanya Aji lagi.
"Tunggu ya aku kabari... " ucap Alice lalu dengan bangga memfoto hasil pemeriksaan beserta USG pada Joe. "Udah dia baru off... " ucap Alice sambil tersenyum bangga.
"No, dia hilang... Ghosting... " ucap Aji menjelaskan. "Aku berani taruhan semua asetku, aku pergi jadi gembel kalo emang Joe tanggung jawab... " Aji sesumbar.
"Oke deal, aku perlu kasih taruhan apa? " Alice menerima tantangan tanpa ragu.
"Jangan melibatkan mama, tanggung jawab semuanya sendiri... " ucap Aji mantap.
"Oke kalo cuma gitu doang... "
Aji geleng-geleng kepala tak habis pikir bagaimana bisa Alice sebodoh ini, tak rasional hingga apa yang sudah nyata di hadapannyapun luput begini. "Coba telfon... " ucap Aji.
"Kan dia lagi off... " ucap Alice menunjukkan ponselnya pada Aji.
Aji langsung menyaut ponsel milik Alice lalu menyalin nomer Joe. "Dia emang ga ada foto profilnya ya? " tanya Aji lalu mengembalikan ponsel Alice.
Alice mengangguk. "Dia emang jarang pakek... " bela Alice.
Aji menunjukkan nomor Joe yang baru saja masuk ke daftar kontak WAnya. Tampak Joe merangkul mesra wanita berambut blonde. "Alice, wake up! " ucap Aji menunjukkan foto kontak Joe pada Alice.