My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
Part 29



Wulan tak habis pikir bagaimana biaa suaminya yang ia kira pria baik-baik bisa sekejam itu. Belum lagi pengakuan Aji saat memfitnah dan mengusir Nana, di tambah eyang yang merasa sudah membayar Nana sebagai ******* untuk memintanya bungkam dan pergi namun uangnya di tolak. Bahkan ibu mertuanya yang sama-sama perempuan pun saat itu tak membela atau menegur apa-apa.


Wulan benar-benar kecewa. Tapi ia perlu banyak informasi juga soal Nana. Kalau-kalau nanti ia muncul dan menjadi bom waktu untuknya.


"Nyonya... " panggil Zul, ajudan Wulan yang datang dengan secarik kertas bertuliskan alamat Nana tinggal.


"Tailor? Dia penjahit? " tanya Wulan heran.


"Bapaknya... Dia pendatang baru di perumahan... Kabarnya dia punya anak laki-laki namanya Alif, dia jualan cilok, es, sama beberapa jajan pasar yang di titipkan... "


Wulan tambah kagum dan salut saat mendengar cerita soal Nana dari Zul yang sudah pontang-panting mencari Nana.


"Kita kesana sekarang... " ucap Wulan lalu bangun dari duduknya sambil menutup berkas dan berjalan keluar sambil menenteng tas.


●●●


Arif merasa kesepian sejak Alif tak pernah terlihat lagi. Biasanya Alif akan soalat berjamaah dengannya lalu duduk di pangkuannya saat berdo'a. Alif juga selalu menemaninya menunggu adzan maghrib tiap usai TPA. Sekarang sudah tak pernah terlihat lagi.


Ibu-ibu yang biasa mengawasi putra-putrinya TPA juga sudah berkurang. Bahkan nyaris tak ada lagi. Huft... Mungkin sudah tak khawatir kalo ada yang datang untuk modus kalo ada Nana di masjid.


Tiap membagi makanan atau jajanan Arif juga masih saja membagi untuk Alif dan berjaga-jaga siapa tau Alif datang. Tapi ya tetap saja Alif tak datang.


"Permisi mas... Mau numpang tanya rumahnya pak Janto penjahit di mana ya? " tanya seorang pria pada Arif yang sedang duduk di depan ambang pintu masjid.


"Oh... Iya mas dari pertigaan belok kiri lurus terus aja... " ucap Arif memberi tahu.


Pria itu mengangguk lalu pergi mengikuti petunjuk dari Arif usai berucap trimakasih. Tapi tak selang lama bahkan Arif baru habis baca satu halaman, pria tadi kembali lagi.


"Maaf mas.... " ucapnya sambil melambaikan tangan memanggil Arif mendekat.


"Iya mas? Ada apa? " saut Arif yang mendekatinya.


Ah mungkin mau urusan uang jadi butuh saksi... Batin Arif berkhusnudzon. "Oh iya mas, bisa..." Arif langsung menyanggupi. "Mas mau njahitin baju? Apa mau ambil jahitan? " tanya Arif setelah lalu duduk membonceng.


"Engga mas, saya mau ketemu Nana sama Alif... " jawabnya.


"Oh mau kasih bantuan ya? " tanya Arif lagi.


"Hahaha bukan mas... Mau ketemu anak... " jawabnya yang langsung membuat Arif tercengang.


Arif langsung terdiam. "Ah itu mas belok kiri... " ucap Arif berusaha kembali fokus.


Arif langsung duduk di teras depan sementara pria itu melepas helem dan jaketnya.


"Mas ini suaminya mama Alif ?" tanya Arif.


"Bukan... " jawabnya singkat. "Assalamu'alaikum... " ucapnya.


Tak ada jawaban dari pak Janto meskipun pintu dan jendelanya terbuka.


"Tunggu dulu mas, kalo mas bukan suaminya mama Alif terus anaknya siapa yang mau mas temui? " tanya Arif.


"Ya si Alif lah... Saya ini bapaknya Alif... Tapi saya ga nikah sama Nana... " jawabnya dengan suara yang makin lirih.


●●●


"Kapan sampainya? " tanya Wulan tak sabar. Sudah banyak gang sempit dan lingkungan kumuh di lewatinya. Tetap saja tak kunjung sampai. Bahkan saat kampanye saja ia tak serepot ini.


"Tinggal lurus lalu belok kiri... " jawab Hari, ajudan sekaligus selingkuhan Wulan.