
Aji sibuk memilih ayam tepung di restoran cepat saji. Aji sengaja memilih paket untuk anak-anak agar bisa sekalian dapat hadiahnya, apa lagi restoran ini kerap memajang iklannya di TV. Terbayang di benak Aji betapa senangnya Alif nanti dengan pemberian kecilnya.
Sembari menunggu pesanannya jadi Aji juga sempat membeli beberapa mainan dan sepasang sandal untuk Alif. Ukuran kakinya juga ia kira-kira sendiri. Toh tak masalah bagi Aji bila kehilangan uang lima puluh sampai seratus ribu untuk membelikan Alif sesuatu.
"...mas, aku mau balik ke rumah... Mama bilang eyang mau nginep... " ucap Alice begitu Aji mengangkat telfon.
"Yaudah tunggu aku otw kesana! Kita bareng! " jawab Aji panik lalu berjalan ke mobilnya dengan banyak tentengan baik makanan maupun mainan.
Aji langsung tancap gas, terbayang bagaimana mamanya yang pasti merasa tertekan dan tidak nyaman dengan kehadiran eyang lagi. Aji benar-benar tidak mau ada konflik baru lagi di hidupnya. Cukup mengurus Alice dan Alif juga Nana sudah membuatnya kacau. Jangan ada masalah baru lagi!
●●●
Alif bolak-balik keluar masuk rumah. Menunggu Aji datang sesuai janjinya. Alif benar-benar menunggu Aji. Setelah solat jama'ah, setelah mandi, setelah makan. Bahkan Alif sampai tidak pergi main dan tidur siang.
"Om aneh tidak datang lagi... " gumam Alif sambil menghela nafas sedih.
"Adek nunggu siapa? " tanya Nana yang datang menghampiri Alif.
"Om aneh... Dia kan janji mau datang... " jawab Alif penuh harap dengan janji yang di berikan Aji padanya. "Lama sekali... " keluh Alif.
Nana hanya diam lalu kembali masuk, menahan amarahnya karena Alif yang malah dengan mudah di dekati Aji. Perasaan Nana benar-benar semrawut bingung harus bagaimana sekarang, senang atau marah pada Aji yang terus menyeruak masuk dalam kehidupannya.
Saat ini sudah waktunya Nana menyudahi semua, membuka lembaran baru, move on. Sudah sepantasnya Nana bangkit dan mengejar semua ketertinggalan juga mengambil semua yang seharusnya ia rasakan. Jangan ada gangguan lagi, tidak untuk kedua kalinya. Begitu pikir Nana setiap bayang-bayang Aji menyusup masuk pada hati atau pikirannya.
"Iya buat adek aja... " jawab Nana dari dalam kamar.
Alif hanya diam sambil memperhatikan pintu kamar, tangannya yang menjijinjing plastik perlahan turun. Wajah cerianya menjadi lesu. Alif hanya ingin membagi makanannya dengan mamanya. Alif hanya ingin mamanya ikut senang atas apa yang membuatnya senang.
"Mama kalo tidak mau aku habisin semuanya deh... " ucap Alif dengan nada mengejek agar mamanya mau keluar kamar.
"Udah habisin aja dek, mama kenyang! " jawab Nana yang masih saja membiarkan Alif.
Alif hanya diam lalu mulai duduk bersandar di tembok, masih saja menatap pintu kamar yang tertutup itu. Alif yang tadinya ceria menjadi murung. Alif paling tidak suka kalau mamanya menolak sesuatu darinya, Alif hanya ingin membahagiakan mamanya. Penolakan yang dilakukan Nana jelas membuatnya sedih.
"Bapak ga di kasih? " tanya pak Janto menghibur Alif.
"Bapak mau juga? Bapak ambil aja pilih mau yang apa... " jawab Alif lalu membiarkan pak Janto ikut membuka isi plastik yang di kirimkan Aji untuknya.
Aji ini sudah benar-benar berubah atau ada niat lain? Batin pak Janto sambil melihat betapa banyak mainan yang di terima Alif juga makanan-makanannya.
"Om aneh ternyata baik juga ya... " ucap Alif senang sambil memakan kentang goreng yang di makannya dengan nasi dan saos tomat agar bisa menyisakan ayamnya untuk mamanya.
"Adek makan kentang, kentang aja... Kalo nasi sama ayamnya... " ucap pak Janto mengarahkan Alif.
"Ayamnya mau di bagi sama mama... " jawab Alif sambil terus makan dengan lahap.