My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
Part 79



Alif tak begitu menikmati acara, ia terus saja memegangi tangan Nana dan enggan duduk di samping Arif. Rasanya Alif ingin sekali cepat pulang, tapi terlalu takut mengucapkannya.


"Mas marah ya? " tanya Nana pada Arif yang dari tadi juga diam dengan wajah di tekuk.


"Enggak... " jawab Arif pelan.


"Mas, pulang yuk... " ajak Nana lembut.


Arif hanya mengangguk lalu beranjak dari duduknya.


"Ayo pulang, nanti kalo mama ada uang lebih kita nonton lagi ya... " ajak Nana sambil menggandeng Alif.


"Alif ya? " panggil Siwi yang berpapasan dengan Nana dan Alif.


"Halo! " sapa Alif ceria.


Siwi begitu senang bisa bertemu Alif dan Nana, tapi belum juga ia tersenyum Broto yang berdiri di belakangnya sudah menatap Alif dengan tajam. Meskipun sebenarnya Broto juga gemas dengan Alif. Alif langsung bersembunyi dibalik mamanya setelah menatap Broto.


"Mas jangan gitu dong... " ucap Siwi berusaha mencairkan suasana. "Acaranya belum selesai kok udah pergi mau kemana? " tanya Siwi berusaha menahan Nana dan Alif yang tampak sudah sangat tidak nyaman.


"Ayo jadi pulang gak? " tanya Arif yang kembali menghampiri Nana dan Alif.


"Aku pulang dulu ya... " ucap Alif lalu berjalan bersama mamanya mengikuti Arif.


Apa itu suaminya Nana? Pikir Siwi dan Broto yang melihat Arif sebelum keduanya saling bertukar pandang.


●●●


Sepanjang perjalanan Arif terus diam, Nana juga tak berani memulai pembicaraan. Alif sendiri juga diam saja karena masih merasa bersalah.


Zulia nanti gimana ya kalo ternyata Nana milih aku, ah tapi kan ada Aji pasti Nana ngeberatin Aji... Batin Arif yang kini bimbang memilih antara Nana atau Zulia.


Zulia yang notabene adalah seorang ning menggoyahkan fokus Arif secara perlahan. Pelan tapi pasti. Entah trik apa yang di lakukan Zulia. Arif sendiri bingung sejak kapan ia suka dengan Zulia. Bahkan saat Sarah yang lebih cantik dari Zulia saja dapat ia tolak dengan tegas, kenapa kini Zulia tidak.


Zulia dengan pikirannya yang bebas dan out of the box perlahan menarik Arif, memalingkan pandangannya, mengalihkan fokusnya. Apa benar hanya ada Nana di hati Arif? Atau Nana sekarang hanya menjadi sebuah obsi pilihan?


"Trimakasih ya mas... " ucap Nana begitu sampai rumah.


"Trimakasih ya... " ucap Alif juga lalu langsung masuk duluan ke rumah.


"Na, bisa kita ngobrol berdua? " tanya Arif.


Nana hanya mengangguk lalu masuk ke dalam rumah, sekali lagi untuk pamit keluar. Tak lama Nana kembali duduk di bonceng Arif. Keduanya diam sampai Arif sampai di sebuah taman.


"Ayo... " ajak Arif lalu berjalan mendahului Nana dan duduk di salah satu bangku.


Keduanya duduk dalam diam, cukup lama. Sampai akhirnya Arif yang kembali buka suara.


"Aku deket sama cewek namanya Zulia... " ucap Arif lalu menunjukkan ponsel dan semua isi chattingnya.


Nana diam melihat nama Zulia di bagian atas bahkan tersemat emotikon hati ♡. Nana menutup ponsel Arif lalu menghela nafas dan tersenyum.


"Aku goyah Na, aku takut ga bisa jaga hatiku... Aku mau sama kamu, aku bingung... " ucap Arif dengan mata berkaca-kaca. "Aku ga mau nyembunyiin sesuatu dari kamu... " sambung Arif.


Nana mengangguk paham, meskipun sejujurnya Nana tak bisa menerima pengakuan Arif. Tapi tetap saja Arif yang masih bujangan itu berusaha menerima Nana, mencintainya yang begitu kotor dan banyak salah. Nana cukup tau diri ia tidak dalam posisi memilih, bahkan menjadi pilihan pun tidak.


"Maaf aku tadi bentak Alif... " lirih Arif. "Na... Menikahlah denganku... Aku tersiksa menunggu jawabanmu... Aku mulia tak percaya diri lagi... "