My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
Part 87



"Sudah Mas, kamu ga usah sok baik sama Alif... Dulu kamu kan ga pernah mau sama Alif... " kesal Nana lalu menarik Alif masuk rumah di iringi bantingan pintu yang cukup keras pada Aji.


Aji langsung pergi setelah Nana membanting pintu di hadapannya karena tak ingin berkonflik.


"Na, Aji ada benarnya juga... " ucap pak Janto sambil memeluk Alif yang ketakutan.


"Bapak dulu marah-marah juga ke mas Aji kenapa sekarang bapak belain? Bapak ga punya pendirian... " ucap Nana dengan nada bicara yang sengit lalu masuk ke kamarnya.


Alif masih diam sambil mengeratkan pelukannya pada pak Janto. Nana benar-benar jadi makin galak dan galak, sinis dan kasar setelah mengambil keputusan untuk menikah. Alif bahkan ikut berimbas meskipun sudah berusaha nurut dan mengerti kondisi mamanya.


"Mama jadi suka marah... Aku tidak suka... " bisik Alif sedih. Sebenarnya Alif sangat ingin menangis, sudah ayamnya jatuh masih mendengar mamanya mengomel. Tapi Alif menahan perasaannya yang ingin menangis, Alif tak mau mamanya marah seperti semalam lagi. Alif tidak mau di bentak. "Dua...empat...enam...delapan... Gerbong angkat muatan... Thomas dan teman... " Alif mulai menyanyi seingatnya lagu pembuka kartun kereta Thomas sambil memandangi keluar jendela.


Pak Janto hanya bisa diam, ingin menegur Nana atau memarahinya jelas sudah tidak mempan lagi. Omongan pelan-pelan baik-baik saja tanggapannya seburuk itu bagaimana kalo nanti dengan cara keras.


Ya Allah, semoga pilihan Nana sudah yang terbaik... Semoga ustadz Arif bisa menjaga kehormatan Nana dan keluarga kecilnya nanti, bisa menasehati Nana, mengarahkan Nana... Batin pak Janto lalu mengukur tubuh Alif.


"Bapak bikinin celana ya... " ucap pak Janto menghibur Alif.


Alif hanya mengangguk lalu diam untuk di ukur. "Mama marah-marah pasti pusing kebanyakan belajar... " tebak Alif yang berusaha memaklumi kemarahan mamanya.


"Iya... " jawab pak Janto lalu tersenyum antara miris dan bangga cucunya bisa memaklumi situasi dan kondisi sekitarnya.


●●●


Zulia yang masih sulit menerima kenyataan pahit bahwa Arif memilih menikahi Nana itu dengan berbesar hati ikut membantu Jamilah menyiapkan seserahan untuk Nana nanti. Zulia menghabiskan begitu banyak waktu bersama bagaikan sudah menjadi keluarga.


"Terimakasih dah bantuin persiapan ya Ning... " ucap Jamilah sambil menunggu bakso pesanannya datang.


"Kamu dah kayak kakak adik sama si Arif... Sayang ya... Ketemunya telat... Tapi ya mau gimana lagi jodohnya sama Nana... " ucap Jamilah menceritakan kondisinya.


Zulia tersipu malu mendengar pujian dari Jamilah, meskipun Zulia berperinsip pantang menyakiti sesama wanita. Tapi tak di pungkiri ia juga merasa lebih unggul dari pada Nana saat ini.


"Halo assalamualaikum Na... " ucap Arif yang menelfon Nana.


Zulia hanya diam, menyemak Arif yang terdengar begitu hangat dan tengah kasmaran pada Nana di depannya. Arif dan ibunya tampak sangat asik dan akrab dengan Nana. Tentu saja suasana ini sangat tidak mengenakkan bagi Zulia. Rasanya ia hanya di jadikan penonton ah bukan hanya kacung setelah Arif berhasil membuatnya jatuh hati tapi juga mematahkan hatinya.


"Insyaallah besok ibu ke sana... " ucap Jamilah mengabari dengab ceria pada Nana sambil menatap Zulia yang terdiam. "Calon mantu... " bisik Jamila senang sambil mencolek bahu Zulia.


Zulia hanya bisa meringis menahan perasaannya yang campur aduk tapi juga tetap harus terlihat baik.


"Makasih ya, dah mau di repotin.... Aku bisanya cuma ngerepotin doang... Maaf ya belum bisa balas apa-apa... " ucap Arif setelah menutup telepon pada Zulia.


Zulia terdiam sejenak, ingin rasanya menangis saat itu juga. Ingin memaki Arif, ingin mpermalukannya, ingin argh semua kekesalan ingin ia curahkan. Minimal balas dendam agar Arif tau apa yang ia rasaka. Tapi apa mau dikata, Zulia tak sampai hati melakukan apapun blasan buruk yang sudah di rencanakannya pada Arif.


"Iya ibu juga makasih banget dah mau di repotin kamunya... " ucap Jamilah.


"I-iya... Gapapa... " jawab Zulia tergagap.


"Besok bisa ikut ibu ke rumah Nana ga? " ajak Jamilah. "Ibu pengen kasih liat calon mantunya ibu, siapa tau bisa jadi sahabat... " sambung Jamilah.


"A-aku besok ada kencan... " dusta Zulia yang tak mau makin nyesek lagi. Ia tan mau membiarkan orang lain menari di atas patah hatinya. Bagi Zulia cukup ia menemani hari ini, menemani pria tak tau diri yang menciumnya dan mengobrak-abrik hatinya. Tidak, tidak lagi!