
"Mamaku lagi sibuk bekerja biar uangnya banyak nanti bisa temenin aku terus... " ucap Alif yang curhat pada Arif sambil duduk menunggu waktu maghrib.
"Mama biasa sibuk ya? " tanya Arif yang duduk bersandar di tembok di samping Alif.
Alif hanya mengangguk. "Aku tidak suka mama bekerja terus, sibuk terus aku tidak suka... " ucap Alif dengan alis yang mulai mengkerut.
"Kenapa? " tanya Arif penasaran.
"Kan mama cewek... " jawab Alif lalu menatap Arif. "Yang harusnya kerja kan cowok. Kayak papanya temen-temenku... " sambung Alif.
"Kalo aku jadi papanya Alif mau ga? " tanya Arif yang di jawab dengan tawa dari Alif.
"Ya tidak bisa..." jawab Alif.
"Loh kenapa? " tanya Arif syok.
"Nanti yang jadi ustadz siapa? " Alif dan Arif tertawa bersamaan.
Ternyata memang pikiran Alif begitu sederhana dan polos. Belum paham adanya banyak peran yang bisa di lakukan seseorang.
"Nanti kalo ustadz jadi papaku, bapak jadi apa? Masak jadi ustadz? Ya aneh dong... " ucap Alif lalu tertawa kecil.
"Ya nanti papanya Alif jadi dua... " ucap Arif memberikan penjelasan.
Sayup terdengar suara mangkuk yang di pukul dengan sendok hingga suaranya nyaring terdengar. Seorang penjual bakso berhenti di depan masjid dengan gerobak usangnya.
"Adek mau ga? " tanya Arif menawari.
"Ustadz yang beliin... " ucap Arif yang langsung memesan dua porsi bakso.
Alif hanya diam meskipun tak bisa menyembunyikan ekspresi senangnya saat di traktir. Tapi begitu mangkuk bakso yang lengkap dengan pangsit tersaji di depannya Alif hanya memakan pangsitnya.
"Masih panas ya? " tanya Arif.
"Tidak, aku mau di bungkus aja nanti makannya sama mama... " jawab Alif.
Arif yang semula ingin langsung makan mengurungkan niatnya. "Di bungkus semua ya bang, sama pesen dua bungkus lagi... " ucap Arif.
●●●
"Dasar cewek gila! Nana itu dah banyak susah gara-gara aku. Aku mau tanggung jawab. Tapi aku ga mau sama idemu itu!" kesal Aji saat melihat pie chart pembagian harta yang di buat Wulan.
"Gila apanya? Dari pada hartamu kesedot habis sama eyangmu yang kayak mak lampir itu... " sanggah Wulan.
"Setengah jatahku akan langsung ku berikan pada Nana dan Alif, terserah aku nanti akan bagaimana... Langsung ambil saja setengah hartamu... Jangan memperumit yang mudah... " ucap Aji. "Kamu tau ga, kalo dulu aku bukan pengecut dan sedikit saja lebih berani. Pasti aku sudah menikahi Nana, membantunya membesarkan anakku... Mungkin juga kamu ga perlu selingkuh, kamu bisa menikah dengan Hari... Kalau saja waktu bisa di ulang kembali, aku tidak akan meminta Nana menggugurkan kandungannya, tidak akan pergi dari rumah kontrakan kami waktu itu, tidak memfitnahnya... Tapi waktu itu juga kalau aku tidak patuh, mamaku yang bakal di tekan. Aku bodoh dan serba salah. Sekarang aku tidak begitu lagi... " sambunh Aji menceritakan masa lalunya sekilas.
"Mama? Maksudmu di tekan? " tanya Wulan tak percaya.
"Papaku kasar ke Mama, Eyang juga gitu... Kalo ada ulah pasti Mama di tampar, di pukul, di cambuk... Mamaku bukan dari golongan terpandang, mamaku cuma anak guru honorer yang ga pernah di angkat jadi PNS sampai masa pensiun. Tapi mamaku dapet beasiswa, itu yang bikin papa jatuh cinta sampe nikah... Eh malah KDRT... Aku cuma mau lindungi mama, lindungi Nana juga biar ga di tekan atau di teror... " jelas Aji.
"Huft... Kenapa kamu ini menyedihkan sekali? Nelangsa sekali kamu ini... Dasar payah... " komentar Wulan. "Kalau mama butuh tempat buat kabur, datanglah padaku... Aku terbuka dan siap bantu... " sambung Wulan.