My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
Part 91



Untuk merayakan keberhasilan Nana masuk perguruan tinggi, Arif mengajak Nana pergi makan. Awalnya benar hanya makan. Tapi karena keduanya tengah berbahagia dan merasa sudah saling memiliki terlebih dua minggu lagi adalah hari pernikahan mereka. Arif dengan berani mengajak Nana pergi ke tempat wisata.


Di bawanya Nana ke tempat wisata alam air terjun. Suasana sejuk dan dingin membuat keduanya tak bisa berjauhan. Saling menggenggam sambil melihat pemandangan, melalui tangga dan jalan setapak bersama. Sesekali bercanda atau sekedar membicarakan tentang masadepan mereka nantinya.


"Dingin ya... " ucap Nana sambil mengedikkan bahunya meskipun sudah memakai jaket.


Arif hanya mengangguk lalu tersenyum. "Tapi baguskan pemandangannya... "


"Bagus aku suka... Tapi dah mulai mendung... " ucap Nana sambil menunjuk ke langit.


"Wah iya, yaudah ayo pergi... Pulang... " ajak Arif lalu beranjak dari duduknya dan menggandeng Nana.


Keduanya melangkah lebih cepat. Meskipun tetap saja mengobrol santai agar perjalanan menyusuri jalan setapak dan tangga tidak terasa.


Nana dan Arif jelas tak mau bila harus terjebak hujan di sana. Pertama selain karena tak membawa payung, mereka berdua juga tak menemukan gazebo, atau apalah untuk berteduh. Hanya ada kursi taman dan kios-kios sate kelinci.


Sepanjang jalan Arif memacu motornya dengan cepat. Sungguh Arif tak mau mengulang kesalahannya dulu lagi. Tapi begitu ia sampai di lampu merah, ketika lampu merah itu padam dan berganti giliran dengan lampu hijau, motornya mogok.


Arif berusaha menyalakan mesin sambil membawa motornya kepinggir dan berteduh. Karena tak kunjung dapat di starter, Arif meminta Nana untuk ikut membantunya mendorong motor sambil mencari bengkel.


Cukup jauh dan lama keduanya membawa motor mogok itu mencari bengkel. Sampai akhirnya ada bengkel, meskipun tempatnya hanya berupa kios yang berdinding anyaman bambu, Arif memutuskan untuk tetap membawa motornya ke sana. Karena tak ada pilihan lain.


"Disini dingin, ini olinya perlu di ganti akinya soak, lampunya mati. Kalo nunggunya mau enak bisa di situ... " ucap pekerja bengkel tersebut sambil menunjuk penginapan melati tepat di samping bengkelnya. "Murah mas, mbak...kalo buat makan murah... " sambungnya memberi saran karen melihat pakaian Nana yang basah juga Nana yang gemetar menahan dingin.


●●●


"Alif... Alif... " panggil Lila yang datang dengan sepeda roda empat berwarna pink barunya.


"Eh Lila, ngapain kamu? " tanya Alif yang keluar rumah menemui Lila.


"Aku besok mau ulang taun kamu datang bawa kado ya... " ucap Lila sambil menyerahkan kartu undangan ulang tahunnya.


"Lila mau kado apa? Aku tidak punya uang... " ucap Alif sambil menerima undangan dan garuk-garuk kepala bingung.


"Ya apa aja terserah Alif, kalo bisa yang warna pink, di beliin barbie tubellina juga boleh... Di kasih baju princess juga boleh... " Lila mengucapkan segala keinginannya untuk referensi Alif memberinya kado.


Alif hanya diam dengan alis yang berkerut. Kalau sebelumnya masalahnya hanya Aji yang akan pergi meninggalkannya keluar negeri, sekarang bertambah lagi kalau ia harus memberi kado pada Lila.


"Pokoknya Alif harus kasih kado ya! " paksa Lila lalu lanjut pergi dengan sepedanya lagi.


"Bapak... " panggil Alif lalu menunjukkan undangan ulang tahun yang ia terima barusan. "Kata Lila aku harus kasih kado tapi aku tidak tau mau kasih apa... Lila minta kado mahal... Aku tidak punya uang buat kasih... " sambung Alif menceritakan problemnya.


"Kado mahal apa? " tanya pak Janto heran.


"Berbi, baju pinces... Yang warna pink... Aku bingung... " jawab Alif.