
"Dari mana kamu mas? " tanya Wulan yang sudah menunggu kedatangan Aji.
"Kerja... " jawab Aji singkat lalu masuk ke dalam ruang kerjanya mengabaikan Wulan yang dari tadi menunggunya.
Wulan hanya memejamkan mata lalu mengusap wajahnya dengan frustasi, dengan menahan emosi Wulan melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Aji. Tak tampak Aji di dalam ruangannya, sampai terdengar suara shower yang menyala. Beberapa kali suara hantaman di dinding terdengar dengan geraman penuh emosi.
Wulan duduk menunggu di meja kerja Aji. Tangannya mengecek ponsel suaminya yang kini jadi memakai password. Wulan mencoba memasukkan kombinasi tanggal ulang tahun Aji, gagal. Wulan kembali mencoba untuk memasukkan kombinasi tanggal ulang tahunnya, gahal lagi. Wulan masih mencoba dengan memasukkan kombinasi tanggal pernikahannya, hasilnya sama saja. Sampai Wulan harus menunggu sekitar 30 detik hingga satu menit karena tiap kombinasi yang ia masukkan tak pernah benar.
"Mas, kita harus bicara... " ucap Wulan saat Aji keluar kamar mandi.
"Aku mau istirahat... " tolak Aji sambil melangkah ke lemari berusaha menyibukkan diri, mengabaikan Wulan.
"Tidak enak ya di usir dari rumah pak Janto? " tanya Wulan yang membuat Aji tercekat hingga menghentikan aktivitasnya. "Yasudah, sepertinya ini bukan hari baikmu yang menyenangkan... Sleep well hubby... " sambung Wulan lalu melenggang keluar dengan santai.
"Dek... Dek... " kejar Aji lalu menarik tangan Wulan. "Kita udah bicara soal Nana, Alif dan keluarganya biar kamu ga ganggu... Kenapa masih di ganggu?! " tanya Aji to the poin dengan kesal.
"Aku tidak mengganggunya, bahkan aku tidak menemuinya kalau saja kamu ga menyempatkan waktu untuk datang ke sana tadi! " jawab Wulan tegas.
Suara gemeletuk gigi Aji yang menahan emosi sedikit terdengar, menunjukkan betapa marah dan kesalnya Aji. Tangannya terkepal, matanya menunjukkan hal yang sama. Hingga ketegangan menyelimuti keduanya.
"Kalau sampai kamu ikut campur dan ganggu, aku gak bakal nahan diri lagi buat sebar semua kasusmu! " ancam Aji sambil mencengkram dagu Wulan.
"Sebar saja! Aku tidak takut!" jawab Wulan tanpa rasa takut dan gentar sedikitpun lalu meludahi wajah Aji. "Aku jijik dan muak padamu! Aku tak menyangka sudah menikahi pria dari keluarga bangsawan malah berkelakuan rendahan! Bahkan kalau bukan karena pelancaran ini itu dari keluargaku apa bisa bisnis tekstil keluargamu jalan?! " ucap Wulan menyudutkan Aji. "Aku tak menyangka pria sepertimu hanya bisa mengencingi seorang wanita muda yang begitu belia hingga hamil! Lalu kau campakan setelah tuntas kencingmu! Pria rendahan!! "
"Astaga! " pekik eyang yang baru saja masuk dan menyemak sedikit pertengkaran antara Aji dan Wulan barusan.
"Eyang?!!" pekik Aji dan Wulan bersamaan.
Brugh! Eyang langsung terjatuh lemas tak kuat dengan apa yang di dengar dan di lihatnya.
●●●
Aji dan Wulan hanya diam saat eyang Tini mulai tenang dan siap menengahi pertengkaran mereka. Wanita tua itu menatap Wulan dan Aji bergantian lalu mulai buka suara.
"Nana sama anaknya itu sudah bukan urusan kita lagi... Dia yang murah, hamil di suruh gugurin ga mau, kita kasih uang buat ganti untung masih ga mau... " ucap eyang sambil beberapa kali menghela nafas.
"Kamu ini wanita tua tidak punya hati ya?! " Wulan menanggapi dengan sinis dan kesal.