My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
part 140 #2



Kasus Wulan terus berjalan. Beritanya di update tiap hari hampir sebulan ini. Tiap sidang, kesaksian, bahkan berita-berita tidak penting seperti hobi-hobi mewahnya, juga hubungannya dengan aji, dan lain-lain terus menghiasi televisi bagaikan pendulang rating. Nana yang pernah mengenal Wulan hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya.


Aji juga sempat beberapa kali di wawancarai media seputar Wulan. Ia hanya bisa menjawab seadanya lalu buru-buru pergi sebelum timbul pertanyaan yang akan memicu pertengkaran entah dengan siapapun dalam hidupnya.


Ahmad juga sudah mulai aktif dan sengaja menyibukkan dirinya dengan berlatih karate di rumah dan ke dojonya. Ahmad benar-benar berlatih dengan serius. Broto yang tau cucunya senang dengan olahraga beladiri juga ikut mensuport dengan membelikan samsak dan sasaran pukul lainnya. Ken juga di minta ikut latihan meskipun ken tidak segiat Ahmad.


Ahmad juga sudah tidak pilih-pilih makanan lagi sejak ia latihan karate dan gurunya bilang kalau ia tidak boleh pilih-pilih makanan agar bisa jadi kuat. Meskipun tetap saja Ahmad lebih lahap bila makan dengan lauk telur dadar dengan kecap atau nuget, lebih lahap lagi bila di temani kakaknya sambil di suapi mamanya.


Bug! Bug! Bug! Ahmad memukul samsak sekuat tenaganya. Kuda-kudanya juga sudah kokoh dan begitu siap.


"Isi bensin dulu... " ucap nana sambil menyuapkan telur dadar dengan isian sayuran pada ahmad.


Ahmad langsung membuka mulutnya lalu duduk sampai selesai menelan makanannya lalu kembali memasang kuda-kudanya dan memukuli samsak lagi.


"Asalamualaikum... " ucap alif yang sudah pulang sekolah sambil memasuki gerbang.


"Waalaikum salam! " jawab ahmad sambil berteriak lalu memukuli samsak lagi.


Nana dan alif hanya tersenyum melihat ahmad yang begitu bersemangat berlatih.


"Wah kamu hebat latihan terus! " puji Alif pada ahmad sambil memeluk nana.


"Ganti baju dulu kak, cuci tangan, cuci kaki, solat terus makan ya... " ucap nana memberi perintah pada putra sulungnya.


Alif hanya mengangguk lalu melepaskan sepatunya dan meletakkannya ke rak. Alif langsung ke kamar dan mengerjakan semua yang di perintah mamanya lalu makan di depan sambil melihat Ahmad berlatih.


"Coba gimana? " tanya alif yang antusias melihat progres adiknya.


Ahmad langsung mengambil ancang-ancang lalu bersiap menendang. Tapi belum ia menendang sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Alif langsung meletakkan piringnya ke atas meja dan berdiri melihat siapa yang datang, begitu pula dengan nana dan Ahmad.


"Permisi... Benar ini rumahnya pak aji? " tanya seorang pria yang turun bersama seorang gadis kecil di sampingnya.


Nana hanya mengangguk lalu menyuruh anak-anaknya masuk kedalam. "B-benar... Ada apa? " tanya nana sambil berusaha memberanikan diri mendekat.


"S-saya pengacaranya bu Wulan. Ini Angela anaknya bu Wulan, katanya di suruh nitipin di sini dulu... " ucap pria itu lalu memberikan surat pada nana dari sela-sela pagar.


Nana menatapnya penuh curiga. Tapi melihat gadis kecil yang di bawa pria itu sudah membawa koper, ransel dan boneka. Juga wajah gadis kecil itu yang cukup mirip dengan Wulan mulai melunturkan kecurigaan nana.


Nana membukakan pagarnya. Pria itu langsung mendorong masuk koper, juga Angela yang membawa ransel dan boneka masuk. "Saya langsung mbak. Maaf, saya takut di buntuti media... " pamitnya langsung pergi begitu Angela sudah masuk dan di gandeng nana.


Angela langsung menangis begitu mobil yang membawanya pergi begitu saja meninggalkannya sendirian. Angela langsung berjongkok sambil memeluk bonekanya dan memegangi kopernya. Angela beberapa kali memanggil mamanya dan menyebut nama orang-orang yang di kenalnya.


Ahmad dan alif langsung keluar begitu melihat mobil yang tadi berhenti di depan rumahnya sudah pergi, di tambah ada suara tangisan dari depan.


"Kamu kenapa nangis? Siapa yang pukul kamu? " tanya ahmad pada angela sambil ikut berjongkok di dalamnya.


"Ini siapa ma? " tanya Alif lalu ikut berjongkok bersama ahmad dan angela.


"Angela, anaknya tante baik... " jawab nana.