My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
part 97



Alif duduk manis menunggu gilirannya memberikan kado pada Lila di ujung belakang bersama Doni. Alif dan Doni sebenarnya datang pertama tapi karena di anggap kurang pantas duduk di depan orang tua Lila mengarahkannya di pojok belakang.


"Udah bun... Gapapa biar di kasih aja namanya juga anak-anak... " bujuk ayah Lila pada istrinya yang ingin mengusir Doni yang beda agama juga Alif yang di anggap anak haram membawa pengaruh buruk untuk putrinya.


"Apa isinya ini? " tanya Lila. "Kalo jelek kamu ga usah main kesini lagi loh... " ucap Lila yang langsung membuka kado dari Alif di depan semua orang.


"Aku beli di mall sama om aneh... " ucap Alif sambil tersenyum berharap Lila suka.


Lila terbelalak melihat kado dari Alif, barbie bergaun pink. Kesukaannya. "Wah bag... "


"Kamu nyuri dimana?! " bentak bundanya Lila. "Nyuri kan! Iya kan! " ucapnya tak percaya pada Alif lalu menyeret Alif keluar.


"Tidak... Tidak... Alif tidak curi... Aku beli... Aku beli tidak curi... " ucap Alif mengklarifikasi sebisanya dengan suara yang bergetar sambil terus berjalan di seret keluar.


"Bohong! Kamu miskin kok bisa kasih mainan mahal! "


"Aku kan dah bilang, om aneh yang beliin tadi. Om aneh uangnya banyak jadi di beliin itu... " ucap Alif menjelaskan dengan air matanya yang sudah berlianan.


Begitu banyak mata memandang Alif ada yang iba ada yang senang memandangnya di perlakukan seperti itu. Bahkan badut yang di undang rasanya kalah menarik dari ibu-ibu yang mengusir seorang bocah.


"Nih ambil terus pergi, pencuri, ga usah kesini lagi! " usir bundanya Lila meskipun sudah di tahan suaminya agar tidak bersikap arogan. Tetap ia melemparkan bingkisan jajanan pada Alif.


"Terimakasih ya... " ucap Alif lalu pergi setelah memungut bingkisannya dan memakai sandal.


Doni langsung bangun dan mengambil sebuah bingkisan jajanan sama seperti Alif. "Alif tunggu! " Doni berlari mengejar Alif. "LILA JELEK! TERNYATA BUNDANYA JUGA LEBIH JELEK! SUKA MARAH KAYAK MONSTER!! " ejek Doni sambil berlari dan berteriak.


"Orang miskin ga punya tata krama, kafir pula! " hina bundanya Lila yang membuat suaminya geleng-geleng kepala heran dengan sikap arogannya.


Sesampai Alif di rumah, ia langsung mengadukan apa yang ia alami barusan pada pak Janto. Doni masih saja menemani Alif.


"Aku mau telpon om aneh... " pinta Alif pada pak Janto setelah puas mengadu ini itu.


"Buat apa? " tanya pak Janto.


"Buat buktiin aku tidak curi... " jawab Alif yang tak terima dengan tuduhan tadi.


Pak Janto tak bisa berkata apa-apa untuk menahan atau mengijinkan cucunya. Rasanya kemewahan sebuah martabat bagi seorang pria memang sudah ada sejak dini.


"Mama aku mau telpon om aneh, aku mau buktikan aku tidak curi kado... " ucap Alif pada Nana yang baru selesai solat.


"Tidak usah! " tolak Nana.


"Nanti semuanya kira aku bohong, aku di bilang curi kadonya... " Alif kekeh.


"Na... Biarin Alif ngomong sama Aji... " bujuk pak Janto.


"Bapak ini! Aku bilang enggak ya enggak! " kesal Nana kekeh menolak lalu pergi ke kamar mandi untuk lanjut mencuci.


Alif langsung menangis lebih kencang dari sebelumnya. Alif bingung harus minta perlindungan pada siapa. Ia harus membuktikan kalau ia tidak mencuri, tapi ia bingung bagaimana cara membuktikan selain pada Aji yang membelikannya hadiah untuk Lila.


"Aku percaya kamu tidak curi... " ucap Doni lalu memeluk Alif dari belakang.