
Wulan terdiam di kamarnya, sudah tujuh test pack di kencinginya sudah tiga kali pula hasil lab ia terima dengan hasil yang sama masih membuatnya tak percaya. Hamil... Oke ini mungkin kabar baik, mengingat seharusnya ia tak bisa hamil lagi. Tapi yang jadi masalah adalah siapa bapaknya?! Aji? Zul? Hari?
Wulan mengacak-acak rambutnya, frustasi dengan kondisinya. Mungkin bila ia masih berumur di bawah dua puluh lima tahun dan dalam kondisi yang belum mantap seperti sekarang ia memiliki alasan yang cukup mendasar bila melakukan aborsi. Tapi sekarang? Ia sudah mapan, punya karir, punya cukup banyak harta yang cukup bila sekedar untuk menghidupi satu orang anak, ia sudah mempunyai semuanya. Semua hal yang ingin ia gapai, paling tidak.
"Ini anak siapa? " gumam Wulan sambil meremas perutnya.
Ia mulai memikirkan siapa saja pria yang sudah menidurinya akhir-akhir ini. Ingin menyalahkan Zul dan memintanya bertanggung jawab, Zul bahkan hanya menidurinya dua kali. Itupun sudah lama sekali. Tepatnya saat ia menyaksikan pembakaran pasar dulu. Aji? Sudah sejak ia mengetahui soal Nana, Aji tak lagi menidurinya. Jangankan tidur bersama, bahkan mereka sudah pisah ranjang meskipun masih seatap. Hari! Hanya dia yang paling layak di curigai dan dimintai pertanggung jawaban.
"Gimana jadinya? Apa pilihanmu? " tanya Ratna yang sudah kelewat pusing memikirkan kelakuan putrinya yang tak bisa di setir lagi.
"Aku mau pergi... Liburan... " jawab Wulan sekenanya daripada harus berurusan dengan keluarganya secara terus menerus juga masalah-masalah yang ia hadapi tanpa henti.
●●●
Alice terus berada di sisi ibunya dengan pandangan yang perasaan khawatir dan cemas. Semua kakaknya sudah di kabari, bahkan Aji juga akan segera datang. Tapi tetap saja Alice tak bisa tenang.
"Mama gapapa... " ucap Siwi lembut dengan senyumnya berusaha menenangkan Alice.
"Lain kali makannya ga usah ikut-ikutan aku kabur! Ngerepotin aja! " kesal Alice berusaha menutupi kekhawatirannya dan rasa ingin menangis yang lama ia tahan.
"Iya... Maaf ya... " jawab Siwi lembut lalu menggenggam tangan putri bungsunya itu.
"Mama kangen sekali sama papamu, sama eyang, sama mas Aji... " ucap Siwi memulai ceritanya pada Alice. "Papa itu emang kayak gitu orangnya... Tapi dulu papa ga kasar kok... " lanjut Siwi mengingat suaminya kembali.
Alice langsung memasang wajah angkuh penuh amarahnya kembali setelah mendengar ucapan Siwi.
"Semarah apapun mama, mama tetep ga bisa pisah sama papamu... " ucap Siwi lembut lalu mengecup jemari putriya.
Alice menarik tangannya, kesal dengan ibunya yang ia anggap begitu bodoh. Siwi hanya tersenyum melihat reaksi putrinya itu. Bukan kali pertama Siwi melihat reaksi seperti ini. Meskipun ya memang di bandingkan semua kakaknya Alice adalah yang paling kekeh melawan.
"Maaf ya... Mama ga bisa bikin adek seneng... Bikin adek sebel terus... " ucap Siwi lebih lembut lagi pada Alice.
Alice langsung menarik tangannya dan keluar meninggalkan Siwi begitu saja. Air matanya tak bisa di tahan lagi, melihat mamanya yang hampir tiap hari tidak bahagia, terus di siksa, tapi tetap saja berusaha mencintai keluarganya.
✨✨✨
Teman-teman aku ada cerita baru nih dah bisa di akses Google Play. Ceritanya dah tamat dan kalian ga perlu buat nunggu aku selesai up per bab loh. Harganya juga dah diskon!!! Kalo kalian ga mau beli ceritanya langsung, kalian bisa kok baca contoh gratisnya dulu ♥ psstt... kalo suka beli ya, mumpung diskon 🤐