
Aji begitu senang bisa di sapa Alif. Rasanya benar-benar seperti mimpi, akhirnya Alif mau menyapanya dengan baik-baik meskipun tetap saja memanggilnya om. Tak hanya itu Alif juga tidak menyerangnya atau menagis ketakutan lagi saat bertemu. Benar-benar membuat Aji merasa senang.
Setelah memberanikan diri dan menyiapkan mental untuk di usir atau di permalukan keluarga Nana, Aji memutuskan untuk datang menghampiri Alif ke rumahnya. Aji berharap bisa menemani Alif makan atau sekedar duduk beberapa menit sambil memandangi Alif yang tak pernah bertemu dengannya sejak lahir.
"Alif... Alif... " panggil Aji dari luar.
Pak Janto sama sekali tak bergeming dan tak menghiraukannya sama sekali. Padahal jelas Aji tau kalau pak Janto melihatnya.
"Adek Alif... " panggil Aji lagi sambil meninggikan suaranya.
"Apa? " saut Alif sambil membawa dotnya yang berisi air putih.
"Om bawa ayam tepung sama jajan, mau ga? " tanya Aji sambil menyodorkan bawaannya pada Alif.
Alif hanya mengangguk menerima pemberian Aji. "Trimakasih ya... " jawab Alif sambil tersenyum senang. "Ma, di kasih om aneh... " ucap Alif menunjukkan apa yang ia terima dari Aji.
"Iya... " jawab Nana lalu keluar sambil membawa totebag berisi gepokan uang. "Jangan transfer lagi, aku sudah mau menikah... Aku bisa hidup tanpa bantuanmu... " ucap Nana pada Aji sambil mengerahkan totebagnya.
"Itu buat Alif, kalo kamu ga mau semuanya punya Alif... Biar dia bisa makan enak, pakek baju bagus, beli mainan, beli sepeda, sekolah... " ucap Aji yang jelas tak mau menerima pengembalian uangnya dari Nana.
"Aku mampu hidupin anakku, ga usah di kasihani begini... " Nana tetap kekeh tak mau menerima.
"Mampu gimana? Apa yang di pakai Alif kelihatan layak? Apa makannya cukup? Apa dia punya mainan seperti teman-temannya? Apa itu yang kamu anggap layak dan mampu? " cerca Aji yang membuat Nana diam membisu. "Na, kamu keras kepala sekali sekarang... " Aji menghela nafas.
Jujur Aji sangat merindukan waktu-waktu berdebat dengan Nana, mempermasalahkan hal-hal kecil, membahas pilihan-pilihan ringan. Menatap Nana yang marah dengan segala cara mempertahankan harga dirinya. Gadis kecil polos yang ia rusak itu sudah banyak berproses dan sedikit banyak perubahan. Mungkin masih Nananya dulu atau mungkin Nana yang baru.
"Na... Biarkan aku bertanggungjawab, aku tidak bisa mengembalikanmu menjadi wanita suci yang masih perawan lagi. Tapi biarkan aku setidaknya ada untuk bertanggungjawab atas anak kita.... " Aji mulai memohon. "Tidak apa-apa dia terus memanggilku om Aneh, sekarang atau sampai nanti ia dewasa ingin memanggilku begitu aku tidak masalah... Tapi biarkan aku untuk memenuhi kewajibanku atas Alif... " sambung Aji dengan sedih sambil menatap Alif yang mulai makan tepung dari ayamnya dengan nasi sendiri.
Flashback ~
"Mas ga habisin semua? " tanya Siwi sambil menggendong Alice yang masih bayi dan tengah rewel-rewelnya.
"Tidak, buat adek... " jawab Aji.
"Adek kan belum boleh makan ayam... Mas habisin biar cepat besar ya nak... " ucap Siwi sambil duduk di samping Aji llau menyusui Alice.
"Yaudah adek ngicipin ayamnya dari Mama aja... " putus Aji lalu menyuirkan ayamnya untuk Siwi yang dari tadi sibuk mengurus bayi juga rumah yang tak kunjung kelar.
"Mama juga kurus, ngurusin adek sama rumah juga... Mama makannya juga dikit... " bantah Aji lalu kembali menyuapi mamanya.
"Mas Aji kalo dah selesai makan tidur siang Mas, nanti sore masih aktivitas kan? " ucap eyang dengan nada suara melengking melihat Aji yang malah menyuapi Siwi. "Anak lagi fokus belajar bukannya di support malah manja-manjaan kamu ini... Ga bisa ngerti keadaan ya kamu? Beban emang ya! Benalu! " maki eyang sambil menatap Siwi yang sampai tak enak hati menelan nasi dan ayam yang sudah di mulutnya.
"Mama makanku ga habis... Aku mau ke kamar... " ucap Aji yang sengaja meninggalkan piringnya dengan nasi dan sisa potongan ayamnya sengaja agar mamanya ikut makan.
Eyang langsung menyingkirkan piring sisa makanan Aji, membuang sisa makanannya lalu menaruh piringnya di wastafel. Sementara Siwi hanya bisa memandanginya nasi dan ayam yang di buang mertuanga barusan dengan pandangan miris.
"Ibu sudah makan belum? Mau di ambilkan? Apa mau di buatkan lauk lain? " ucap Siwi menawari mertuanya.
"Dah ga usah cari muka, sebel saya liat kamu... Bisa-bisanya Broto suka... " sinis eyang lalu melenggang kembali ke ruangannya.
Flashback off~
"Mama mau tidak? " tawar Alif pada Nana yang masih tegang dengan Aji. Di bawakannya ayam yang sudah ia makan habis tepung dan kulitnya untuk di bagi dengan Nana.
"Adek ga suka dagingnya? " tanya Aji.
"Aku suka makannya di makan terakhir. Mama mau tidak? " jawab Alif sambil kembali lagi menawari Nana.
"Buat adek aja, di habisin... " ucap Nana sambil mengibaskan tangannya dan tak sengaja menjatuhkan ayam dan nasi dalam box kardus yang di sodorkan Alif padanya.
Potongan paha yang sudah mulus itu menggelinding masuk ke saluran air kecil di depan rumah setelah sempat sejenak tertahan di tanah. Alif berjongkok mengejar potongan ayamnya yang gagal di ambil itu dengan sedih.
"Gapapa, nanti Om beliin lagi yang banyak biar adek bisa makan dagingnya, mama sama bapak juga di kasih ya... Tunggu ya... " hibur Aji pada Alif yang masih berjongkok dengan sedih memandangi ayamnya yang kotor tersiram aliran di saluran air kecil itu.
.
.
.
bantu vote ya guys, votemu semangatku ♥