
Alif hanya diam dengan alis yang berkerut. Kalau sebelumnya masalahnya hanya Aji yang akan pergi meninggalkannya keluar negeri, sekarang bertambah lagi kalau ia harus memberi kado pada Lila.
"Pokoknya Alif harus kasih kado ya! " paksa Lila lalu lanjut pergi dengan sepedanya lagi.
"Bapak... " panggil Alif lalu menunjukkan undangan ulang tahun yang ia terima barusan. "Kata Lila aku harus kasih kado tapi aku tidak tau mau kasih apa... Lila minta kado mahal... Aku tidak punya uang buat kasih... " sambung Alif menceritakan problemnya.
"Kado mahal apa? " tanya pak Janto heran.
"Berbi, baju pinces... Yang warna pink... Aku bingung... " jawab Alif.
Pak Janto tak kalah bingungnya dengan Alif untuk membelikan kado. Terbayang kalau Nana juga perlu menikah dan membayar kuliah. Semua pengeluaran sudah di tekan seminimal mungkin tapi rasanya tetap saja kurang.
"Nanti bapak pikirin ya... " ucap pak Janto pada akhirnya.
Alif akhirnya bisa sedikit lega setelah mendengar ucapan pak Janto. Meskipun Alif sebenarnya tidak akrab dan tidak begitu suka bermain dengan Lila, Alif tetap saja ingin memberikan yang terbaik. Apalagi ini kali keduanya menghadiri acara ulang tahun, setelah yang pertama hanya perayaan di masjid saat TPA. Tapi bila di telusur dan di ingat kembali ini kali pertama Alif di undang secara resmi dengan kartu undangan.
Alif masih saja harap-harap cemas, apalagi ia belum bilang Nana soal ulangtahun Lila. Alif juga sudah menunggu-nunggu Nana pulang untuk membagi bento dan dessertnya. Tapi rasanya Nana juga tak kunjung datang.
Hingga usai solat maghrib Nana masih saja tak terlihat. Alif yang biasanya selesai solat lebih awal tanpa berdoa juga sudah berdoa agar Nana baik-baik saja dan bisa segera pulang.
"Mama kok ga pulang-pulang sih..." keluh Alif yang sudah siap pergi solat isya, setelah lama menunggu tapi Nana tak kunjung datang.
"Nanti datang... " ucap pak Janto menenangkan Alif sambil menggandengnya ke masjid.
"Tapi lama ya... " saut Alif yang khawatir pada Nana. "Aku kangen mama... " sambungnya sambil berjalan beriringan dengan pak Janto.
"Nanti adek berdoa biar mama cepat pulang ya... " ucap pak Janto.
Tapi baru saja pak Janto menutup mulut terlihat Nana dan Arif yang datang dengan motor bebek butut melintasinya begitu saja.
Pak Janto sendiri akhirnya kembali pulang mengikuti Alif yang sudah berlari duluan.
"Pak... " sapa Arif sambil menyalimi pak Janto.
"Kok lama kemana saja? " tanya pak Janto curiga.
"Mogok tadi waktu hujan... " jawab Arif sambil menggaruk telinganya.
"Adek kemasjid dulu sana, solat mama mau mandi! " usir Nana pada Alif.
Alif hanya mengangguk. "Ma, tadi om aneh kasih aku ini enak sekali nanti mama makan ya... " ucap Alif menunjukkan bento dan dessertnya sebelum akhirnya pergi lagi ke masjid bersama pak Janto. "Ustadz ikut solat juga? " tanya Alif yang melihat Arif.
Arif hanya tersenyum canggung sambil mengangguk.
●●●
"Aku mau nemenin Alice, tapi nanti... Aku mau habiskan sebentar waktuku sama Alif... " ucap Aji pada Broto yang memintanya ikut menemani Alice.
Broto hanya menghela nafas mendengar ucapan Aji. Kepalanya terasa mau pecah setiap mengurus keluarganya yang amburadul begini.
"Biar Alice habiskan waktu dulu, di luar Jawa... Biar home schooling... Selesaikan SMA... Biar dia ada aktivitas juga... " ucap Aji memberi saran. "Aku mau sama anakku dulu... " sambung Aji kekeh.
"Bawa aja anakmu... Apa tidak bisa? " saran Broto yang kelewat pusing.
"Tidak mau dia, tidak ada Nana dia tidak mau... " jawab Aji sambil memijit pangkal hidungnya.
Broto hanya geleng-geleng kepala lalu pergi ke kamarnya lagi terlalu ruwet dengan urusan anak ke tiga dan keempatnya.