
Arif tampak sudah rapi ransel bawaanya juga sudah penuh barang bawaan. Rencananya hari ini Arif akan mengajak Nana dan Alif ke tempat berenang, kalau tidak cukup melihat air terjun atau kebun binatang rasanya juga seru, murah dan menyenangkan. Ah teringat satu tempat lagi yang jelas murah dan mungkin hanya perlu bayar tiket untuk orang dewasa saja! Musium! Em... Perpustakaan kota juga seru!
Arif sudah membayangkan kemana ia akan membawa Nana dan Alif pergi hari ini. Arif bahkan sudah bisa membayangkan betapa bahagianya Alif nanti saat bisa bepergian jauh. Tamasya pertamanya juga mungkin.
Brum....!!!
Sebuah motor gede berhenti di depan masjid. Arif sudah deg-degan bila si empunya motor akan menghajarnya seperti beberapa waktu lalu. Arman turun lalu duduk di emperan masjid dekat Arif yang tengah memakai sepatu.
"Ada apa mas? " tanya Arif takut sambil waspada menengok sekeliling.
"Aku sendirian... " jawab Arman selow. "Kamu tau Sarah ternyata memang tidak suka aku. Aku yang terlalu naif memaksakan diri, memaksakan Sarah waktu itu... Maaf ya... " ucap Arman penuh sesal mengingat ia pernah merundung Arif.
"Ah itu, sudah mas ga usah di bahas... " demi Allah, ini hal yang paling Arif tak suka. Membahas wanita dan intrik yang menyertainya, ia tak mau punya urusan lagi.
"Ini... " Arman memberikan dua tiket menonton teater di taman budaya pada Arif lalu pergi tanpa berkata apapun lagi.
"Weh! Ini buat saya mas?! " tanya Arif tak percaya.
Arman hanya mengangguk lalu memakai helem sambil menaiki motornya, sebelum lanjut meninggalkan masjid.
"Makasih mas... " ucap Arif senang dengan wajahnya yang tampak begitu sumringah.
Terbayang di benak Arif betapa bahagianya Alif nanti saat di ajak mengunjungi taman budaya. Arif langsung bergegas dengan motornya ke rumah pak Janto yang tak begitu jauh sebenarnya.
Sesampainya Arif di rumah pak Janto tampak Nana dan Alif tampak rapi menggunakan jaket dan membawa tas kecil. Alif sudah mandi dan bersih kembali, bahkan rambutnya juga sudah klimis rapi selesai keramas.
"Ustadz!! " pekik Alif sambil melompat-lompat senang menyambut Arif.
"Baru mau di ajak pergi udah pada rapi... " ucap Arif lalu turun untuk menyalimi Alif dan menggendongnya.
"Loh ada ustadz... " ucap pak Janto. "Yaudah sekalian minta di anter ustadz aja... " sambung pak Janto.
Nana mengangguk lalu menyalimi pak Janto. "Mas aku mau ke bank, tolong anterin ya... " pinta Nana pada Arif.
Arif langsung naik ke motor di ikuti Alif yang di bonceng di depan. "Aku punya tiket ke teater, nanti kita nonton ya... Di taman budaya... " ucap Arif pada Nana juga Alif.
"Taman budaya itu dimana sih? Jauh tidak? " tanya Alif.
"Lumayan, tapi tempatnya bagus kok, Alif suka nanti... " jawab Arif. "Nanti kita kesana sama-sama... " sambung Arif yang di angguki Alif.
●●●
Aji cukup terkejut begitu sampai di alamat kontrakan yang Alice. Rumah sederhana yang dulu pernah ia tempati bersama Nana dulu. Persis, ya memang itu tempatnya. Meskipun pagarnya sudah di ganti dan beberapa renovasi, Aji tetap saja sangat mengenali bangunan itu.
"Ahaha... Aku pulang Na... " gumam Aji sambil memarkirkan mobilnya.
"Mas... " Alice menyambut Aji.
Alice yang mengenakan daster batik ungu sebatas lutut dengan lengan yang berbentuk seperti renda mengingatkan Aji pada Nana yang selalu menyambutnya. Rambut Alice mungkin lebih pendek dari pada Nana tapi tetap saja tak bisa di pungkiri saat ini seperti Aji sedang menyaksikan Nana.
"Aku bawa ayam kremes, sama rujak... Ada nasi ga kamu? " tanya Aji berusaha tenang dan sadar bila apa yang ia alami bukan mimpi bukan pula de javu.
"Ada... " jawab Alice singkat lalu masuk ke rumah bersama dengan Aji.
Aku tidak bisa menutupi ini terus-terusan, perut Alice bakal besar beberapa minggu lagi, papa, mama, eyang juga pasti tau... Duh... Bagaimana cara bilangnya ini... Batin Aji bingung.