My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
part 21



Ustadz Arif yang melihat sebungkus nasi goreng jatah Alif hanya bisa menghela nafas. Terbayang bagaimana lahapnya Alif saat makan tanpa berceceran. Alif tak pernah pula menyisakan/membuang makanannya.


Kadang saat makanan yang di bagi di rasa enak dan kemasannya bagus, seperti kardus atau styrofoam Alif pasti tidak memakannya dan langsung menyimpan di tas. Alif selalu bilang oleh-oleh buat mamanya. Mungkin karena itu pula ustadz Arif secara tak sengaja menjadikan Alif sebagai murid kesayangannya.


●●●


Setelah adzan maghrib pak Janto sudah mulai berangkat, tapi kali ini sedikit berbeda dari biasanya. Pak Janto tak menjemput Alif atau mengajak Alif. Hingga usai solat juga Alif tak datang menyusul.


"Pak Janto... Ini saya titip tas punya mama Alif... " ucap ustadz Arif yang sudah menunggu dari tadi.


"Oh iya mas, terimakasih... " jawab pak Janto menerima lalu berjalan pulang.


Sebenarnya ustadz Arif ingin mengobrol soal Nana tapi melihat masih banyak jamaah wanita dan suasana yang tidak kondusif, ia memilih untuk mengurungkan niatnya.


Sepertinya aku perlu pulang sebentar... Batin ustadz Arif yang merindukan ibu dan rumahnya.


●●●


Nana mulai sibuk dengan persiapannya ujian masuk perguruan tinggi. Hingga tak banyak yang bisa ia kerjakan di rumah. Hanya jualan es dan cilok saja yang masih ia kerjakan sambil sesekali membantu memotong kain.


Alif masih asik dengan kegiatannya bermain dengan Doni, mendengarkan dongeng, belajar bergitung bersama Doni yang mulai di belikan postrr berhitung dan hewan-hewan. Sesekali Alif bersama Doni bermain di rumah Lila tapi selalu di usir tiap ingin ikut menonton video kartun atau masuk rumah Lila. Alasannya juga tidak jelas baik bagi Alif maupun Doni. Pokoknya mereka berdua tidak boleh bermain dengan Lila.


Nana juga mulai memikirkan sekolah untuk anaknya. Dari mencari brosur soal biaya sekolah sampai mencari tempat yang cocok untuk Alif. Tentu saja om Bram dan tante Yuni membantunya. Bahkan om Bram sudah menawarkan agar Alif sekolah di dekat rumahnya saja.


"Adek mau ikut mama tidak? " tanya Nana yang bersiap ke bank.


"Ke bank... Tapi antri adek mau? " tanya Nana.


Alif langsung diam memikirkan tawaran mamanya. "Nanti beli es ya tapi... " tawarnya yang langsung membuat Nana cemberut. "Hihihi bercanda... " ralat Alif yang langsung mengurungkan niatnya meminta jajan.


Alif tampak rapi dengan kemeja dan celana jeansnya. Nana juga berpakaian sedikit rapi dari biasanya kali ini. Kali ini Nana tidak jalan kaki, ia memilih naik angkutan umum karena tempatnya sedikit lebih jauh.


Sebenarnya Alif tidak suka bepergian dengan angkutan umum dan berdempetan begini. Tapi karena ia jarang pergi jauh Alif tetap senang dan tidak rewel, hanya saja ya tetap cerewet.


Setelah Nana mengambil antrian dan mengisi form untuk menabung ia duduk menunggu antrian bersama Alif. Alif tak secerewet sebelumnya karena fokus menonton acara Nat Geo yang di putar tanpa suara di bank. Sesekali Alif memanggil Nana sambil menunjuk yang di tontonnya lalu kembali diam asik menonton.


"Gemes... " ucap seorang ibu muda sambil mencolek pipi Alif.


Alif langsung menoleh kaget lalu memeluk mamanya. Sementara Nana hanya tersenyum canggung melihat ibu muda yang gemas dengan Alif.


●●●


Antrian kali ini benar-benar panjang dan rasanya lebih lama daripada sebelumnya, Nana sudah deg-degan bila ia telat membayar biaya untuk tes perguruan tingginya. Tapi beruntung Nana membayarkannya tepat waktu dan masih sempat menabung juga. Sampai saat ia beranjak bersama Alif yang di beri air mineral oleh teller bank. Nana berpapasan dengan Aji yang hendak masuk.


Bugh! Alif tak sengaja menabrak Aji hingga menumpahkan minumannya ke celana dan sepatu Aji.


"Aw! Maaf ya... " ucap Alif lalu sedikit mundur dan mengelap sedikit basah di celana dan sepatu Aji.