
Aji yang kembali masuk ke mobilnya hanya bisa diam sambil menyandarkan kepalanya ke stir mobilnya. Wulan masih mengejarnya lalu mengetuk-ngetuk kaca mobilnya berusaha mengajak Aji bicara. Sampai akhirnya Aji menurunkan kaca mobilnya untuk mendengarkan Wulan dengan segala penjelasannya.
"Mas, ini bisa ku jelaskan... " ucap Wulan.
"Bukannya sudah jelas? Apa lagi yang harus ku dengar? " tanya Aji kesal dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Wulan hanya menggeleng lalu mengusap wajahnya dan mulai menangis. "Ini ga kayak yang ada di pikiranmu! " ucap Wulan sambil berteriak histeris.
"Masuk, jelaskan di dalam! " perintah Aji lalu turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke rumah.
Masih tampak Hari yang duduk di sofa dengan wajah tertunduk malu dan menyesal.
"Jelaskan... " ucap Aji pelan lalu duduk menatap Wulan dan Hari dengan jijik.
"Aku kayak gini gara-gara aku ga puas sama kamu! Kamu ga cukup menyayangi aku! Kamu hanya beban bagiku... Jadi aku mencari kesenangan lain!" ucap Wulan yang langsung menjelaskan dengan penuh emosi sementara Hari hanya diam dengan wajah tertunduk.
"Kamu ini sudah salah masih bisa mencari pembenaran? Sudah jelas kamu ini selingkuh masih juga kamu salahkan aku? Bukankah dari awal kamu yang memintaku untuk tetap mendampingimu saja? Bukankah kamu yang minta aku agar tidak terjun ke dunia politik demi menghindari anggapan dinasti politik? " balas Aji tak mau kalah.
"Sebenarnya ini salah saya tuan, saya sudah tau nyonya ini punya suami dan keduanya jelas saya kenal baik tapi saya tetap nekat... " ucap Hari yang tak mau membiarkan Wulan tersudut sendiri.
"Kalian ini sudah gila. Kamu tak punya malu, tak tau diri, tambah-tambah lagi kamu Wulan! Beruntung aku tak punya anak darimu! " ucap Aji kesal sambil menatap Hari lalu Wulan.
"Sudah cukup jelaskan saja di pengadilan... " putus Aji lalu berjalan keluar mengabaikan Wulan yang mengejarnya.
●●●
Foto dan pesan yang di kirim Aji pada ibunya langsung membuat geger seisi rumah. Keluarga Wulan yang awalnya menekan keluarga Aji atas segala tindakan Aji dan tuntutan perceraian yang di layangkan Wulan, langsung di kirimi bukti perselingkuhan barusan.
Eyang dan Broto juga tak khawatir atau merasa rugi lagi bila sampai Aji dan Wulan cerai. Toh sekarang mereka sudah punya senjata. Bila Wulan tetap menuntut cerai dengan tuntutan yang sama maka ia yang akan tersingkir dari gelanggang politik yang sudah di masukinya. Namanya juga nama keluarganya akan jadi bahan olok-olokan. Tapi bila bertahan Wulan juga akan merasakan tekanan batin yang lebih parah lagi dari sebelumnya.
Ah tapi kondisi psikis Wulan juga tak penting bagi keluarga Aji. Jangankan Wulan kondisi psikis Siwi dan Aji saja tak penting lagi. Mencapai puncak hanya itu yang terpenting bagi kedua belah keluarga.
Siwi melihat suami dan mertuanya yang tampak sangat senang dengan kabar perselingkuhan Wulan, bahkan mertuanya juga mulai membela Aji sekarang karena sempat menampar wanita seperti Wulan. Tak hanya itu suaminya juga tak lagi menyudutkan Aji lagi, bahkan memuji Siwi karena mendidik Aji dengan baik setelah sempat meluapkan amarahnya seperti biasanya.
Apa Aji baik-baik saja? Apa aku harus bertahan? Sampai kapan aku harus kayak gini? Batin Siwi penuh tanya dan kekhawatiran saat di peluk suaminya.
"Emang aku ga salah milih kamu jadi istriku, ibunya anak-anak! Aku ga tau harus gimana kalo istriku bukan kamu... " ucap Broto memuji Siwi.
Iya aku harus bertahan demi cintaku, demi anak-anakku, demi keluargaku... Batin Siwi lalu tersenyum dan memejamkan mata saat suaminya mengecup keningnya.