
Alif duduk manis menunggu Broto pulang, eyang juga ikut duduk bersamanya di ruang tamu. Alif yang semula asik mewarnai mengurungkan niatnya dan menatap eyang yang duduk dengan angkuh menatapnya.
"Apa? " tanya Alif lalu meletakkan crayonnya.
"Kamu ngapain di sini? " tanya eyang sinis.
"Kamu juga ngapain di sini? " tanya Alif kalem.
"Ini rumahnya anakku aku mau kesini hakku... "
"Ini rumah omaku aku mau kesini gapapa... "
Eyang mengangkat alisnya sebelah. Boleh juga kamu... Batin eyang yang terus di jawapi alif.
"Aku dari tadi diam di sini mewarnai, eyang sisini gapapa aku suka di temani... " ucap alif lalu lanjut mewarnai.
Siwi yang menyemak pembicaraan eyang dan Alif hanya tersenyum geli. Baru kali ini ada yang membalas tiap ucapan eyang dengan tanpa rasa bersalah selain alice.
"Aku gak suka kamu di sini! " sentak eyang.
"Oke... " jawab alif yang sudah biasa di usir-usir dan langsung pindah kedepan TV membawa barang-barangnya.
Eyang hanya memperhatikan Alif yang langsung pindah. Perasaannya sedikit bersalah apalagi alif tak berbuat salah dan tak melakukan perlawanan. Pelan-pelan eyang ikut pindah ke tempat alif.
Alif yang sadar eyang pindah mengikutinya langsung mengemasi barang-barangnya lagi dan kembali keruang tamu. Eyang kembali mengikutinya dan menatapnya dengan angkuh.
"Hmm... Eyang mau mewarnai juga? " tawar alif.
Eyang hanya memalingkan wajahnya dengan angkuh.
"Oh eyang tidak bisa mewarnai... " ucap Alif.
"Bisa! " sentak eyang.
"Mana? " tanya alif yang terdengar seperti tantangan di telinga eyang.
Eyang menatap kanan dan kiri memastikan tak ada yang melihatnya akan duduk di bawah bersama alif. Setelah yakin aman eyang ikut duduk sambil mewarnai bersama alif. Eyang jadi asik mengajari alif soal gradasi warna. Eyang tampak lebih keibuan dari biasanya.
"Ini... " siwi meletakkan sepiring kentang goreng yang di taburi garam halus.
"Terimakasih ya... " ucap Alif.
Siwi langsung pergi kembali kedapur. Perasaannya sungguh berbunga-bunga melihat mertuanya mau menerima cucunya.
"Ehmm... " deham eyang salah tingkah. "Aku cuma ajarin sedikit... " eyang langsung bangkit dari duduknya.
"Ibu mau di bikinkan apa? " tanya siwi seolah tak tau apa-apa.
Eyang hanya diam lalu pergi ke kamarnya. Alif langsung mengemasi barang-barangnya dan mengikuti eyang ke kamar.
"Ayo mewarnai lagi... " ajak Alif.
"Alif ngapain sama ibu? " tanya broto yang baru saja sampai dan melihat Alif yang asik mengganggu ibunya.
"Biasa anak-anak... " jawab siwi suringah.
Broto hanya ikut tersenyum lalu mengecup kening istrinya. "Aji kapan kesini? " tanya Broto sambil melepas dasinya.
"Katanya perjalanan... " jawab Siwi sambil menunjukkan wa terakhirnya dengan Nana.
●●●
"Kenapa bikin carbonara? " tanya Aji sambil memeluk Nana dari belakang saat menyiapkan carbonara ke box makanan.
"Mama yang minta... " jawab Nana sambil terus menyiapkan barang bawaannya.
Aji hanya mengangguk lalu memper erat pelukannya pada pinggang Nana lalu mengecup bahunya.
"Na... Aku mau tanya, aku penasaran ini sejak kita nikah... " ucap Aji serius.
"Apa mas? " tanya Nana sambil menutup box makanannya lalu mengelap tangannya.
"Em... Waktu kita ML lagi... Kenapa rasanya masih sama? Apa kamu sama Arif ga pernah... Ya... ML gitu... " tanya Aji malu-malu.
Nana langsung tersenyum dan menahan tawanya. "Ya ML... Tapi em... Punya mas Arif kecil... Pendek... " jawab Nana polos yang membuat Aji tertawa terbahak-bahak.
"Hus! " ucap nana berusaha menghentikan tawa Aji.
"Berarti tetep mantep punyaku dong na? " tanya Aji bangga.
Nana hanya mengangguk pelan yang rasanya sudah sangat cukup membuat Aji merasa menang banyak.
🙈
"Ah masa sih Na sepayah itu? " tanya Aji tak percaya dan senang bukan main. Bahkan setelah beberapa tahun berlalu ia tetap yang menjadi pemenang performa terbaik bagi Nana.
"Ih mas di bahas mulu... " kesal Nana yang jadi salah tingkah.
"Tapi emang Bagus punyaku sih, jadi inget waktu ngegrebek kemarin... " ucap Aji yang masih saja belum puas membahas soal Arif. "Emang kamu bisa puas Na? " tanya Aji sekali lagi yang langsung di pelototi Nana.
"Aku mau ganti baju terus kita jemput Alif... " kesal Nana yang membuat tawa Aji pecah. Tapi belum lama ia tertawa, pikiran Aji langsung bertraveling. Kalo Nana masih malu-malu bahas Arif apa dia masih ada rasa, kalo sekarang seleranya Nana yang pendek kecil gimana.... Batin Aji panik yang langsung menyusul Nana di kamar.
Nana yang baru saja melepas dasternya langsung di bopong aji ke tempat tidur. Aji langsung ******* bibir Nana dengan buas tanpa memberi kesempatan untuk nana menolak.
"Aku cemburu... " bisik Aji singkat sebelum akhirnya tak bisa menahan diri untuk tidak bercinta dengan Nana.
Nana hanya pasrah di bawah Aji menerima tiap hentakan yang menggetarkan badannya. Rusak sudah ****** ********. Rusak pula bra yang ia kenakan karena Aji tak bisa menahan diri. Aji terasa lebih buas sejak resmi menikahi Nana meskipun dengan cara yang sederhana. Hanya sebatas ijab sah di KUA dan syukuran kecil.
"Mas pelan-pelan... " rengek Nana.
"Keluarin aja... " bisik Aji yang paham bila Nana mencapai puncaknya.
"Enghh... " Nana meremas rambut Aji kuat-kuat, sementara Aji langsung membungkam mulut Nana tak selang lama Aji mengeluarkan benih cintanya di dalam.
Nana hanya tersenyum sambil mengangguk pelan. "Masih cemburu? " tanya Nana pelan sambil merapikan rambut Aji.
Aji hanya mengangguk lalu kembali membenamkan diri dalam dekapan Nana. "Alif biar nginep aja... Aku masih mau manja sama kamu na... " rengek Aji yang jelas tak di setujui Nana.
"No! Jemput sekarang... "
●●●
Setelah mandi besar, Nana datang dengan mengenakan daster. Bukan karena ia tak sopan saat bertamu atau tak bisa menempatkan diri. Tapi Aji berkeras agar Nana memakai daster saja.
"Mama! " sambut Alif yang langsung memeluk Nana.
"Adek! " jawab Nana lalu menggendong Alif. "Tadi adek jadi anak baik nggak? " tanya Nana.
"Aku baik, tadi aku wawarnain sama eyang... " jawab Alif lalu turun dan menunjukkan hasil mewarnainya.
"Nanti nginep gak Na? " tanya Siwi.
"Enggak dulu ma. Besok Alif sekolah... " jawab Nana.
Aji langsung duduk di meja makan setelah membukakan carbonara buatan istrinya.
♥
"Alif makan dulu nak... " ajak Aji yang sudah tak sabar untuk pulang, menidurkan Alif dan kembali bermanja-manja dengan Nana.
Alif langsung ikut duduk bersama. Alif juga dengan senang dan bangga memimpin doa mau makan. Alif makan dengan lahap seperti biasanya. Alif yang tidak pilih-pilih makanan juga membuat broto dan eyang senang melihatnya. Beberapa kali broto menyikut istrinya agar menambahkan lauk pada piring Alif.
Usai makan dan solat berjamaah, Alif malah enggan di ajak pulang karena terlalu senang bisa mewarnai bersama eyang. Aji jadi uring-uringan karena harus menahan diri dan masih harus membujuk anaknya untuk pulang padahal besok ia sudah harus keluar negeri untuk menjemput Alice pulang.
"Yaudah nginep aja dulu gapapa... " bisik Nana yang masih duduk di ruang makan sambil memakan carbonara buatannya bersama Siwi.
Aji langsung memeluk Nana dari samping dengan manja. "Besok kan aku jemput alice... " rengek Aji.
"Yaudah gapapa... " jawab Nana santai lalu menyuapi Aji.
Siwi hanya tersenyum melihat kemanjaan Aji pada Nana setelah sebelumnya saat masih bersama Wulan terasa begitu kaku dan formal. Nana yang merasa malu di lihat mertuanya saat Aji terus menempel padanya langsung menyikut Aji.
"Apa gak mau di rayakan nikahanmu kemarin? Belum bulan madu juga kan? " tanya Siwi pada Aji dan Nana.
"Iya Na. Kamu ga mau kita bikin resepsi gitu? Kalo cuma sah KUA kok rasanya terlalu sederhana... " ucap Aji menimpali ucapan ibunya.
"Gapapa gausah, udah banyak yang tau juga... " jawab Nana sambil memutar-mutar cincin kawinnya.
"Cuma cincin doang aku modalnya masak nikah sama kamu... " ucap Aji heran lalu mengecup pipi Nana.
Nana hanya tersenyum lalu menundukkan pandangannya. "Ya gapapa sekarang kan sama ngurusin Alif juga... " jawab Nana.
"Na... Alif tu anakku ngurusin Alif tu udah kewajiban. Bukan sesuatu yang istimewa lagi itu... " jawab Aji lalu bangkit dari duduknya untuk mencari Alif yang masih saja mengajak eyang untuk mewarnai.
Siwi hanya tersenyum paham dengan kondisi Nana yang tak banyak menuntut. Toh dulu ia saat menikah juga tak banyak tuntutan. Kurang lebih juga sama seperti Nana saat ini.
"Kenapa? " tanya Broto yang melihat istrinya memperhatikan cincin kawinnya.
Siwi hanya menggeleng. "Mau di bikinin apa mas? " tanya Siwi siap melayani suaminya.
"Aku pengen buah... " jawab Broto lalu kembali mengikuti Aji dan Alif di kamar eyang.
●●●
"Ayo wawarnai lagi... " ajak Alif. "Kan wawarnanya belum selesai... " rengeknya yang ke sekian kali pada eyang.
"Adek, nak... Besok kan sekolah sudah kerjakan pr belum? " tanya Aji sekaligus agar Alif mau di ajak pulang.
"Sudah aku sudah kerjakan... Sudah babaca juga... " jawab Alif lalu berlari keluar untuk mengambil tasnya menunjukkan prnya.
Aji dan broto mengikuti alif keluar. Broto sudah berusaha menahan diri untuk tidak mengajak alif bermain mobil dulu karena terus berada di sekitar Aji.
"Adek kan besok sekolah, kita pulang dulu yuk. Besok kesini lagi habis sekolah... " bujuk Aji sambil mengecek pr alif.
"Aku menginap di sini besok sekolah bareng opa, pulangnya sama oma. Om papa pulang aja sama mama... " jawab Alif.
"Mama kangen adek... " bujuk Aji. "Besok papa mau keluar negara juga loh... " ucap Aji.
"Yaudah semuanya nginap di sini aja. Mama sama aku di sini besok om papa ke luar negara tidak papa... " putus Alif yang tanpa sadar di angguki broto.
Aji langsung cemberut. Alif ikut cemberut.
"Yaudah ayo pulang... " alif mengalah dengan sedih sambil memasukkan barang-barangnya.
"Ya kan besok masih kesini. Papa keluar negara jemput tantemu doang, adek nanti sama mama kesini pagi-pagi... " ucap aji yang merasa bersalah saat Alif mengalah.
"Iya iya... " jawab Alif singkat.
"Besok kesini lagi beneran... " ucap Aji lagi meyakinkan Alif.
"Iya aku dah tau... " jawab Alif lalu menggendong tasnya dan berjalan menemui mamanya. "Ayo pulang... " ajak Alif.
"Eh kok pulang, oma punya buah sukaannya adek loh... " ucap Siwi memamerkan melon yang baru saja ia potong-potong.
"Om papaku ajak pulang... " jawab Alif sedih.
"Yaudah papa sama mama aja yang pulang adek menginap. Besok kan sekolahnya sama opa, pulangnya di jemput oma..." bujuk Siwi. "Nanti bobo sama oma, sama opa kayak kemarin... " rayu Siwi.
Alif menatap mamanya meminta izin.
"Yaudah mama nginep juga... " ucap Nana mengalah.
Jatahku berkurang... Batin Aji mendengar keputusan Nana.
Yes alif nginep! Batin broto senang.