My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
Part 109 #2 [Revisi Ending]



Nana terbangun dengan keringat dingin yang sudah bercucuran di keningnya. Di lihatnya Alif sedang mandi bersama Arif. Nana menghela nafas lega melihat putranya yang masih baik-baik saja.


"Mama! " pekik Alif berjalan menghampiri Nana dengan handuk yang melilit tubuhnya.


"Adek... " Nana memeluk erat putranya lalu memakaikan baju dan menyisir rambutnya agar rapi.


"Nanti kalo om anehku kesini aku mau main sama om aneh... " ucap Alif.


Nana mengangguk. "Mama tadi mimpi seram sekali. Mana takut adek kenapa-napa... " ucap Nana menceritakan apa yang barusan ia alami.


"Aku tadi subuh terus mengaji terus aku menonton TV terus aku mandi... " ucap Alif menceritakan aktivitas paginya saat Nana masih terlelap.


"Adek sama mama terus ya... Jangan pergi-pergi... " pesan Nana lalu memeluk Alif dan mengecup keningnya.


"Iya iya... " jawab Alif ceria lalu duduk sambil menonton kartun pagi.


"Kamu mimpi apa dek? " tanya Arif pada Nana yang masih diam menatap Alif.


Nana hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menghela nafas. "Mas jujur kan ke aku? Ga ada yang di tutupin? " tanya Nana.


Arif menggeleng sambil tersenyum lembut. "Aku ga sembunyikan apapun... " ucap Arif meyakinkan Nana.


Nana menatap Arif tak yakin tapi tetap ia mengangguk dan tersenyum seolah yakin dengan ucapan Arif.


"Kamu abis keluar sama mas Aji jadi ga percayaan sama aku... Dek, kamu ga usah khawatir, aku ini ga kayak mas Aji... " ucap Arif menenangkan Nana dan berusaha merebut rasa percaya Nana yang mulai memudar.


"Aku mau mandi... " ucap Nana lalu pergi ke kamar mandi enggan berlama-lama dengan suaminya yang membuatnya ragu.


●●●


Alif bermain di depan rumah dengan truk mainannya dan gundukan pasir sisa membenarkan pagar. Alif menunggu datangnya Aji. Alif tak berminat juga untuk pergi bergabung bermain bersama teman-temannya yang lain.


"Alif! " teriak Aji semangat memanggil Alif sambil memarkirkan mobilnya.


"Om anehku! " pekik Alif senang.


"Ayo pergi ke kebun binatang! Om dah beli tiketnya! " ajak Aji senang.


Alif menatap mamanya mendengar ajakan Aji.


"Gapapa, mama juga ikut... " ucap Nana sambil memberanikan dirinya untuk bertanya pada Aji seputar uang transferannya.


"Mamaku mau ikut juga tiketnya masih tidak? " tanya Alif.


"Ada, om punya banyak... " jawab Aji senang.


Aji menatap Arif dengan pandangan senang penuh rasa kemenangan bisa membawa Alif dan Nana pergi bersamanya.


"Nana sama Alif itu punyaku... Jadi cepat kembalikan! " bisik Aji yang menyalimi Arif. "Aku pergi dulu ya, dada! " pamit Aji ramah dan ceria.


"Dada Ayah! " pekik Alif sambil melambaikan tangannya dengan sangat ceria.


●●●


Aji mengajak Alif dan Nana berkeliling kebun binatang dengan santai dan menyenangkan. Alif juga di ajak naik beberapa hewan di sana seperti kuda, unta dan gajah di dampingi Aji. Usai puas berkeliling Aji mengajak Alif untuk makan siang di food court dekat kebun binatang. Nana memilih makan timlo begitu pula dengan Aji yang ingin sama dengan Nana, sementara Alif memakan nasi ayam kriuk.


Usai makan Aji mengajak Alif kembali bermain, kali ini Alif di sibukkan untuk bermain di wahana mandi bola sementara Nana dan Aji terus mengawasinya.


"Aku seneng kita bisa keluar sama-sama gini... " ucap Aji memulai pembicaraan dengan Nana.


Nana hanya menundukkan pandangannya. Terlalu bimbang pada perasaannya. Ingin mengiyani rasa senang Aji yang sebenarnya juga ia rasakan, tapi ia punya suami. Ingin menjawab tidak tapi sungguh ini yang ia inginkan sejak dulu.


"Sejak aku keluar negeri aku rutin transfer bulanan buat kamu sama Alif, aku juga transfer uang buat sekolah Alif sendiri... Kalo Alif sakit aku juga transfer lagi. Ku kira hidupmu sama Alif ga bakal susah lagi... " ucap Aji memulai ceritanya yang sudah tak peduli lagi dengan nantinya nasip rumah tangga Nana bagaimana setelah ia buka suara.


"Mas transfer berapa? " tanya Nana.


"Bulanan aku transfer 6 juta, buat sekolah aku kasih 4 juta, kalo alif sakit aku kasih 2 jutaan. Aku kirim ke suamimu... " jawab Aji lalu membuka ponselnya menunjukkan bukti-bukti transaksinya.


Nana membelalakkan mata tak percaya melihat begitu banyak nominal yang di kirim Aji untuknya dan Alif tapi tak satupun yang ia rasakan. Nana merasa di khianati. Bukan karena jumlah nominalnya, tapi lebih karena ketidak jujuran Arif padanya. Belum lagi sekarang ada tanda tanya besar soal kemana habisnya uang-uang pemberian dari Aji selama ini.


"Aku gak tau kalo mas rutin ngasih aku sama Alif uang... " ucap Nana dengan suara bergetar.


"Arif bilang ga usah kasih tau kamu biar kamu ga marah. Dia juga yang mengajukan diri buat jadi perantara antara aku sama anakku... Jadi ya aku setuju... " ucap Aji yang makin mengompori emosi Nana.


"Astaghfirullah hal adzim.... Terus sekarang di kemanain uang-uang nya kalo aku sama Alif makan seadanya tiap hari? " kesal Nana.


"Katanya mau buat bangun rumah... " Aji kembali mengompori.


"Ga ada mas! Ga ada kayak gitu. Aku cuma di kasih uang bulanan 500 ribu. Itu juga buat kuliahku di bantu om tante, alif juga ga bisa2 sekolah... " jawab Nana yang sudah marah.


Aji hanya bisa geleng-geleng kepala, ia tak menyangka seorang yang di anggap suci malah menilap uang yang bukan haknya. Bahkan sampai rela menggadaikan masa depan anak sambungnya sendiri. Bila tadi aji berniat mengompori nana rasanya sekarang ia sendiri yang panas karena ulah Arif.


.


.


.


karena banyak yg komplain kita balik lagi di sini 🙏 makasih sudah menunggu 💕