My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
Part 54



"Hiduplah dengaku! " potong Joe sebelum Alice menyelesaikan alasan atas keraguannya. "Alice, hiduplah denganku... Hanya ada kita, tidak ada yang melarangmu ini dan itu, tidak ada yang membatasimu, kamu bisa lakukan apa yang kamu mau... " sambung Joe sambil menatap Alice.


"Joe... " Alice kehabisan kata-kata.


"Tidak apa-apa... Aku paham... " ucap Joe lalu melepaskan gandengannya dengan Alice begitu sampai di atas dan langsung melangkah menjauhi Alice.


Alice hanya bisa menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia tak mau berpisah dengan Joe, tidak. Tidak dengan cara seperti ini. Bahkan bila memang harus berpisah, Alice tetap tidak mau jauh dari Joe.


Perasaan Alice berkecamuk, ingin bertahan dengan Joe tapi ada harapan keluarga atas karirnya, ingin hidup bersama Joe dan meninggalkan rumah tapi ada ibunya yang akan jadi sasaran kemarahan ayahnya, ingin bernafas bebas tapi begitu banyak tuntutan yang harus di penuhi. Alice tak mau mengecewakan keluarganya, cukup melihat Aji yang membuat semua berantakan. Alice tak mau jadi sepertinya.


Tapi ketika Alice menilik kembali bagaimana ia di perlakukan hanya seperti boneka, mainan, cadangan, sebagai pelengkap, aksesori yang di perkan bagi keluarganya Alice merasa muak dan bosan dengan semua perlakuan dalam keluarganya.


Bukan hanya karena hidupnya yang terkekang dan merasa penuh ancaman, tapi tiap yang dilakukanpun selalu di dikte. Tak punya mimpi, keinginan, hobi, atau cita-cita yang muncul dari dirinya sendiri. Semua berdasarkan perintah dari eyangnya, mengadu pada orang tuanya juga tak membuahkan hasil apapun. Menangis pada ibunya juga hanya menambah beban pikiran dan penderitaan.


"Joe! " teriak Alice memanggil Joe dari atas.


Joe hanya berhenti sambil menoleh ke arahnya.


"Aku akan mengikutimu! " teriak Alice lalu turun ke bawah, melewati eskalator dengan terburu-buru, lalu berlari ke arah Joe.


Joe tersenyum sumringah melihat Alice yang mengejarnya dengan sungguh-sungguh begini, di lebarkan kedua tangannya untuk menangkap tubuh Alice dan membawanya masuk dalam pelukannya. "Ayo hidup denganku... " bisik Joe.


●●●


Nana melihat foto seorang gadis yang di bawa Arif. Hatinya langsung remuk. Bukan karena cemburu tapi saat Arif cerita bila gadis itu akan di jodohkan dengannya. Ditambah lagi gadis itu di pilihkan oleh gurunya langsung.


"Aku akan tetap menikahimu Na... " ucap Arif.


Nana menggeleng lalu tersenyum lembut. "Jangan terburu-buru Mas, kamu pikirkan saja dulu matang-matang... Pikirkan perasaanmu, pandangan masyarakat, sanksi sosial yang harusnya ga kamu tanggung juga... "


"Stop! Na, cukup... " potong Arif.


"Tidak, aku serius. Pikirkan dirimu terlebih dahulu sebelum menikahiku secara yakin... " sela Nana. "Pergilah mengabdi lagi... Sambil merenungkan semuanya dan keputusan yang akan kamu tempuh nantinya... Kita... Kita tempuh bersama nantinya... " sambung Nana.


Arif hanya diam dan mengangguk pelan. Arif takut bila mendesak Nana atau membantahnya lagi hanya akan membuat Nana tertekan nantinya. Arif melihat keraguan pada Nana atas keseriusannya, tapi Arif berusaha tetap mengerti dan memahaminya. Wanita mana yang bisa tak trauma dan langsung yakin setelah di jejali janji-janji manis, di hamili, dan di tinggalkan sendiri begini.


Arif berusaha memahami keraguan dalam hati Nana. Berusaha memberinya waktu untuk berfikir dan meyakinkan dirinya bahwa semua laki-laki belum tentu sebejat mantannya. Arif juga perlu menunjukkan loyalitas dan membuktikan kalau ia pantas mendampingi Nana dalam membesarkan Alif.


"Kalau begitu aku akan membuktikan kalau aku tetap yakin padamu Na... Tetap teguh pada pendirianku untuk menikahimu... " ucap Arif sambil menatap Nana serius.