
"Aku mau nikah... Sama Nana... " ucap Arif pada Zulia sambil menunggu waktu solat isya.
"Nana? " tanya Zulia terkejut tak menyangka Arif akan menikah secepat itu.
Arif hanya mengangguk lalu tersenyum canggung. "Akhirnya Nana nerima lamaranku setelah lama banget nunggu jawabannya..." ucap Arif berusaha acuh pada reaksi Zulia.
Zulia ikut tersenyum mendengar cerita Arif. Bila di minta jujur mungkin Zulia akan menangis sejadi-jadinya sekarang. Arif yang akan ia kenalkan pada orang tuanya, Arif yang sudah lama menemaninya bahkan membuatnya nyaman hingga memiki mimpi untuk menikah dan hidup bersama, kini malah akan menikahi wanita lain. "Nana anak kyai mana? Dari pondok mana? " tanya Zulia berusaha tenang.
Arif menggeleng. "Nana orang biasa, bapaknya penjahit, bukan santriwati, sudah punya anak, tapi ga ada suaminya... Anaknya dulu muridku, aku jadi kenal Nana... " Arif mulai bercerita panjang lebar soal Nana dan proses pertemuannya dulu dengan hal-hal menyenangkan yang terus di sebutkannya.
Zulia hanya diam mendengar tiap cerita Arif yang terasa sangat menyesakkan. "Kamu ga pernah cerita apa-apa soal Nana... " ucap Zulia sambil tersenyum canggung.
Gapapa... Tenang... Kuasai... Aku wanita baik... Aku tidak boleh menangis... Aku ga boleh merebut Arif dari wanitanya... Aku ga boleh merebut kebahagiaan wanita lain... Batin Zulia menguatkan hatinya yang patah.
"Aku bilang, kamu yang mungkin kurang ngeh... Aku sering bilang, Nana masak buat aku, aku mau pergi ke tempat Nana, aku kencan sama dia... " ucap Arif lembut.
Zulia hanya mengangguk sambil menundukkan pandangan. Matanya tertuju pada cemilan kiloan yang di suguhkan Arif padanya.
"Itu kemarin mau buat Nana, tapi Alif ga suka... Pedas... " lanjut Arif yang melihat krupuk pedas kiloan berbentuk bulat pipih di plastik.
"Alif? " tanya Zulia bingung.
"Anaknya Nana... " jawab Arif singkat.
Zulia hanya diam sambil menatap Arif sejenak lalu bangkit dan berjalan ke tempat wudhu. Di ambilnya wudhu lalu kembali duduk bersama Arif.
Seperti apa si Nana itu? Apa lebih cantik dari aku? Sesexy apa ? Kenapa bisa aku kalah... Batin Zulia yang bingung akan perasaannya dan penasaran dengan Nana.
●●●
Alice juga lemas bahkan untuk sekedar bangun dari duduk saja tak kuat. Jadilah Aji yang mengurusnya. Belum lagi mood Alice yang berubah-ubah. Makin membuat Aji pusing menghadapinya.
"Kamu tau ga, sekarang aku baru bisa ngebayangin gimana di posisi Nana saat ini... " ucap Aji yang datang sambil membawa pempek yang masih di bungkus dalam plastik bening di tenteng dengan kresek bergaris hitam putih.
Alice hanya diam menatap Aji, terlalu lemas untuk berkomentar.
"Dulu Nana ngidam apa? Makan sehat engga? Ada yang dampingi enggak? Muntah-muntah sama ngidam enggak? " ucap Aji melanjutkan ceritanya. "Aku ga bisa bayangin seberapa memderitanya Nana dulu, sampe sekarang... Hamil, melahirkan, menyusui, mendidik, membesarkan anak..." sambung Aji lalu duduk di lantai dekat Alice yang tiduran di sofa.
"Di hujat, di marahi... Jangan lupa... Dapet stempel cewek murah... " ucap Alice pelan sambil tersenyum.
Aji hanya menganggukkan kepalanya pelan setuju dengan Alice, mungkin luka fisik bisa sembuh bisa pulih. Tapi stempel masyarakat dan sanksi sosial? Apa mudah hilang? Bahkan atas kesalahan yang ia perbuat dengan Nana juga berimbas pada Alif yang sama sekali tidak tahu apapun.
"Kenapa gitu ya? " tanya Alice sambil mulai mengunyah sepotong pempeknya..
"Apanya? "
"Ya gitu... Aku hamil ga sendiri, ga tiba-tiba. I mean aku ga hamil gara-gara ada orang bodoh onani di kolam renang terus spermanya nyasar masuk ke aku... Aku juga bukan jenis amuba yang membelah diri buat berkembang biak... " Aji tersenyum geli mendengar adiknya yang mulai tersulut emosi. "Aku hamil, Nana hamil. Itu pasti ada p-*** nakal yang ngehamilin. Ga mungkin enggak. Jelas ada partnernya, ada cowoknya. Kenapa kesannya cewek doang yang salah? Kenapa cuma cewek yang di marahi tidak bisa jaga diri dan sebagainya? Kenapa bukan cowoknya? Maksudku kayak yaudah kita sama-sama di salahin... " sambung Alice lalu mulai melanjutkan makanya.
"Ya kan bisa di aborsi..." celetuk Aji. "Lagian masih embrio, mumpung belum jadi janin... " sambung Aji yang masih saja ingin jalan pintas.
"Kalo aborsi apa ada jaminan aman? Fisikku? Mental ku? Kalo kamu liat anakmu dari Nana apa kamu tega bunuh anak kayak dia? Macan yang buas saja ga memakan anaknya, kalo kamu mikir gitu mungkin kamu setan mas. Sama kayak eyang... " jawab Alice.
Aji hanya diam lalu memandangi wajah Alif dengan mata yang berbinar tampak ceria dalam kekurangannya. Anak yang tak pernah benar-benar di inginkan itu tumbuh dengan baik dan pintar, bisa menjaga ibunya.
Mata Aji mulai berkaca-kaca ketika mengingat Alif dan Nana yang saling menguatkan dan saling menjaga. Bahkan bila Aji ingat Alif yang nyaris selalu berusaha menyerang dan mengusirnya benar-benar membuat Aji merasa berdosa punya niat menghapusnya dan merampas hak hidupnya.
"Lagian yang nentuin bakal bunting kagak kan laki-laki, kalo lakinya ga pakek pengaman nekat keluar di dalem ya gini. Kalo ada pengaman cewek kayak balon itu, kalo cowok ga mau pakek bisa di pakek cewek pasti aku pakek tapi ini ga bisa... " ucap Alice lagi. "Mas pengen ayam kremes... " pinta Alice.