My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
Part 108 #2



Arif tampak sumringah bersama istri barunya, Zulia. Apalagi Zulia tengah mengandung buah cintanya.


Gosip beterbaran di mana-mana. Mulai yang fitnah hingga fakta. Semua tersebar cepat bagai kereta ekspres. Berita seputar Arif dan Zulia begitu di gemari para warga. Mulai dari pernikahannya yang berlangsung setelah 40 harian Alif. Zulia yang hamil duluan. Nana yang di tuduh zina lagi dengan mantan pacarnya. Alif yang di bunuh Arif. Arif melakukan KDRT sampai tuduhan kalau apa yang di timpakan pada Nana adalah suatu azab karena ia seorang pezina.


Tapi semua terdengar samar dan kabur bagai kabar burung seperti umumnya. Arif tetap menjadi ustadz dan seorang pendakwah. Zulia tetap menjalani karirnya. Tak ada yang berubah terlalu drastis.


"Hus! Gak baik gosipin ustadz... Dia ini kan paham agama, orang suci, pandangan aja di jaga, tutur katanya sopan. Mana mungkin kayak gitu... Kalo bikin gosip ngawur! Jangan jelek-jelekin ustadz! Jangan mencoreng nama pemuka agama. Kualat nanti... " bela ibu-ibu yang sudah begitu fanatik pada Arif.


●●●


"Ini buat anakku... " ucap Aji sambil mengantongi sebuah Apel yang di bawakan suster untuknya.


Aji terus menggendong guling sambil berpura-pura kalau guling itu adalah Alif. Beberapa kali Aji menciumi gulingnya seolah sedang menciumi Alif.


"Adek kalo sama papa ga usah khawatir... Ga ada yang jahatin adek... " ucap Aji pada gulingnya.


"Nanti kalo kita pulang, kita main ke waterboom... Main ke mall, naik mobil-mobilan... " ucap Aji terus membayangkan tengah berbincang dengan Alif.


Aji terdiam lalu meletakkan gulingnya setelah meminum obat. Aji terdiam lalu menangis histeris mengingat putranya di bunuh. Terlepas atas unsur apapun itu, yang Aji tau dan percayai putranya di bunuh.


Putranya pergi benar-benar seorang diri. Bahkan batu nisannya pun tak tercantum bin siapa. Alif pergi sendiri, pergi ke keabadiannya seorang diri.


Eyang menatap cucunya dari sela-sela jendela sambil menggenggam permen yang di beri Alif waktu itu. Eyang tak berani menemui Aji. Ia tak kuat di salahkan, di hakimi cucunya yang menyesal tak bisa bertanggung jawab atas kehamilan Nana saat itu.


"Orang sepertiku tak pantas di panggil papa..."


●●●


"Berhentilah memanggilku pembunuh Na... Hidup mati seseorang itu di tangan Allah... " ucap Arif yang akhirnya menemui Nana yang tinggal bersama om dan tantenya.


Entah apa yang di pikiran Arif. Tapi rasanya ia hanya menumpahkan garam di atas luka. Ia tak mengakui kesalahannya, di pamerkan pula istri barunya pada Nana. Arif juga seolah tak sudi berlama-lama bersama Nana yang diam dalam keterpurukannya.


Dalam gelap malam, di iringi rintik hujan. Nana berjalan dengan pakaian terbaiknya tanpa arah, tanpa tujuan, jelas tanpa pamit pula.


Di nikmatinya tiap tetes air yang membasahi tubuhnya. Nana terus berjalan hingga berhenti di tengah rel kereta, di bukanya lolipop yang ia simpan dalam kantung.


Srassssshhh!!!


Kereta itu melaju menabrak Nana yang sudah menunggunya dengan senyum sumringah.


"Alif... Mama datang.... "


Tamat.


Terimakasih semua pihak yang sudah mengilhami saya dalam menulis cerita, terimakasih tiap kasus yang datang dalam keprihatinannya masing-masing. Kisah ini di tulis sebagai pembelajaran untuk kita semua.